Ketua HMI Cabang Babel Pertanyakan Seberapa Mendesak Jembatan Bahtera Sriwijaya?

Ketua HMI Cabang Babel, Adhy Yos Perdana

Pangkalpinang, Sumselupdate.com – Sebelum adanya pandemi Covid-19, muncul wacana dari Pemprov Babel dan Sumsel akan bekerja sama ingin tekan MoU pengajuan ke Bappenas untuk pembanguna Jembatan Bahtera Sriwijaya.

Menurut Ketua HMI Cabang Babel, Adhy Yos Perdana, dirinya masih mendengar keluh kesah masyarakat terhadap pembangunan jembatan tersebut baik dari pro dan kontra

Bacaan Lainnya

“Dari sisi pro, yang pasti akan membuka akses kedua daerah baik dari Babel dan Sumsel. Yang pertama tentu inflasi di Babel seperti harga cabe yang cukup menakutkan pada beberapa waktu lalu, sekitar 100-150 ribu bisa ditekan. Dengan adanya akses itu mungkin 10 menit sudah sampai,” ujarAdhy.

Lanjutnya, “Yang kedua, komoditi-komiditi yang ada di Bangka seperti nanas harga petani untuk dikirim ke Jakarta dengan muatan ton hanya 2 ribu, tapi jika ada jembatan ini akan membuka pasar-pasar baru,” imbuh Adhy.

Ditambahkannya, komiditi seperti lada dan timah Babel belum bisa menjual langsung, harus melalui pengepul.

“Komoditi yang cukup menyentuh masyarakat yaitu lada dan timah. Sejauh ini masyarakat Bangka Belitung tidak dapat menjual langsung, selalu melalui pengepul dan nanti kalo aksesnya sudah terbuka masyarakat akan bisa menjual sendiri,” sebut Adhy.

Meski demikian, Adhy juga menyoroti dampak negatif dari pembangunan tersebut munculnya kekhawatiran masyarakat akan keamanan.

“Dampak negatif dari pembangunan jembatan tersebut, yang pertama masyarakat resah soal keamanan. Katanya dari sana akan banyak begal, ataupun kerusuhan-kerusuhan. Namun perlu diketahui bersama dalam setiap perubahan besar, akan selalu terjadi kondisi seperti konflik sosial. Tidak perlu khwawatir berlebihan, karena kita memiliki aparat polisi yang akan menjalankan tugasnya terkait keamanan,” ungkap adhy.

Namun demikian, Adhy masih menyorot urgensi pembangunan jembatan Bahtera Sriwijaya.

“Kalo untuk sekarang se-urgent apakah jembatan bahtera Sriwijaya akan dibangun, apalagi ini membicarakan uang APBN. Sedangkan ibu Sri Mulyani selaku menteri Keuangan yang sering berstatemen APBN kita berat, tapi masih membangun jembatan Bahtera Sriwiajaya dengan anggaran 15 triliun. Kalau uang pembangunan itu ada itu sah-sah saja untuk dilakukan, tapi uangnya dadakan ngutang ini yang kemudian berat. Apakah tidak efektif jika dibangun saja pelabuhan di sini dan di sana. dan kenapa harus jembatan,” sebut adhy.

Adhy menambahkan pembangun jembatan Bahtera Sriwijaya di masa pandemi Covid-19 kurang elok.

”Sebenarnya kepala-kepala daerah yang ingin membangun jemabatan Bahtera sriwijaya, apalagi di masa Covid-19 itu kurang elok, sedangkan rakyat hari ini hampir tidak bisa bersuara lagi dengan adanya covid, jangan mentang mentang ini proyek nasioanal Pemda acuh tak acuh,” tutup Adhy. (Jip)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.