Muddai Madang Akui Dana Sponsor tak Menutupi Kebutuhan Klub

Muddai Madang.

Palembang, Sumselupdate.com – Kesulitan finansial yang dialami Sriwijaya FC pada kompetisi Liga 1 2018 sempat membuat manajemen PT Sriwijaya Optimis Mandiri atau SOM beberapa kali menunggak gaji pemain.

Bahkan, akibat seretnya pemasukan klub, memaksa sejumlah pemain harus angkat kaki dari Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang pada putaran kedua kompetisi.

Bacaan Lainnya

Komisaris Utama PT SOM, Muddai Madang, selaku pemilik saham mayoritas SFC tidak menampik bahwa dana yang diperoleh perusahaan dalam bentuk sponsor selama ini tidak pernah mencukupi kebutuhan klub.

“Pada musim ini perusahaan hanya mendapatkan dana sponsor sekitar Rp18 miliar, sementara kebutuhan klub mencapai Rp30 miliar. Dana sponsor tidak pernah mencukupi kebutuhan klub. Ini sebenarnya fakta yang terjadi selama bertahun-tahun,” ujar Muddai, Sabtu, (22/12)

Muddai menyebut, pendapatan sponsor senilai Rp18 miliar itu diperoleh dari sejumlah sponsor, ialah PT Bank Sumsel Babel, Smartfren, PT Semen Baturaja, PT Bukit Asam, PDPDE, Calci, Kuku Bima, dan Go-Jek.

Oleh karena itu, sejak turun tangan mengurus Sriwijaya FC pada Juni 2018 lantaran terjadi persoalan finansial, Muddai membuat skema perencanaan keuangan agar pengelolaan klub asal Sumatera Selatan ini nantinya bisa menguntungkan pada 2019.

PT SOM kemudian menjalin kerja sama dengan PT Digisport Asia, perusahaan profesional internasional yang bergerak di bidang jasa finansial teknologi atau finteck, pemasaran, dan IT.

“Ini perusahaan jasa yang sengaja saya gandeng, untuk menggali potensi dana yang bisa kami dapatkan. Namun sayangnya, kami terdegradasi. Meski Digi Asia tidak mundur, tapi tentunya ada sejumlah penyesuaian,” kata Muddai.

Menurut Muddai, jika mengacu secara bisnis, sejatinya bisnis pengelolaan klub profesional ini sangat menguntungkan, asalkan dikelola secara baik dan bisa menggali potensi sponsor.

Hal ini karena pangsa pasar industri sepak bola yang sangat besar mengingat dapat memberikan multiplier effect atau efek pengganda.

“Persib, Persija dan Bali United, itu bisa untung. Artinya logikanya kenapa kita tidak? Itulah saya mengandeng Digisport Asia, untuk target 2019 harus untung,” ujar mantan Ketua KONI Sumatera Selatan itu. (tra)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.