Kisah Sedih Para ‘Santri’ Dimas Kanjeng

Minggu, 2 Oktober 2016
Dimas Kanjeng Taat Pribadi

Surabaya, Sumselupdate.com – Ribuan pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang semula menghuni tenda-tenda dan gubuk-gubuk darurat di lingkungan padepokan seluas dua kali lapangan sepakbola di Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, sejak Jumat (30/9) mulai berangsur berkurang. Mereka yang mulanya ribuan orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia itu kini tinggal ratusan orang yang bertahan.

Seperti aktivitas selama ini, meraka olahraga bersama di pagi hari, menonton televisi bersama, bermain catur, berkomunikasi antara satu sama lain, tidur, hingga mandi dan buang air besar pun mereka lakukan di tenda-tenda tersebut. Namun, khusus untuk tempat mandi dan buang air itu ada tempat khusus, berupa jumbleng (lubang galian tanah yang alas untuk kaki berupa palang-palang bambu) dengan atap terpal plastik.

Di tenda-tenda darurat dan dalam waktu berbulan-bulan, mereka hidup sangat sederhana sekedar untuk menunggu “cair” atau “panenan” uang hasil penggandaan dari uang yang mereka setorkan sebagai mahar sebelumnya.

Sejumlah “santri” padepokan, seperti Amron berasal dari Tenggarong dan Yuliadi dari Jember, mengaku sudah tujuh bulan bertahan di padepokan. Mereka belum bisa pulang karena sudah tidak memiliki bekal apa-apa. Amron sebagai pedagang di kotanya, mengaku bekal yang dibawanya sebanyak Rp 25 juta sudah habis untuk makan-minum dan beramal selama menjadi “santri” sesuai anjuran Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Advertisements

Ia juga menyatakan sudah memberi mahar sebesar Rp 0,5 miliar sejak tiga tahun lalu. Sesuai janji guru Dimas Kanjeng, Oktober ini seharusnya ia mendapatkan uang penggandaan menjadi Rp 50 miliar.

Pengakuan serupa disampaikan Yuliadi. Ia yang hanya menyerahkan uang mahar Rp 50 juta pada empat tahun lalu juga dijanjikan Oktober ini bakal mendapatkan uang penggandaan.

“Walaupun saya hanya dari Jember, tapi malu kembali pulang karena sudah tidak punya apa-apa lagi,” aku Yuliadi yang memiliki satu isteri dan dua anak yang ia duga kini setia menunggu kedatangannya, seperti dikutip dari beritasatu.com, Sabtu (1/10).

Sementara itu, lelaki berinisial Mul asal Makassar, datang melapor ke Mapolda Jatim, Jumat (30/9) sore. Dia melapor atas nama ibunya, Najmiah Muin (NM) dan saudaranya, Muhyina Muin (MM). Ia yang datang didampingi anggota DPR RI, Akbar Faisal asal Makassar diterima oleh Kapolda Jatim, Irjen Pol Anton Setiadji.

Mul datang membawa bukti-bukti penipuan yang dilakukan Dimas Kanjeng, di antaranya “emas” batangan palsu dan uang palsu. Emas batangan yang diberikan Kanjeng Dimas ternyata hanya batangan kuningan yang bagian luarnya disepuh emas. “Ini barang bukti sudah disimpan ibu selama dua tahun lalu,” aku Akbar.

Mul sendiri enggan berkomentar dan memilih diam. Sementara Akbar Faisal berjanji akan membeber kronologi penipuan tersebut yang diperkirakan jumlahnya mencapai puluhan miliar yang dilakukan Dimas Kanjeng kepada keluarga NM dan MM di Makassar. (shn)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.