Sumsel Masuki Musim Kemarau, BMKG Sebut Masih Ada Hujan

Writer: - Rabu, 2 Juli 2025
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan Sumatera Selatan (Sumsel) sudah memasuki musim kemarau. (Sumselupdate.com/Istimewa/dok)

Palembang, Sumselupdate.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan Sumatera Selatan (Sumsel) sudah memasuki musim kemarau.

Meski demikian hujan diprediksi masih terjadi di beberapa wilayah sejak 1-2 Juli ini dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai kilat/ petir dan angin kencang.

Read More

Pada 1 Juli lalu diprakirakan terjadi hujan sedang hingga lebat yang terjadi pada sore hingga malam hari di wilayah Ogan Ilir, OKU,OKU Selatan dan OKU Timur.

Lalu 2 Juli ini diprakirakan terjadi hujan sedang hingga lebat pada siang-sore hari di beberapa daerah kabupaten OKU, OKI, Muara Enim, Lahat, Banyuasin, OKU Selatan. Serta dapat meluas ke wilayah Musi Rawas, OKU Timur, Empat Lawang, Pagaralam, dan Lubuklinggau.

Kepala Stasiun SMB II Palembang, Siswanto mengatakan pada dasarian kedua dan akhir Juni 2025, meskipun sebagian wilayah Sumsel telah memasuki musim kemarau, curah hujan masih terpantau menengah hingga tinggi di sejumlah daerah.

Baca juga : BMKG Prediksi Musim Kemarau Mulai Juni Hingga Oktober

Data Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan mencatat sebagian wilayah mencatat akumulasi hujan menengah (50–150 mm) dan bahkan tinggi (>150 mm), sementara periode tanpa hujan (HTH) hanya berkisar 1–5 hari untuk mayoritas wilayah.

“Hal ini menunjukkan adanya kekeringan relatif, namun bukan kondisi kering total karakteristik umum musim kemarau transisi,” katanya.

Dijelaskan Siswanto, secara meteorologi, fenomena skala besar, terutama Madden–Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby ekuatorial, dan gelombang Kelvin, masih aktif memicu pertumbuhan awan konvektif di maritim Indonesia dan Sumatera Selatan.

Baca juga : Wakil Ketua Komisi VII DPR Minta Pemerintah Antisipasi Polusi Udara Memasuki Musim Kemarau  

Aktivitas MJO pada fase migrasi ke wilayah maritim di akhir Juni 2025 mendorong peningkatan suplai uap air dan pembentukan awan hujan lokal dan memungkinkan dalam intensitas sedang – lebat, walau musim kemarau seharusnya sudah mengurangi kejadian hujan signifikan.

“Data dinamika atmosfer terkini menyatakan bahwa nilai OLR negatif sepekan terakhir menandakan pembentukan awan yang terus berpotensi menyebabkan hujan extreme,” jelasnya.

Menurut Siswanto, faktor lokal turut memperkuat kondisi hujan transisional ini antara lain kelemahan angin monsun Australia yang menahan massa udara kering, serta interaksi sirkulasi siklonik di Samudra Hindia bagian selatan Sumatera dan konvergensi angin di dekat perairan setempat.

Mengacu data dari Stasiun Klimatologi Sumsel juga menjelaskan bahwa sirkulasi angin skala kecil dan bersifat lokal mengakibatkan hujan ringan hingga sedang secara sporadis, meski intensitasnya rendah (biasanya <50 mm per 10 hari.

Kombinasi faktor skala global (MJO, gelombang atmosfer, OLR) dan regional (monsun Australia lemah, tekanan rendah di selatan) menyebabkan hujan lokal masih terjadi hingga akhir Juni 2025.

“Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi hujan deras dan angin kencang secara tiba-tiba, kendati secara umum musim kemarau lebih banyak hari tanpa hujan,” imbaunya. (**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts