BRI Pagaralam Dorong UMKM Naik Kelas, KUR BRI Tembus Rp103,81 Triliun Hingga Juni 2026

Writer: - Rabu, 19 Agustus 2026
Ilustrasi pelaku UMKM mengakses pengajuan KUR BRI melalui aplikasi BRImo. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Pagaralam, Sumselupdate.com – Sebagai upaya mendukung pemberdayaan UMKM menjadi penggerak perekonomian nasional, penyediaan akses pembiayaan yang inklusif terus menjadi komitmen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang menyasar pelaku usaha di berbagai wilayah Indonesia. Hingga akhir Juni 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp103,81 triliun kepada sekitar 2 juta debitur.

Read More

Penyaluran KUR tersebut didominasi sektor-sektor produktif yang memiliki peran strategis terhadap perekonomian nasional. Sektor pertanian menjadi penerima terbesar dengan porsi 42,68 persen dari total penyaluran, disusul sektor perdagangan sebesar 32,34 persen.

Secara keseluruhan, penyaluran KUR BRI terus diarahkan kepada sektor yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat sekaligus memiliki potensi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Di tingkat daerah, termasuk Pagaralam, akses pembiayaan bagi pelaku UMKM menjadi bagian penting dalam mendorong keberlanjutan usaha. Dukungan pembiayaan diharapkan dapat membantu pelaku usaha mengembangkan modal, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperluas pasar.

Pimpinan Cabang Pagaralam, Agustian Siburian mengatakan, tingginya penyerapan pembiayaan tersebut tidak hanya mendorong keberlanjutan usaha, tetapi juga menjadi salah satu faktor yang dapat mengantarkan pelaku UMKM naik kelas menjadi entitas bisnis yang lebih sehat secara finansial, berkelanjutan, dan memiliki kapasitas usaha lebih besar.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan, KUR merupakan instrumen strategis BRI dalam menjalankan misi meningkatkan daya saing UMKM.

Menurutnya, sebagai bagian dari ekosistem Danantara, BRI terus mengarahkan penyaluran pembiayaan ke sektor produktif seperti KUR yang mampu menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional, memperkuat ketahanan pangan, mendorong kewirausahaan, serta memperluas pemerataan ekonomi di berbagai daerah melalui pemberdayaan pelaku usaha.

“KUR bukan sekadar instrumen pembiayaan, tetapi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional dari tingkat akar rumput. Penyaluran yang diarahkan ke sektor-sektor produktif, khususnya pertanian, diharapkan mampu meningkatkan produktivitas usaha masyarakat sekaligus memperkuat basis ekonomi daerah dan mendukung agenda ketahanan pangan nasional,” ujar Akhmad.

Menurut dia, akses pembiayaan yang semakin inklusif dan tepat sasaran diharapkan mampu membuat UMKM dan pelaku usaha tumbuh lebih kuat, menciptakan lapangan kerja, serta memberikan kontribusi berkelanjutan bagi perekonomian nasional.

Keberhasilan BRI dalam mendorong UMKM naik kelas juga tercermin dari capaian graduasi debitur KUR. Graduasi merupakan indikator ketika pelaku usaha yang sebelumnya memanfaatkan pembiayaan KUR telah berkembang dan memiliki kapasitas untuk mengakses pembiayaan komersial.

Hingga Juni 2026, sebanyak 487 ribu debitur KUR telah mengalami graduasi atau setara 50,71 persen dari target graduasi BRI tahun 2026 sebanyak 962 ribu debitur.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa penyaluran KUR tidak hanya diarahkan untuk memperluas akses pembiayaan, tetapi juga mendorong peningkatan skala usaha secara berkelanjutan.

Selain KUR, BRI juga terus memperkuat ekosistem penyediaan hunian melalui penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP) atau KUR Perumahan.

Hingga Juni 2026, realisasi KPP BRI tercatat sebesar Rp10,7 triliun atau mencapai 89 persen dari target penyaluran sebesar Rp12 triliun.

Penyaluran tersebut mencakup pembiayaan kepada pelaku usaha pada sisi penyediaan hunian serta pembiayaan masyarakat dari sisi permintaan.

Program tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas sektor perumahan sekaligus menciptakan efek berganda terhadap aktivitas usaha dan penyerapan tenaga kerja.

Dalam implementasinya, Akhmad mengatakan BRI tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dengan mengedepankan aspek transparansi dan akuntabilitas.

Hal tersebut dinilai penting karena KUR sepenuhnya bersumber dari dana perbankan yang berasal dari penghimpunan dana masyarakat, sehingga kualitas kredit harus tetap dijaga.(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts