Jakarta, Sumselupdate.com – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah berdampak langsung pada operasional pelayaran energi nasional. PT Pertamina (Persero) memastikan dua kapal tanker milik anak usahanya, PT Pertamina International Shipping, yang masih berada di kawasan Selat Hormuz dalam kondisi aman.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan perusahaan terus memantau situasi menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran setelah meningkatnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Jalur tersebut merupakan salah satu perlintasan minyak tersibuk di dunia, sehingga setiap eskalasi berpotensi memengaruhi distribusi energi global.
“Sampai dengan saat ini kondisi masih aman. Kami berkoordinasi dan berterima kasih kepada seluruh stakeholder, baik dari Kementerian Luar Negeri maupun pihak-pihak terkait yang bisa menyampaikan atau mengamankan aset kami dan para awak yang berada di sana,” ujar Baron di kantor pusat Pertamina, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan, terdapat empat kapal Pertamina di sekitar kawasan tersebut. Dua kapal telah berada di luar Selat Hormuz, sementara dua lainnya masih berada di dalam perairan strategis itu.
Menurut Baron, keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama perusahaan, diikuti dengan upaya pengamanan aset. Pertamina juga terus menjalin komunikasi intensif dengan otoritas terkait guna memastikan langkah yang diambil tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
“Memang benar ada dua kapal Pertamina yang masih berada di sana. Saat ini kami terus memantau dan memastikan yang pertama adalah keselamatan awak kapal, kemudian juga terkait dengan aset kapal yang berada di sana,” katanya.
Secara terpisah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah menempuh jalur diplomasi untuk membantu proses pengeluaran kapal dari kawasan tersebut.
“Kita lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.
Bahlil mengakui adanya potensi gangguan terhadap pasokan minyak nasional apabila kapal tidak dapat segera keluar. Namun, ia memastikan pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi, termasuk mencari sumber minyak mentah alternatif di luar kawasan Selat Hormuz.
“Seandainya pun itu tidak bisa dikeluarkan, kita sudah cari alternatif untuk mencari sumber crude dari yang lain dan sudah dapat. Jadi saya pikir itu bukan sesuatu yang menjadi masalah sangat penting,” kata dia.
Pemerintah dan Pertamina kini terus memantau dinamika di kawasan tersebut sembari memastikan stabilitas pasokan energi dalam negeri tetap terjaga.
(**)











