Palembang, Sumselupdate.com – Seiring berjalannya waktu dan perkembangan prestasi olahraga di Palembang semakin melejit, ternyata berbanding terbalik dengan apresiasi para pemangku kebijakan.
Pasalnya, anggaran untuk Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Palembang semakin dipangkas. Padahal, KONI Palembang merupakan badan olahraga yang menaungi puluhan cabang olahraga di Bumi Sriwijaya. Terbukti, Palembang mampu mengantarkan kontingen menjadi pemenang sebanyak 10 kali multi event Porprov.
“Anggaran olahraga di Palembang semakin dipersempit, padahal perjuangan Palembang memberikan prestasi tak diragukan lagi. Dan ini yang harus jadi perhatian serius bagi para pemangku kebijakan,” tegas Ketua Umum KONI Palembang, Suparman Romans, Senin (22/1/2018).
Berangkat dari hal tersebut pihaknya akan menggelar dialog publik olahraga yang akan digelar di Gedung Parameswara, Rabu (24/1) dengan menghadirkan para pakar dan pemangku kebijakan. Mulai dari DPRD Palembang, Dispora Palembang, BPKAD, pengamat olahraga dan akan diikuti para pengurus cabor di kota Palembang.
“Kita melihat bahwa rasionalitas antara APBD dengan dana untuk olahraga sangat tak seimbang, apalagi ini 0,01 persen. Kita tidak muluk-muluk menginginkan 20 persen seperti daerah lain, tapi 1-2 persen saja cukup. Biarlah nanti para pakar olahraga dan pengamat yang berbicara tentang kondisi dan pantas kan rasionalitas tersebut,” tegas Suparman.
Tentu hasil dari dialog tersebut bukan hanya seremonial belaka, akan tetapi hasilnya akan menjadi bahan bagaimana perjuangan prestasi olahraha Palembang lebih diapresiasi lagi. “Harus ada output berupa rumusan untuk disampaikan ke Legislatif maupun Eksekutif,” jelasnya.
Sementara itu dikatakan Ade Indra Chaniago bahwa pemangku kebijakan selayaknya mampu melihat prestasi olahraga secara universal. Artinya banyak komponen bagaimana pembinaan dan prestasi hingga mengantarkan Palembang menjadi 10 kali juara umum pada ajang Porprov.
“Seharusnya resionalitas anggaran olahraga memang perlu diprioritaskan. Ini penting karena melihat sejarah, bagaimana perjuangan Palembang menggapai prestasi. Bahkan membawa bukan nama baik atlet, tapi daerah yaitu Palembang,” jelasnya.
Oleh karenanya dikatakan Ade, jika hal ini berlarut-larut lantaran pengambil kebijakan tak begitu paham mengenai bagaimana mengapresiasi olahraga maka akan berakibat fatal. (sbw)











