Ketum DePA-RI Tahir Musa Luthfi Yazid Jadi Pembicara di Mabes TNI AU, Bekali Perwira Teknik Negosiasi

Writer: - Jumat, 24 April 2026
Ketum DePA-RI Luthfi Yazid (kanan) menerima cinderamata dari Sekretaris Dinas Hukum TNI Angkatan Udara Kolonel Kum (W) Dr. Lidia Rina D, SH, MH, CLA (kiri) usai pembekalan kepada para perwira TNI AU di Jakarta, Kamis 23 April 2026 (Foto: Istimewa)

Jakarta, Sumselupdate.com – Ketua Umum Dewan Pergerakan Advokat Republik Indonesia, Tahir Musa Luthfi Yazid, memenuhi undangan Markas Besar TNI Angkatan Udara sebagai pembicara dalam kegiatan peningkatan kapasitas perwira, Kamis (23/4/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Luthfi memberikan materi terkait teknik negosiasi, komunikasi, dan mediasi yang disambut antusias oleh para peserta. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid, baik daring maupun luring, dan diikuti ratusan perwira TNI AU dari berbagai wilayah Indonesia.

Read More

Melalui kolaborasi ini, Luthfi berharap para perwira dapat menjalankan tugas secara profesional, berpegang pada nilai konstitusi, serta mampu memahami akar konflik dan mengelolanya dengan komunikasi yang efektif.

Ia menekankan pentingnya kemampuan komunikasi dalam membangun pengaruh positif.

“Semakin baik komunikasi seseorang, semakin besar peluangnya untuk memengaruhi secara positif,” ujarnya.

Selain itu, ia menilai ketepatan dan kecermatan dalam pengambilan keputusan merupakan hal fundamental, mengingat perwira adalah sosok “the man behind the gun” yang memegang peran strategis.

Menurutnya, keberhasilan militer tidak hanya ditentukan oleh alutsista dan teknologi, tetapi juga oleh kebijaksanaan individu.

Luthfi juga menegaskan pentingnya kemampuan mengelola konflik, baik konflik kepentingan, struktural, maupun konflik nilai yang berkaitan dengan keyakinan, adat istiadat, ideologi, dan agama.

Ia mengutip pemikiran Christopher W. Moore terkait pentingnya memahami jenis-jenis konflik serta ketepatan dalam membaca data untuk menghindari kesalahan persepsi.

Sebagai inspirasi, ia mengajak para perwira untuk meneladani tokoh-tokoh tentara intelektual Indonesia seperti Soedirman, Abdul Haris Nasution, Tahi Bonar Simatupang, Soemitro, Saidiman Suryohadiprojo, serta Try Sutrisno.

“Di era disrupsi hukum dan perkembangan teknologi seperti The Rule of Algorithm, para perwira tidak boleh stagnan dan harus terus berkontribusi dalam mewujudkan keadilan sosial,” tambahnya.

Diketahui, Luthfi memiliki pengalaman internasional di bidang resolusi sengketa, termasuk pernah berkolaborasi dengan Alisa J. Steren dari National Institute for Dispute Resolution (NIDR) di Washington DC, Amerika Serikat. Ia juga pernah menjadi dosen di University of Gakushuin, Tokyo, untuk mata kuliah Comparative Dispute Resolution dan Wakai.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts