Nasir Djamil: Sosialisasi Empat Pilar Belum Terintegrasi

Muhammad Nasir Djamil

Jakarta, Sumselupdate.com – Gerakan-gerakan terorisme mulai bertransformasi dan masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Bukan hanya melalui jalur jihad, tapi juga jalur dakwah. Terbukti, sejumlah terduga terorisme yakni Komisi Fatwa Majelis Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ketua Partai Dakwah.

Menanggapi hal ini, anggota MPR RI dari Fraksi Partai Gerindra Sugiono menjelaskan, kelompok terorisme pada dasarnya merupakan kelompok lemah yang berupaya merongrong kelompok yang kuat. Aksi yang mereka lakukan karena ketidakpuasan terhadap situasi. Kemudian kemiskinan lahan yang subur untuk aksi-aksi ini.

Read More

“Di situ ada ketidakadilan pemisah yang terlalu tertinggi antara yang kaya dan miskin, itu merupakan lahan subur, di mana idealisme atau cita-cita kelompok seperti ini bisa tumbuh dan berkembang,” kata Sugiono dalam Diskusi 4 Pilar MPR yang bertajuk “Vaksinasi Empat Pilar Lawan Transformasi Kelompok Terorisme” di Media Center DPR, Jakarta, Senin (6/12/2021).

Menurut Sugiono aksi kelompok seperti itu masuk ke dalam unsur kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sepanjang ada ketidakadilan, ada kemiskinan, ada jurang antara miskin dan kaya, masih ada lahan di Indonesia untuk kelompok terorisme tumbuh dan berkembang.

“Bagaimana menghilangkan ataupun mengurangi lahan-lahan subur, di mana kelompok teroris ataupun pendukung terorisme ini bisa tumbuh.

Kita harus mengurangi kemiskinan, penciptaan lapangan pekerjaan, perbaikan penghasilan kemudian mengurangi pemisah antara yang kaya dan miskin dan hal-hal yang sifatnya meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya.

Dengan terpenuhi kebutuhan dasar masyarakat, kata dia, tidak ada alasan bagi masyarakat mencari-cari masalah dengan bergabung atau berafiliasi dengan kelompok terorisme. Ditambahkan, Empat Pilar Kebangsaan yakni Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, bukan hanya disosialisasikan kepada masyarakat, tapi konkret dan dapat dirasakan masyarakat.

“Bagaimana pemasyarakatan empat pilar ini tidak hanya sebatas tataran, paparan dan diskusi saja, lebih dari apa yang sudah kita lakukan sekarang, saya kira kita juga harus lebih nyata dalam merealisasikan apa yang kita yakini sebagai empat pilar ini,” tegasnya.

Mantan Sekretaris Pribadi Prabowo itu mencontohkan, berbicara tentang Pancasila maka tidak hanya menguraikan Pancasila, tapi bagaimana menciptakan suatu iklim di mana Pancasila dilaksanakan. Lalu UUD 45, bukan hanya menjelaskan pembukaan saja tetapi bagaimana mewujudkan apa yang dicita-citakan pendiri bangsa.

“Baik itu melalui konsultasi, produk-produk legislasi yang dilakukan oleh DPR dan sebagainya, jadi kita bikin iklim dan suasana serta lahan yang tidak subur atau tidak mendukung untuk tubuhnya gerakan-gerakan terorisme ini,” pungkas legislator Dapil Jawa Tengah.

Anggota MPR RI dari Fraksi PKS Muhammad Nasir Djamil berpandangan bahwa gerakan terorisme itu ada dan terus ada sebagai sebuah pemahaman, karena dalam konteks Islam modern maupun Islam tradisional, gerakan terorisme adalah Islam sempalan yang sesungguhnya hanya sedikit.

Sehingga, terorisme harus dilihat dalam konteks politik, kemudian bagaimana peran media, kemiskinan dan keamanan internasional. Sebagian orang berpendapat terorisme secara umum hadir ketika adanya tekanan politik oleh rezim yang berkuasa, adaya ketidakadilan dan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

“Bisa jadi terorisme sebuah gerakan orang lemah melawan ketidakadilan.Oleh karena itu sebagian menganggap tindakan teroris pahlawan ,” kata Nasir dalam Diskusi 4 Pilar MPR yang bertajuk “Vaksinasi Empat Pilar Lawan Transformasi Kelompok Terorisme” di Media Center DPR, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (6/12/2021).

“Jadi bagi pengikutnya mereka dianggap pahlawan, karena kita bicara akademis, ilmiyah, karena itu memang saya lihat bahwa memang harus dilihat dalam konteks dalam dalam kacamata psiko politik apakah memang ada sifat-sifat khusus seorang teroris itu, apakah ada karakter khusus orang seseorang yang disebut dengan teroris itu, lalu bagaimana peran media,” sambungnya.

Mantan anggota Pansus RUU Anti-Terorisme ini berpandangan, peran media tidak bisa diabaikan. Peran media cukup besar untuk memberikan informasi kepada masyarakat terkait bagaimana sel-sel terorisme itu hidup. Sehingga, sosialisasi Empat Pilar MPR RI efektif bisa menangkal penyebaran, pemikiran atau cara berpikir radikalisme yang menjurus kepada arah terorisme.

Aggota Komisi III DPR ini menyayangkan sosialisasi Empat Pilar belum begitu profesional dan belum terintegrasi dengan lembaga negara lainnya yang juga bertugas untuk melakukan deradikalisasi.

“Misalnya dengan BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila), belum terintegrasi dengan BNPT (Badan Nasional penanggulangan Terorisme), dalam beberapa kali rapat di komisi III, saya sudah mengajak untuk

bersama-sama, kita punya program sosialisasi Empat Pilar, mari kita sama-sama di tengah masyarakat,”jelasnya. Politikus PKS ini menambahkan, BNPT tidak memiliki aparatur yang cukup, hanya Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) yang tidak begitu banyak. Padahal, dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme No. 5/2018 itu diharapkan BNPT bisa menjadi suatu organisasi yang mengkoordinasi semua.

“Jadi narasi-narasi itu dilakukan oleh BNPT, ketika terjadi penangkapan penangkapan maka BNPT punya juru bicara itu harapan saya waktu itu sebenarnya, karena saya ikut dalam pansus dan panja,” kata Nasir.

Dikatakan Nasir, sosialisasi Empat Pilar MPR RI sangat strategis kalau dilakukan secara baik dan benar. Dan dia pernah mengusulkan pada pimpinan MPR untuk membuat modul sosialisasi dan pelatihan untuk semua level pendidikan. Karena sudah tidak ada lagi bidang study P4 atau PMP.

“Oleh karena itu harus berkolaborasi antara BPIP, MPR RI dengan sosialisasi empat pilar, BNPT. Ini saya katakan trisula maut untuk mencegah dan menanggulangi terorisme di Indonesia. Walaupun kita bicara lebih luas lagi, maka saya katakan tadi mari kita lihat dalam perspektif politik, kemudian peran media, kemiskinan dan internasional dalam konteks keamanan itu sendiri,” paparnya. (duk)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.