Kriminologi Apresiasi Langkah Pemilik Satwa Dilindungi dan Opsetan Menyerahkan ke Petugas  

Kriminologi Azwar Agus.

Laporan Haris Widodo

Palembang, Sumselupdate.com – Apa yang dilakukan pemilik enam hewan dilindungi baik yang telah opsetan maupun dalam keadaan hidup yang menyerahkannya ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan (Sumsel) pada Senin (22/11/2021), disambut baik oleh kriminologi Kota Palembang.

Read More

Diketahui BKSDA Sumsel bekerja sama dengan Unit Pidana Umum Polrestabes Palembang mendapatkan serahan empat hewan opsetan seperti harimau, beruang, dan tiga hewan langka yakni dua Kakatua Koki, dan satu individu Kasturi Ternate.

Dengan diserahkannya hewan tersebut kriminologi Azwar Agus menilai, hewan langka tersebut dapat dinikmati sampai generasi yang akan datang.

Operasi penertiban tumbuhan dan satwa (TSL) dilindungi yang dilakukan oles Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) bersama Unit Pidsus Polrestabes Palembang, Selasa (16/11/2021).

“Untuk hukum tetap ada hukumnya. Namun, karena kejadian ini secara sukarela pemiliknya menyerahkan ke pihak terkait tentu tidak diberikan hukuman,” ujarnya kepada awak media saat ditemui di Universitas Taman Siswa, Selasa (23/11/2021).

Ia menjelasakan bahwa sesuai pasal 21 ayat (2) UU 5/1990 yang berbunyi: Setiap orang dilarang untuk

  1. Menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup;
  2. Menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati;
  3. Mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
  4. Memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
  5. Mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi.

Jika dilanggar akan mendapatkan sanksi pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp100 juta (Pasal 40 ayat [2] UU 5/1990).

“Ada pengecualian bagi penangkapan satwa yang dilindungi tersebut, yaitu hanya dapat dilakukan untuk keperluan penelitian, ilmu pengetahuan, dan/atau penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa yang bersangkutan,” katanya. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.