Sidang Pembangunan Masjid Sriwijaya, JPU Sebut Tidak Ada Verifikasi Lahan dan Dokumen

Sidang lanjutan dugaan korupsi pembangunan Masjid Sriwijaya.

Palembang, Sumselupdate.com – Sidang dugaan korupsi pembangunan Masjid Sriwijaya yang menjerat empat terdakwa Eddy Hermanto, Syarifudin, Yudi Arminto dan Dwi Kridayani.

Pada sidang kali ini dengan agenda mendengarkan keterangan saksi, adapun saksi yang dihadiri langsung, Isnaini Madani, Aminuddin, Burkiani, Rihatmoko, Ir.loka Sangganegara, Nur asri kartini, Edo Candra.

Read More

Dari pantauan sidang, saksi Aminuddin dan Burkian, awalnya banyak menjawab pertanyaan majelis hakim dengan jawaban lupa dan tidak tahu persis, mengenai dokumen lelang dan pengadaan pada Masjid Raya Sriwijaya.

Namun, setelah ditunjukkan oleh pihak JPU mengenai berkas atau dokumen tentang lelang dan pengadaan yang dimaksud, maka kedua saksi Aminudin dan Burkian, membenarkan jika menandatangi berkas lelang dan pengadaan Masjid Raya Sriwijaya.

Dari fakta sidang, diketahui dua saksi hanya menandatangi berkas tanpa tahu isi dari dokumen-dokumen tersebut.

JPU Kejati Sumsel, M Naimullah SH MH mengatakan, jika awalnya saksi banyak mengaku tidak tahu, namun setelah dilihatkan tanda tangan barulah saksi memberikan keterangannya.

Naim juga menjelaskan, untuk saksi Burkian dan Aminuddin, keduanya merupakan tim pelelangan, serta sebagai devisi hukum administrasi lahan, keduanya juga mengetahui ada masalah perdataan yang saat ini dimenangkan oleh masyarakat pemilik lahan di lokasi pembangunan Masjid Sriwijya.

“Jadi tanah tersebut bukan milik Pemprov. Maka dari itu dapat disimpulkan tidak ada verifikasi lahan, dokumen-dokumen yang dilakukan dalam kegiatan pembangunan Masjid Sriwijaya,” katanya.

Sementara saksi Aminuddin dan Burkian menandatangi dokumen mengenai rencana lelang, dokumen rapat panitia mengenai pelelangan. Artinya, Kedua saksi ini hanya menandatangi dokumen tanpa melakukan verifikasi terkait dokumen-dokumen yang dimaksudkan,” tegas Naim.

Naim juga mengatakan, dari keterangan saksi Isnaini Madani, seharusnya Masjid Raya Sriwijaya, berdiri megah dan dijadikan wisata religi di Kota Palembang.

“Jadi dalam perkata ini dapat dikatakan seperti ada lelang-lelangan, karena sebagai panitia lelang mereka tidak mengetahui, bahkan tidak perna melihat DED. Proses lelangnya tidak ada, namun dibuat seolah-olah ada,” tutupnya. (Ron)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.