Jakarta, Sumselupdate.com – Potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia mulai mencuat seiring memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait kebijakan Iran di Selat Hormuz.
Pemerintah Iran tidak sepenuhnya menutup jalur vital tersebut, namun menerapkan sistem navigasi selektif. Artinya, hanya negara-negara tertentu yang memiliki hubungan diplomatik kuat dengan Teheran yang diberikan akses prioritas untuk melintas.
Kebijakan ini berdampak langsung terhadap distribusi energi global. Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur utama pengiriman minyak dan gas dunia. Ketika akses dibatasi, rantai pasok otomatis terganggu dan memicu kenaikan harga di berbagai negara.
Indonesia termasuk negara yang belum masuk dalam daftar prioritas akses tersebut. Dampaknya mulai terasa pada operasional logistik energi nasional.
Dua kapal tanker besar milik PT Pertamina (Persero), yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, dilaporkan masih tertahan di kawasan Teluk Arab dan belum dapat melanjutkan perjalanan melintasi Selat Hormuz.
Meski kondisi kapal dilaporkan aman, keterlambatan distribusi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan energi dalam negeri apabila situasi berlangsung lebih lama.
Di kawasan Asia Tenggara, dampak krisis ini sudah mulai terlihat. Sejumlah negara mengambil langkah cepat dengan menyesuaikan harga BBM.
Thailand, misalnya, menaikkan harga solar dari 30 baht menjadi 33 baht per liter. Sementara itu, Vietnam melakukan penyesuaian harga secara berulang akibat fluktuasi pasar yang tidak stabil.
Singapura bahkan mencatat lonjakan signifikan di tingkat ritel, dengan harga bensin yang menembus kisaran Rp45 ribu per liter di beberapa SPBU.
Tekanan juga datang dari dalam negeri. Nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17 ribu per dolar AS memperbesar beban impor energi. Kondisi ini berpotensi mendorong penyesuaian harga BBM jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat.
Selain itu, kondisi fiskal turut menjadi perhatian. Defisit anggaran di awal tahun masih dalam batas aman, namun tekanan global berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah dalam menjaga stabilitas harga energi.
Dengan berbagai indikator tersebut, masyarakat diminta untuk bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga BBM. Pemerintah diharapkan dapat segera mengambil langkah strategis guna menjaga pasokan tetap aman serta menahan gejolak harga di dalam negeri.
(**)











