TPFG Temukan Aliran Dana Terpidana Narkoba ke Perwira

Tim Pencari Fakta Gabungan saat memberikan pernyataan pers di PTIK Jakarta, 11Agustus 2016 (foto: tempo/Rezki A)

Jakarta, Sumselupdate.com – Tim Pencari Fakta Gabungan (TPFG) menemukan penyalahgunaan wewenang oleh seorang perwira menengah polisi berinisial KPS. Ia diduga memeras terpidana mati kasus narkoba bernama Chandra Halim alias Akiong.

“Soal aliran dana dari Akiong ke seorang pamen (perwira menengah) sedang diusut Propam (Polri). Aliran dananya Rp668 juta. Itu bukan dari Freddy (Budiman),” kata anggota TPFG Effendi Gazali di Jakarta, seperti dilansir antaranews.com. Kamis (15/9).

Tim menemukan aliran dana itu ketika menyelidiki aliran dana dari terpidana mati kasus narkoba Freddy Budiman ke pejabat Polri.

“Saat ini polisi sedang melakukan tindak lanjut dengan langkah pro justicia terhadap oknum KPS karena sudah ada bukti permulaan,” ungkapnya.

Selain menemukan aliran dana Rp668 juta itu, tim juga mengendus adanya aliran dana lainnya dari Akiong ke KPS yang dilakukan secara bertahap dengan besaran Rp25 juta, Rp50 juta, Rp75 juta, Rp700 juta dan Rp1 miliar.

Akiong merupakan terpidana mati kasus narkoba yang kini dipenjara di sebuah lembaga pemasyarakatan di Sumatera Utara.

Sementara itu, TPFG menyatakan tidak menemukan adanya aliran dana dari almarhum Freddy Budiman ke sejumlah pejabat Polri.

“Tim tidak menemukan aliran dana (Freddy Budiman) kepada pejabat tertentu di Mabes Polri,” kata Effendi Gazali.

Hal itu disimpulkan dari pemeriksaan terhadap video testimoni, wawancara sejumlah narasumber, laporan PPATK dan surat yang dibuat Freddy untuk keluarganya.

Pihaknya mengakui bahwa pertemuan Haris dan Freddy pada 9 Juni 2014 di LP Batu Nusakambangan memang terjadi.

“Tim melakukan simulasi ruangan, tempat duduk, suasana diskusi saat itu, dan isi pembicaraan. Keseluruhannya hampir sama dengan apa yang disampaikan Haris,” katanya.

Dalam mengusut dugaan aliran dana dari Freddy ke pejabat Polri, tim mempelajari tiga video yang dibuat oleh Humas Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham, video yang dibuat keluarga Freddy dan sebuah surat yang dibuat almarhum untuk keluarga. Namun, dari hasil pengusutan, hasilnya nihil.

“Tidak ditemukan sama sekali pernyataan mengenai aliran dana,” katanya.

Demikian juga setelah tim mempelajari petunjuk lainnya, yakni pledoi Freddy.

“Baik dari pledoi yang resmi digunakan di pengadilan maupun setelah kami menanyakan ke pengacara (Freddy), menurut mereka tidak ada cerita mengenai aliran dana,” katanya.

Menurutnya, isi pledoi Freddy lebih bersifat permintaan maaf dan penyesalan.

“Petunjuk awal sangat sumir tentang masalah pledoi dan dugaan (aliran) dana Rp90 miliar,” katanya.

Diketahui bahwa TPFG yang dibentuk pada 9 Agustus 2016, beranggotakan 18 orang yang tiga anggotanya berasal dari eksternal Kepolisian yakni Ketua Setara Institute Hendardi, Akademisi Universitas Indonesia Effendi Gazali, anggota Kompolnas Poengky Indarti. Tim ini bertugas di bawah koordinasi Irwasum Komjen Dwi Priyatno.

Tim tersebut dibentuk untuk fokus mencari kebenaran mengenai kesaksian Freddy yang menyampaikan kepada Koordinator Kontras Haris Azhar terkait adanya aliran dana sebesar Rp90 miliar kepada pejabat di Mabes Polri. (shn)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.