Tantra Adalah Jalan Menuju Tuhan Mengutamakan Pemujaan pada Sakti, Salah Satu Cara Unik yang Ditempuh untuk Mendekatkan Diri pada Energi Ketuhanan

Penulis: - Jumat, 12 April 2024
Ilustrasi

TANTRA  menggunakan simbol alat  reproduksi sebagai sarana atau disebut Yantra. Bahwa Tantra adalah suatu kombinasi unik antara mantra, upacara ritual keagamaan dan pemujaan secara total. Secara umum dapat diterangkan bahwa Yantra dan mantra adalah  bentuk ajaran Tantra yang sudah dilaksanakan masyarakat/seseorang  pengikutnya guna memuja kebesaran Tuhan sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur semua  di alam raya semesta ini.

Dalam agama Hindu kata Tantra juga dapat diartikan sebagai praktek membebaskan orang dari ketidaktahuan.  Dengan demikian Tantra memiliki dua implikasi yaitu sebagai jalan  membebaskan diri dari ketidaktahuan sekaligus jalan ekspansi sebagai jalan mencapai pencerahan secara personal. Bahwa hidup ini harus selaras dalam hukum alam (Sunatullah) agar diri kita tidak terjebak karma (hukuman terhadap diri kita atas perbuatan yang telah kita lakukan) dimana ciri dari tradisi Tantra menggunakan mantra  sehingga sering disebut sebagai mantra marga (jalan mantra) dalam agama Hindu atau Mantrayana (kendaraan mantra) dan Guhyahmantra (mantra rahasia) dalam agama Budha. Istilah mantra dalam tradisi India yang berarti ” Teks”, Teory, sistem, metode, instrument, tehnik atau praktek yang bersifat sistematis dan dapat diterapkan secara luas. Dengan ritual dan mantra berupa simbol  tadi sebagai upaya menyatukan diri seseorang dengan Tuhan. Tidak heran dalam keyakinan Jawa dan Nusantara selalu dilakukan melalui simbol. Hal ini  adanya pengaruh dari Budaya Tantra dari Hindu Siwa maupun Budha dari India.

Bacaan Lainnya

Dunia Alam Raya dalam galaksi ini atau jagad Raya bermula dari kehendak Sanghyang Suwung yang misterius. Kehendak itu terekpresi melalui sabda yang mengoyak kehampaan lalu menciptakan  ruang yang menyebar ke segala arah dan membentuk  pusaran energi sesuai 8 mata angin.

Di titik pusat pusaran energi disebut Siwa Shakti atau Rohman Rohim dalam Islam, kasih sayang dalam kristani, Yin Yang  dalam energi Tao, Lanang wadon (pria wanita) yang dilambangkan lingga Yoni dalam peninggalan  candi di Jawa tengah dan Jawa timur. Dari 10 pusaran energi itu oleh leluhur kita di Nusantara dilambangkan dengan Dasaksara yang membentuk 10 aksara mistis. Sacred geometry bernama Mandala. Melalui getaran aksara itulah kehidupan tercipta dimana aksara  cikal bakal seluruh ciptaan.

Selaras dengan prinsip holografis Dasaksara itu bersemayam di tubuh manusia selaku jagad alit (dunia kecil) yang menampung seluruh unsur jagad raya (Jagad gede). Dimana tubuh manusia pun tersusun dari  aksara  bergetar membentuk Mandala yang berpusat di inti  hati tempat sayang hyang suwung (Tuhan) bertahta sebagai sang hyang Atma (ruh).

Itulah sesungguhnya ajaran inti dari Tantra, ilmu kuno Nusantara yang diyakini berbagai  ahli sebagai ilmu paling tertua  di dunia. Sapa yang bisa mengakses dan mendayagunakan aksara  di tubuhnya ia akan menjadi manusia sakti mandraguna dan Waskita.

Pada agama Budha ada aliran. Yang disebut aliran Budha Tantra atau Tantrayana berupa ritual puja atau menuju Bhairawa yaitu memuja kehebatan atau kesaktian. Dengan cara khusus  Ritual Bhairawa  pernah dilakukan Raja Kertanegara dari kerajaan Singosari khusus untuk menandingi kesaktian Raja Kubhilai khan atau khan yang agung dari mongholia yang mendalami Aliran Bhirawa tantra.

Dalam agama Bhuda Mahayana   yang berkuasa tahun 1260 hingga 1294 Masehi. Merupakan Imperium yang menguasai hampir 2/3 Dunia hingga eropa, Raja kertanegara yang terkenal sakti dimana raja saat itu bersama Para  Patih dan pejabat tinggi kerajaan sedang berpesta pora dengan makan minum arak  sepuasnya  dan bersenggama. Dalam sejarah tertulis Raja Kertanegara saat mabuk diserbu  Adipati gelang  dari Madiun dengan pasukan jaran goyang nya terbunuh saat itu. Yang tidak lagi bisa melakukan peperangan melawan Kerajaan Mongol, di dalam sejarah Raden  Wijaya menantu Raja kertanegara yang berhasil mengusir tentara mongol dari jawa bersama Raden  Aryawiraraja sumenep madura, sekaligus menghancurkan Adipati gelang gelang dari Madiun yang telah menyerang Singosari dan membunuh Raja Kertanegara   sekaligus pendiri kerajaan Majapahit.

Paham bhairawa secara khusus berkembang hingga ke China, Tibet, dan Indonesia. Di Nusantara masuknya saktiisme, tantrisme, dan Bhairawa dimulai abad ke 7 Masehi melalui kerajaan Sriwijaya di Palembang  tahun 684 Masehi yang berasal dari pengaruh India selatan dan Tibet.

Dari bukti peninggalan purbakala dapat diketahui ada tiga peninggalan yaitu Bhairawa Heruka terdapat di Padang lawas Sumatra Utara, Bhairawa Kalatjakra yang dianut  Raja Kertanegara  dan jendral Angkatan laut Singosari Adityawarman   serta aliran  Bhairawa Bima  di Bali.

Dalam Bhairawa Tantra, upacara ritual dengan melakukan apa yang disebut ” Mo 5 ” disebut ” Panca Makara Puja ” dengan melakukan upacara Ksetra. Prasasti Joko dolog di Surabaya  tahun 1289 menulis bahwa Raja Kertanegara dari kerajaan Singosari dinobatkan sebagai Jina (Dhyani Bhudha) yang bergelar Jnanaciwa Braja. Dalam agama Budha Tantrayana, istilah tabtrayan berasal dari akar kata “Tan” yang artinya Sakti atau kuat dari kekuatan para dewa (Tuhan) di Bali wujud Bhairawa bisa seperti ilmu lea yang dikenal dengan ilmu aji wegig  sebagai ilmu ngiwo (kiri) merupakan olah spiritual tingkat tinggi yang sebetulnya bisa juga digunakan untuk kebaikan bukan hanya untuk keburukan. Akan tetapi konotasi nya sudah terlanjur sebagai ilmu hitam karena digunakan  menyerang orang lain. Kisah yang paling legendaris adalah kisah janda Calonarang yang sangat populer di Bali dimana peristiwanya saat kerajaan Daha (Kediri) di Jawa timur. Pada masa pemerintahan prabu Airlangga yang sangat sakti mandraguna  tapi bisa ditaklukan empu Baradah dimana buku buku soal ilmu leak oleh para murid muridnya dibawa ke pulau Bali dalam bentuk lontar pengleakan.

Di Jawa Tengah aliran Bhairawa Tahtra dulu berkembang di lereng gunung merapi dan daerah pegunungan Dieng  yang pada saat wali songo sebagai penyebar agama tradisi ritual korban yang awalnya berupa daging manusia  diubah dengan cara selamatan baca kataman Alquran dengan merubah menjadi daging ayam utuh dibakar dengan bumbu opor disebut engkung ayam. Tradisi tersebut tetap dilestarikan pada setiap selamatan, hajatan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pendekatan budaya oleh wali songo di Jawavpada saat penyebaran agama mempertimbangkan demi mempermudah sosialisasi dan perekrutan anggota keagamaan baru tradisi selamatan daging tetap dipertahankan. Walau dengan cara merubah  menjadi daging ayam bakar, minum arak yang memabukkan diubah menjadi minum kopi hitam  dan minuman segar lain.

Dalam penyebaran Islam di Jawa juga terpengaruh dan mengadopsi Tantra yang menggunakan simbol simbol, dimana  Wali Songo menggunakan tembang mocopat, dandang gulo, media wayang yang dirubah dari kisah Mahabarata kepada  kisah yang dipadukan sesuai ajaran Islam dalam lakon  senjata kalimasada  (kalimat syahadat). Hal itu merupakan tata cara menggunakan simbol simbol dalam religi keagamaan khas Jawa untuk mengajarkan penyatuan pendekatan kepada Tuhan lewat pengajaran Manunggaling Kawulo Gusti dimana dunia spiritual di Nusantara khususnya Jawa bukan tidak mungkin akan mengalami kejayaan dan  selalu mengalami evolusi  mungkin revolusi untuk menemukan jati dirinya dalam konsep ketuhanan. Jika dilihat dari perjalanan sejarah bangsa ini dari abad ke abad .

Pada masa kekinian  budaya selamatan dalam hajatan baik mau nikah kan mau pindah rumah  bahkan peringatan haul meninggal nya kerabat baik 7 hari, 40 hari , 100 hari maupun 1000 hari tetap dipertahankan walau oleh kaum syariat dan paham tertentu dianggap Bid’ ah dan sesat tidak sesuai ajaran agama dalam akidah agama (hukum hukum agama) dalam Alquran dan sunah.

Orang Nusantara selalu bisa menerima hal baru keyakinan dan agama baru, baik dari Hindustan di India maupun Agama samawi tapi mereka tetap berpegang teguh pada ajaran luhur nenek moyang yang tradisi ritual nya dipengaruhi  pengaruh India, baik orang Jawa, orang  Batak, orang Dayak, orang Indonesia Timur, Minahasa maupun Madura. Suatu keyakinan ibarat pusaka keris atau pedang dan tombak, ada warangka (bungkus) dan ada curiga pusakanya, yang keduanya merupakan satu kesatuan dalam estetika keindahan sekaligus ke kesaktian.

Pada saat masuknya Islam di Jawa maupun di Nusantara oleh para anggota  Wali  Songo  melalui perjalanan laku spiritual yang  sangat dalam mulai menggali dan menciptakan ilmu kaweruh baru dari hasil modifikasi ajaran agama Hindu Siwa, Bhuda Mahayana tadi dalam Tantra dan Bhairawa yang disebut “Rajah Kala Tjakra” yang paling terkenal dalam sejarah dilakukan  sunan Kudus Sayyid jak’ far Sodiq dengan menggunakan media benda dirajah / ditulis dengan huruf honocoroko maupun huruf Pegon (arab gundul) untuk digunakan sebagai sarana melarutkan / menghilangkan ilmu kesaktian dari seseorang yang dipandang lawan. Lafal ilmu cakra dari senjatanya Prabu Krisna dalam kisah Mahabarata dari India tetap pertahankan dalam lafal ilmu Kolo Tjokro  yakni : ya marojo joyomoyo yaa maroni Niro moyo, yaa dayudho yaa dayani, Nilo Doyo monosio, yaa badigko”  Demikian juga menyangkut Wahyu atau sinar jatuhnya pulung yang dikenal di Jawa  sebagai Wahyu Keprabon  disebut Wahyu tjokroningrat  yang merupakan Wahyu yang dipercaya orang Jawa sebagai isyarat datangnya Ratu adil yang bisa membawa bangsa ini mencapai kejayaan dan keadilan menuju Indonesia merdeka seutuhnya.

Bahwa wawasan, pandangan dan kedalaman ilmu dari para  wali songo tidak perlu diragukan  yang kerap memfatwakan berhubungan dengan mu’amalah dengan aturan akidah seperti melarang penyembelihan sapi di wilayah Kudus oleh sunan Kudus sebagai penghormatan terhadap saudara saudara pemeluk agama Hindu saat itu, bahkan pure Hindu yang sudah tidak terpakai dijadikan menara masjid yang hingga kini terkenal dengan masjid menara Kudus. Begitu membuminya adab dan  ilmu mereka serta  rela berasimilasi dengan orang pribumi  sebagai perwujudan hablu minanas, ukuwah islamiah dan ukuwah wathoniah untuk mewujudkan ukuwah bhasariah (Memayu Hayuning Bawono)

Penulis Agus Widjajanto: Pengamat Budaya, Sospol  dan hukum

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.