Di sela tugasnya sebagai juru parkir di Jalan Jenderal Sudirman Palembang, Dodi mengais rezeki dengan cara tak lazim. Dari betok hingga lele yang tersangkut di mata kail, ia menambah lauk dan penghasilan untuk menafkahi istri serta dua anaknya.
SAAT sebagian warga Palembang masih terlelap, Dodi sudah berdiri di tepi saluran air di Jalan Jenderal Sudirman Palembang.
Kamis pagi, 1 Januari 2026, pria berusia 40 tahun itu kembali menjalani rutinitasnya: memancing ikan, bukan di sungai atau rawa, melainkan di lubang sempit saluran air perkotaan.
Lubang itu hanya sebesar kepalan tangan. Dengan sabar, Dodi menurunkan benang pancing bermata kail ke dalamnya.
Gerakannya pelan, nyaris tanpa suara. Dari kejauhan, ia tampak seperti sedang mengintip sesuatu di dasar saluran.
Bagi Dodi, tarikan benang yang keluar dari spool adalah isyarat rezeki. Tanda ikan menyambar umpan. Pagi itu, tujuh ekor ikan betok berhasil ia angkat satu per satu.
Aktivitas memancing tersebut bukan sekadar hobi pengisi waktu luang. Dodi melakukannya di sela-sela pekerjaannya sebagai juru parkir di deretan toko Martabak HAR dan Toko Asia Maliki. Profesi itu sudah digelutinya selama 30 tahun.
Dari jalanan kota dan saluran air itulah Dodi menggantungkan hidup. Pria yang tinggal di kawasan Merah Mata, Kecamatan Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin, ini menafkahi istri dan dua anaknya. Anak sulungnya kini duduk di bangku SMA.
“Biasanya paling bagus jam setengah enam sampai jam enam pagi. Di jam itu ikan lapar dan keluar cari makan,” ujar Dodi sambil merapikan benang pancingnya.
Ikan yang ia peroleh beragam, mulai dari betok, gabus, hingga lele. Menurut Dodi, ikan-ikan tersebut berasal dari Sungai Musi yang airnya mengalir ke saluran-saluran kota.
Ketika air Sungai Musi pasang, hasil pancingan pun ikut meningkat. Dalam sehari, Dodi bisa membawa pulang lebih dari satu hingga dua kilogram ikan.
“Ikan biasanya buat lauk di rumah. Kalau sudah banyak, ada juga yang dijual,” katanya.
Bagi Dodi, saluran air di tengah hiruk-pikuk Jalan Sudirman bukan sekadar drainase kota. Di sanalah ia menemukan ketenangan, harapan, dan tambahan rezeki.
Di antara suara kendaraan dan langkah pejalan kaki, Dodi membuktikan bahwa kehidupan bisa terus berjalan, bahkan dari lubang kecil di pinggir jalan.
(**)











