Penyidik Kejati Sumsel Tetapkan Dua Tersangka Kasus Dugaan Tipikor Pembangunan Masjid Raya Sriwijaya  

Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Sumsel, Khaidirman saat konfrensi pers terkait penetapan tersangka dugaan tipikor pembangunan Masjid Raya Sriwijaya Palembang, Senin (8/3/2021).

Palembang, Sumselupdate.com – Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumatera Selatan (Sumsel) dua tersangka dalam dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) pembangunan Masjid Raya Sriwijaya Palembang yang merugikan negara puluhan miliar rupiah.

Kedua tersangka itu masing-masing Ir H Eddy Hermanto, SH, MM dan Kuasa KSO PT Brantas Abipraya-PT Yodya Karya, Ir Dwi Kridayani.

Bacaan Lainnya

Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati Sumsel, Khaidirman mengatakan, kedua tersangka dianggap berperan dan bertanggungjawab terhadap kerugian negara yang dikucurkan lewat dana hibah anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) tahun 2015 dan 2017 sebesar Rp130 miliar.

Meski ditetapkan sebagai kedua tersangka sejauh ini tidak ditahan lantaran dianggap kooperatif selama pemeriksaan.

“Penyidik menetapkan keduanya berdasarkan alat bukti namun, untuk sementara keduanya tidak dilakukan penahanan. Penyidik masih mempertimbangkan apakah perlu dilakukan pencekalan terhadap keduanya,” ungkap Khaidirman, Senin (8/3/2021).

Khaidirman melanjutkan, keduanya telah diperiksa sejak dua bulan lalu setelah dilakukan penyidikan.

Selama dua bulan puluhan saksi telah dihadirkan. Berdasarkan bukti dokumen yang telah diperiksa dan bukti keterangan saksi, keduanya dianggap memiliki peran dan tanggung jawab yang krusial di masjid Sriwijaya.

“Keduanya sudah lebih dari dua kali diperiksa sebagai saksi. Penyidik pidsus telah menganggap cukup untuk penetapan tersangka,” ujar dia.

Dari hasil penyidikan, masjid yang dibangun di atas lahan seluas 20 hektare (ha) sejak tahun 2015, diketahui sampai sejauh ini mangkrak. Pihak Kejati menduga ada penyimpangan dalam proses pembangunan.

Untuk jumlah kerugian negara, pihaknya masih menunggu hitungan dari Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan inspektorat, pihaknya belum dapat membocorkan berapa jumlah kerugian negara.

“Penyidik pidsus sendiri punya hitungan untuk berani menetapkan tersangka. Ini belum dapat kita buka berapa kerugian karena masih dalam proses penyidikan lebih lanjut. Termasuk soal aliran ke kedua tersangka belum sampai sana kita periksa,” jelasnya

Terkait pemeriksaan saksi dan kemungkinan tersangka baru, Khaidirman mengatakan semuanya masih mungkin terjadi.

Sebab proyek pembangunan masjid terbesar di Asia tersebut sampai sejauh ini masih dalam tahap penyidikan.

“Tersangka baru mungkin ada, karena proses penyidikan masih berjalan,” tutupnya

Menanggapi ditetapkannya sebagai tersangka oleh Kejati Sumsel, Eddy Hermanto mengaku, sudah tahu dari tiga bulan yang lalu bakal ditetapkan tersangka oleh pihak Kejati Sumsel.

“Tidak ada masalah kita ditetapkan sebagai tersangka, saya akan bertanggung jawab karena ini negara hukum,” katanya saat diwawancarai usai diperiksa Kejati Sumsel, Senin (8/3/2021)

Ia juga mengatakan, sudah dari jauh hari mengetahui bakal ditetapkan tersangka karna sudah dapat bocoran.

“Tidak kaget dan saya sudah siap untuk diperiksa lebih lanjut, saya siap perang dalam hal ini,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa dalam perkara ini dirinya hanyalah korban atas konspirasi antar-sesama mereka.

“Ini ‘kan ada dua periode, saya memegang termin kerja 1 sampai 3, sementara termin 4 – 6 masak saya yang nanggung,” tegasnya.

Namun disinggung mengenai apakah ada konspirasi politik, dirinya menegaskan tidak ada kosnpiriasi antara gajah dengan gajah.

“Kalau politik pemerintahan tidak ada ini hanya konspirasi antar-sesama saja dan saya jadi korbannya karena saya kepala pembangunannya,” tutupnya. (ron)

 

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.