Demak, Sumselupdate.com – Dalam upaya meningkatkan potensi ekonomi kreatif di kalangan santri, para dosen seni rupa dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PkM)
PkM yang bertajuk ‘Peningkatan Potensi Ekonomi Kreatif Melalui Penciptaan Seni Kaligrafi’ digelar di Pondok Pesantren (Ponpes) Badruzzaman, Desa Bango, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah.
Puluhan santri antusias mengikuti PkM yang digelar dosen Unnes dalam bentuk pelatihan seni kaligrafi pada Jumat, 27 September 2024.
Selama kegiatan, para santri diajarkan beberapa teknik yang bisa dilakukan dalam menciptakan kaligrafi. Mulai dari teknik grafis, sampai dengan teknik rekatan.
Selain itu, santri juga dibekali pengetahuan tentang bagaimana seni kaligrafi dapat diaplikasikan dalam berbagai media dan produk komersial.
Dalam sambutannya, Ketua Tim PkM UNNES, Dr Eko Haryanto, MDs mengatakan, PkM dalam bentuk pelatihan ini bertujuan untuk memberikan keterampilan seni kaligrafi kepada santri sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi.
Dikatakannya, kaligrafi bukan sekadar tulisan indah saja, melainkan ekspresi artistik yang kaya akan makna budaya dan spiritual.
Dalam konteks industri kreatif, kaligrafi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sehingga dapat menjadi peluang usaha yang berkelanjutan, khususnya di lingkungan pesantren yang kental dengan nilai-nilai keagamaan.
“Pastinya kenapa kita memilih seni kaligrafi karena potensinya yang besar dalam dunia ekonomi kreatif. Di samping itu, kaligrafi memiliki peran penting dalam konteks pendidikan seni dan desain, di mana keterampilan ini diajarkan sebagai bagian dari pengembangan kemampuan visual dan artistik,” ujar Dr Eko Haryanto, MDs.
Dikatakannya, pendidikan kaligrafi melatih ketelitian, kesabaran, dan estetika dalam penciptaan karya seni.
“Di era industri kreatif, pengajaran kaligrafi dapat menjadi modal penting bagi generasi muda untuk memasuki pasar kreatif dengan keahlian yang khas dan bernilai tambah tinggi. Kami berharap para santri dapat mengembangkan keterampilan ini sebagai bekal di masa depan,” jelasnya.
Eko Haryanto berharap melalui kegiatan PkM ini diharapkan mampu membuka peluang bagi santri untuk lebih berdaya dalam bidang ekonomi kreatif, sekaligus menjaga warisan budaya Islam melalui seni kaligrafi.
Antusiasme mengikuti pelatihan seni kaligrafi ini diungkapkan salah satu peserta, Sony Prasetyo. Santri berusia 16 tahun, menyatakan kegembiraannya mengikuti pelatihan ini.
“Saya senang sekali bisa belajar kaligrafi secara langsung dari para dosen. Ini akan sangat bermanfaat, terutama jika ingin membuka usaha di masa depan,” ujarnya.
Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari pimpinan Ponpes Badruzzaman, Kiai Maskur.
Beliau menyatakan pengenalan keterampilan kaligrafi kepada santri sangat sejalan dengan visi pesantren dalam memadukan ilmu agama dan keterampilan praktis untuk masa depan santri.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti di sini. Semoga ada tindak lanjut berupa pelatihan lanjutan atau pembinaan usaha kreatif bagi santri yang tertarik mengembangkan keahlian ini,” kata Kiai Maskur.











