Kisah Nenek Nurhayati Tinggal Digubuk Reyot di Plaju Palembang

Nenek Nurhayati yang tinggal sendiri di rumah yang sebenarnya tidak layak huni lagi.

Palembang, Sumselupdate.com – Nenek Nurhayati (79), warga Jalan Kapten Robani Kadir, Kelurahan Talang Putri, Kecamatan Plaju, Palembang, memilih tinggal sendiri di gubuk yang sudah reyot di tengah rawa. Padahal, anaknya beberapa kali ingin mengajaknya tinggal bersama.

Telah lama tinggal di rumah itu bersama almarhum suami sejak 2003, menjadi alasan Nenek Nurhayati enggan meninggalkan rumah yang sebenarnya tidak layak huni dan berada di atas lahan Pertamin itu. Terlihat tumbuhan liar merambat ke salah satu sisi rumah. Rumah semi permanen, berdinding kayu dan atap seng tersebut sudah nyaris roboh karena dimakan usia.

Bacaan Lainnya

Kondisi atap pun tak kalah memprihatinkan, sudah banyak yang bocor, sehingga ketika hujan deras, Nurhayati harus merasakan tetesan air hujan. Belum lagi, lantai rumah yang terbuat dari kayu pun lapuk karena terendam air.

Tidak ada perabotan rumah tangga seperti pada umumnya. Hanya terlihat ada alas kasur tipis dan beberapa tempat penampungan air bersih. Meski mempunyai dua orang anak yang telah berkeluarga, namun ia tidak mau untuk membebani sang anak.

“Tidak mau membebani anak, lebih enak di sini saja, karena tanah di sini bisa untuk ditanami,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nenek Nurhayati mengatakan, jika sang anak tetap setiap hari berkunjung untuk mengantarkan makanan.

“Sering dimarahi anak ngapo nak di sini nian, gek dikatoi wong gilo. Tapi aku tetap dak mau, rumah-rumah aku dewek,” katanya dengan logat Bahasa Palembang.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Palembang, Ratu Dewa menyempatkan diri untuk melihat kondisi sang nenek secara langsung. Berjalan kaki, dirinya menyusuri gang sempit untuk tiba di tempat Nenek Nurhayati.

Dewa mengaku prihatin dengan kondisi rumah yang tak laik untuk dihuni. Ia bahkan menawarkan agar nenek Nurhayati agar mau direlokasi.

“Tapi beliau menolak, karena masih betah di sini. Pernah ikut dengan anaknya, tapi kembali lagi ke rumahnya dan tinggal sendirian. Kita kasihan kalau beliau tinggal sendirian siapa yang mengurusnya,” katanya.

Sebagai solusi, kata Dewa, mereka akan melakukan koordinasi dengan PT Pertamina. Mengingat, jika masuk dalam program bedah rumah atau dibangun kembali tidak bisa dilakukan.

“Kita coba perbaiki agar lebih laik untuk ditinggali. Jika dibangun ulang tidak bisa karena ini aset Pertamina,” katanya.

Sementara itu, Ruslidar Ketua RT 13 mengatakan warga sekitar mencoba membantu agar sang nenek mendapatkan tempat tinggal laik huni.

“Warga istilahnya bantu semampu mereka. Harapan kami, agar beliau dapat hunian yang laik di usia tuanya,” katanya. (Iya)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.