Terima Pelecehan Seksual dan Dikeroyok Senior, Mahasiswa Negeri di Sumsel Lapor Polda Sumsel

Korban pelecehan seksual dan pengeroyokan menanyakan perkembagan laporan di Polda Sumsel.

Laporan: Diaz Erlangga

Palembang, Sumselupdate.com – Sejumlah mahasiswa dari kampus negeri ternama di Sumatera Selatan, (Sumsel) yang menjadi korban dugaan pengeroyokan, dan pelecehan seksual menyambangi Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sumsel.

Read More

Mereka datang untuk menanyakan perkembangan laporan yang dibuat di Polres Ogan Ilir beberapa waktu lalu.

Kasus ini pun kemudian makin viral, setelah salah satu korban membuat tweetan curhat berisi nasibnya setelah menjadi korban kekerasan oleh oknum yang diduga seniornya dari perkumpulan mahasiswa daerah.

“Kami datang ke Polda Sumsel untuk menindak lanjuti sudah jauh mana progres pelaporan yang kami lakukan. Tadi kami diminta untuk melengkapi bukti dan dokumen lainya,” ujar MG (22), salah satu korban.

Lebih lanjut MG juga menceritakan bagaimana perlakuan yang dilakukan oleh kakak tingkatnya terhadapnya.

Awalnya mereka ditawari sejumlah bantuan oleh perkumpulan mahasiwa itu dalam administrasi perkuliahan, seperti bantuan pengurasan berkas, perifikasi dan tempat tinggal.

Bukannya itu yang dapatkan, namun justru perkaluan tidak pantaslah mereka yang terima.

“Saat itu saya ditendang, ditampar, dibentak dan bahkan saat itu saya disuruh mencabut bulu kemaluan saya, setelah dicabut saya dipaksa untuk menebak berapa jumlah bulu kemaluan yang dicabut,” ujarnya.

Menurutnya, perlakuan tidak pantas tersebut terjadi di luar kampus di tahun 2019.

“Saya menerima perlakuan itu di kos-kosan yang memang dijadikan mes oleh perkumpulan mahasiwa tersebut pada tahun 2019 yang lalu,” ucapnya.

Salah satu korban A (22) yang merupakan seorang perempuan mengaku, mengalami hal serupa, namun perlakuan tersebut terjadi di tahun 2018 yang lalu.

Bahkan A mengakui saat itu kakinya sempat dipukul berkali-kali hingga mengalami memar pada bagian kaki.

“Saya disuruh menghapal biodata masing-masing senior,  jika saya salah sebut saya akan disiksa oleh kakak tingkat saya,” ucapnya.

Ia berharap dengan adanya pelaporan yang mereka lakukan tersebut, tidak kembali terulang terhadap mahasiswa mahasiswa lainnya.

“Saya berani berbicara dan melaporkan mereka agar jangan sampai kedepannya ada lagi mahasiswa baru yang menjadi korban,” ungkapnya. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.