Pagaralam, Sumselupdate.com – Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang ingin menembus pasar ekspor tidak cukup hanya mengandalkan kualitas produk. Kapasitas produksi, literasi keuangan dan akses pasar global juga perlu dipersiapkan agar usaha mampu bersaing di tingkat internasional.
Pimpinan Cabang BRI Pagaralam Agustian Siburian mengatakan, ketiga aspek tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong UMKM naik kelas sekaligus memperluas pasar.
“UMKM yang ingin berkembang ke pasar yang lebih luas tentu harus memperhatikan kapasitas produksi, pengelolaan keuangan, dan akses pasar. Ketiganya saling berkaitan dan perlu dipersiapkan secara bertahap,” ujar Agustian.
Menurutnya, pembiayaan dapat menjadi salah satu fondasi bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi. Namun, tambahan modal perlu diiringi kemampuan mengelola usaha secara profesional.
Hal tersebut sejalan dengan pemaparan Direktur Commercial Banking BRI Alexander Dippo Paris Y.S. dalam Indonesia Economic Forum 2026 di Jakarta pada September 2026.
Dippo mengatakan, dukungan terhadap UMKM dilakukan melalui pembiayaan, program pendampingan untuk meningkatkan literasi, serta pembukaan akses bisnis.
“Berangkat dari tiga hal tersebut, kami memberikan pembiayaan untuk membantu kapasitas, kami memberikan program pendampingan untuk membantu literasi, dan kami membuka sebesar-besarnya akses yang kami miliki untuk membantu akses bisnis dari UMKM,” ujar Dippo.
Berdasarkan data yang disampaikan BRI, penyaluran kredit UMKM perseroan mencapai Rp1.235,4 triliun hingga akhir Triwulan II/2026. Angka tersebut tumbuh 8,6 persen secara tahunan dan mencakup 75,1 persen dari total portofolio pembiayaan BRI Group.
Agustian mengatakan, pelaku UMKM juga perlu memahami tuntutan pasar internasional yang lebih kompleks. Selain kualitas produk, calon pembeli dari luar negeri membutuhkan informasi usaha yang jelas, termasuk terkait tata kelola dan transparansi keuangan.
“Ketika masuk ke pasar ekspor, pelaku usaha harus mampu menunjukkan bahwa usahanya dikelola dengan baik. Transparansi keuangan dan kemampuan menjelaskan proses produksi menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan buyer,” katanya.
Untuk mendukung kesiapan UMKM, BRI menjalankan sejumlah program pemberdayaan, di antaranya Desa BRILiaN yang disebut telah menjangkau lebih dari 5.700 desa dan Klasterku Hidupku dengan sekitar 44 ribu klaster usaha.
Di sektor digital, LinkUMKM disebut telah merangkul sekitar 17,3 juta pelaku usaha. Sementara Rumah BUMN mendampingi sekitar 596 ribu UMKM.
Untuk memperluas akses pasar, BRI juga mengembangkan pendekatan One BRI Solution dengan menghubungkan pelaku UMKM ke jejaring nasabah korporasi dan komersial.
Strategi tersebut antara lain terlihat dalam BRI UMKM EXPO(RT) 2025 yang menghasilkan commitment deal senilai USD90,6 juta atau sekitar Rp1,5 triliun dari 506 buyer asal 34 negara.
Agustian berharap pelaku UMKM di daerah, termasuk Pagaralam, dapat terus meningkatkan kualitas usaha serta memanfaatkan akses pembiayaan dan pendampingan yang tersedia.
“Harapannya, UMKM di daerah termasuk Pagaralam dapat terus meningkatkan kualitas usaha dan memanfaatkan berbagai akses pembiayaan serta pendampingan yang tersedia, sehingga memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan masuk ke pasar yang lebih luas,” pungkas Agustian.
(**)







