Jakarta, Sumselupdate.com – Ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali meningkat. Pada Sabtu (19/9/2026), otoritas Arab Saudi mengeluarkan sejumlah peringatan serangan udara di Riyadh dan wilayah Al-Kharj setelah muncul ancaman serangan udara.
Ledakan terdengar di Riyadh setelah peringatan tersebut dikeluarkan. Reuters juga melaporkan adanya kepulan asap dan api yang terlihat di sekitar bandara utama Riyadh. Namun, penyebab pasti insiden tersebut dan apakah berkaitan langsung dengan serangan Houthi masih dalam penanganan dan penelusuran otoritas setempat.
Peringatan yang diterima warga menyebut adanya ancaman udara dari pihak yang disebut sebagai musuh. Alarm tersebut kemudian dicabut pada Sabtu pagi.
Situasi ini terjadi ketika konflik antara Arab Saudi dan Houthi mengalami peningkatan tajam dalam beberapa pekan terakhir. Kelompok Houthi yang beroperasi di Yaman telah meningkatkan serangan terhadap sejumlah wilayah Arab Saudi, sementara Riyadh dan pasukan yang didukungnya melancarkan serangan terhadap posisi Houthi di Yaman.
Houthi Klaim Saudi Lancarkan 26 Serangan
Di tengah meningkatnya ketegangan, Houthi mengeklaim militer Arab Saudi melancarkan 26 serangan terhadap wilayah yang mereka kuasai di Yaman dalam kurun 24 jam.
Klaim tersebut disampaikan kelompok Houthi dan diberitakan AFP. Mereka juga menyebut sekitar 300 serangan telah dilancarkan Arab Saudi terhadap wilayah yang dikuasai Houthi dalam sepekan terakhir. Angka tersebut merupakan klaim dari pihak Houthi dan belum dapat diverifikasi secara independen.
Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi juga melaporkan pertempuran dengan Houthi di sejumlah wilayah. Eskalasi tersebut terjadi setelah kelompok Houthi memperluas penguasaan wilayah di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman.
Konflik Houthi dan Arab Saudi Kembali Memanas
Konflik Yaman berakar dari perebutan kekuasaan setelah Houthi merebut Sanaa pada 2014. Setahun kemudian, Arab Saudi memimpin koalisi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Pertempuran besar kemudian mereda setelah gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 2022, tetapi ketegangan kembali meningkat pada 2026. Dalam beberapa pekan terakhir, Houthi memperluas operasi militernya dan menguasai wilayah strategis di sepanjang pesisir Laut Merah, termasuk kawasan yang berkaitan dengan jalur pelayaran Bab al-Mandeb.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian internasional karena Bab al-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.
Houthi sebelumnya juga menyatakan blokade terhadap pelayaran yang berkaitan dengan Arab Saudi. Kelompok tersebut menyatakan kapal yang tidak memiliki hubungan dengan Arab Saudi tetap dapat melintas, meski situasi keamanan di kawasan tersebut telah meningkatkan kekhawatiran terhadap perdagangan dan pelayaran internasional.
Puluhan Ribu Warga Yaman Mengungsi
Eskalasi pertempuran turut memperburuk kondisi kemanusiaan di Yaman.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) yang merupakan bagian dari sistem PBB melaporkan sedikitnya 112.000 orang telah mengungsi di dalam Yaman akibat konflik terbaru. Hampir 3.000 orang lainnya dilaporkan menyeberangi laut menuju Djibouti untuk mencari keselamatan.
Gelombang pengungsian tersebut menambah beban negara yang selama bertahun-tahun menghadapi krisis kemanusiaan akibat perang, kerusakan infrastruktur, serta keterbatasan akses terhadap pangan dan layanan dasar.
Dewan Keamanan PBB pada Jumat juga menyatakan keprihatinan terhadap eskalasi militer Houthi, termasuk serangan terhadap Arab Saudi serta ancaman terhadap pelayaran internasional di Laut Merah. PBB memperingatkan perkembangan tersebut berpotensi memperluas konflik dan mengganggu keamanan maritim serta perdagangan internasional.
Sementara itu, situasi di lapangan masih terus berkembang. Arab Saudi dan Houthi saling melontarkan serangan dan tuduhan, sementara masyarakat sipil di Yaman kembali menghadapi dampak langsung dari meningkatnya pertempuran.
(**)











