Pertempuran Rakyat Besemah, Perlawanan Terpanjang Dalam Sejarah Sumatera Selatan Melawan Penjajah

Writer: - Selasa, 20 Agustus 2024
Pertempuran Rakyat Besemah, Perlawanan Terpanjang Dalam Sejarah Sumatera Selatan Melawan Penjajah.

Pagaralam, Sumselupdate.com – Kali ini Sumselupdate.com akan menjelaskan tentang sejarah berbagai pertempuran yang ada di tanah Besemah atau di Pagaralam dan sekitarnya.

Ini diawali dengan operasi militer Belanda untuk menaklukkan Besemah berlangsung lama dari tahun 1821 sampai 1867.

Read More

Johan Hanafiah seorang budayawan Sumatera Selatan seperti dilansir Chanel Youtube Belly Pagaralam, menyebutkan perlawanan terpanjang yang bersejarah yaitu perjuangan di Sumatera Selatan yaitu perlawanan rakyat Besemah dan sekitarnya yang akhirnya Kota Pagaralam mendapat julukan sebagai kota perjuangan di Sumatera Selatan.

Dalam buku The British History In The Sumatera yang di oleh Jhon Bastin, disebutkan bahwa bandit-bandit yang tidak tahu hukum dan gagah berani dari tanah Besemah pernah menyerang distrik Manna kota Kabupaten Bengkulu Selatan pada tahun 1797.

Disebutkan pula pada tahun 1818 pasukan Inggris mengalami malapetaka di daerah Selatan yaitu perang dengan orang Besemah dan kematian karena penyakit cacar.

Seiring berjalannya waktu karena kekalahan pasukan Belanda pada Perang Pasifik maka wilayah jajahannya di Indonesia diambil alih oleh pasukan Jepang.

Namun sayang pasukan Jepang lebih kejam daripada pasukan Belanda, banyak rakyat yang tak berdosa dibantai oleh pasukan Jepang.

Maka atas kekejaman ini rakyat memberontak yang kemudian terjadi pertempuran di mana-mana termaksut juga di Sumatera Selatan yang memakai strategi perang dibagi menjadi dua lokasi pertahanan yaitu satu di Kota Palembang dan satu lagi pertahanan di Lahat yang dipimpin oleh Mayor Ruslan.

Diawali dengan kisah perang Setanahan yang terjadi kira-kira tahun 1944 dan 1945 di wilayah Dempo Utara tepatnya di Desa Bumi Agung dan sekitarnya.

Sejarah perang pejuang-pejuang di Dempo Utara ini hampir tak diajarkan pada bangku sekolah dinamakan perang Setanahan karena terjadi di darat.

Jepang pada saat itu tidak menggunakan pesawat terbang untuk berperang di lokasi tersebut, perang setanahan berkobar setelah pejuang-pejuang memutuskan untuk Menghadang Long March tentara Jepang.

Saat itu pasukan Jepang hendak menguasai Bumi Agung dan Gunung Agung Pauh yang sebelumnya sudah menguasai Bumi Agung dan mendirikan markas Asano Butai, ketika Jepang sampai di dekat tikungan yang sekarang persisnya di depan SD Negeri 41 Pagaralam.

Para pejuang Dempo Utara mulai menembak, yang masing-masing dipimpin oleh 31 pejuang yang salah satunya bernama Akib yang berasal dari Gunung Agung.

Mayor Ruslan merupakan komandan BKR (Badan Ketahanan Rakyat) Pagaralam. Mayor Ruslan pernah mengadakan rapat di sekitar Tebat Limai, Dusun Pelang Kenidai dengan melibatkan unsur-unsur pemerintahan di daerah Pagaralam waktu itu.

Rapat ini diperkirakan berlangsung pada tanggal 18 Desember 1945. Ternyata Rapat ini menjadi pertemuan akbar, karena dihadir kurang lebih 10000 orang Tanah Besemah.

Rapat yang dikenal dan hadiri dalam rapat Jurai Tue,  kepala Sumbai-Sumbai dan Hulu Balang tanah Besemah, pada rapat itu Mayor Ruslan mengatur pasukan untuk menyerang dari beberapa arah agar kekuatan Jepang terpecah.

Pada malam hari Mayor Ruslan memimpin pasukan ke di Dusun Bumi Agung, sayangnya keberadaan mobilnya diketahui musuh hingga terjadi perang yang hebat dan sengit pasukan Mayor Ruslan terjepit bahkan pasukannya yang hanya mengandalkan mobil yang ditumpangi sang mayor menjadi tameng untuk berlindung.

Meski saat itu malam hari, namun pasukan Mayor Ruslan tetap gigih dan berhasil menembus tiga barikade musuh, namun sayangnya pada barikade keempat mobilnya terbalik dan mayor Ruslan luka berat serta tertembak.

Awalnya belum diketahui apakah sang mayor meninggal atau belum. Namun selama 3 hari pasukannya berhasil memenangkan pertempuran melawan Jepang dan menemukan jasad sang mayor.

Akhirnya jasad beliau dibawa ke desanya di Sukabumi, Kecamatan Lajar Bulan Impit Bukit, Kabupaten Lahat. Tak lama setelah itu masih di bulan yang sama pada n Desember 1945 setelah kekalahan Jepang di wilayah Dempo Utara, keadaan pagi itu sebelum matahari terbit dalam suasana masih sepi disertai udara dingin yang menusuk tulang, suasana pun berubah cepat berganti menjadi sebuah petaka jeritan demi jeritan diiringi suara senjata terdengar silih berganti.

Perang yang sengit ini terjadi di kawasan Dempo Utara, Kota Pagar Alam. Serangan yang dilakukan oleh pasukan sekutu ini menyebabkan tewasnya para pejuang dan rakyat yang berjumlah 160 orang yang di mana satu di antara mereka yang gugur yaitu Sersan Mayor Wanar nama Sersan Mayor Wanar pun ditorehkan pada monumen yang kini masih berdiri tegak di depan Kompleks SD Negeri 26 Pagaralam yang dulu bernama Kompleks Asano Butai.

Mereka dikubur secara massal di tempat tersebut. Pasukan sekutu yang juga didukung oleh negara Belanda kembali melakukan serangan yang tujuannya jelas ingin mengambil alih lagi daerah jajahannya tak terkecuali Pagaralam.

Tak lama setelah serangan itu pasukan sekutu kembali memborbardir wilayah Bumi Agung dan Gunung Agung. Saat itu pesawat sekutu terbang sangat rendah kemudian dari pesawat capung tersebut, pasukan sekutu menembak dari udara sasarannya rumah-rumah penduduk di Dusun Gunung Agung Ilir, Tengah, dan Gunung Agung Pauh.

Kemudian pasukan sekutu menjatuhkan bom yang sebesar cerek air. Saat itu warga sangat panik dan berlindung masuk ke dalam hutan-hutan yang berada di kawasan Gunung Agung.

Pada akhirnya perjuangan rakyat Besemah dan seluruh rakyat Indonesia tidak sia-sia. Narasi ini kami dedikasikan untuk seluruh pejuang kemerdekaan yang begitu gigih mengusir penjajah dari tanah air. (**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts