Kabut Asap Selimuti Jalintim Ogan Ilir

Petugas sedang memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Ogan Ilir.

Palembang, Sumselupdate.com – Kabut asap menyelimuti Jalan Lintas Timur Sumatra (Jalintim) dan Tol Palembang-Indralaya (Palindra), akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Ogan Ilir. Tebalnya asap membuat jarak pandang pengendara yang melintas terbatas.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Ogan Ilir dalam dua hari terakhir, seperti diketahui terjadi di lahan rawa di wilayah Desa Arisan Jaya, Kecamatan Pemulutan Barat, Ogan Ilir.

Read More

Sejak Januari hingga Agustus, kebakaran mengakibatkan sekitar 141,27 hektare (Ha) lahan hangus. Kebakaran ini meningkat drastis jika dibandingkan dengan kejadian tahun lalu dengan data Januari-Oktober hanya seluas 96,4 ha.

Lahan di wilayah lain yang terbakar seperti Banyuasin tercatat 16,52 ha, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) 4,25 ha, Musi Banyuasin (Muba) 9,5 ha, Ogan Komering Ulu (OKU) 2 ha, dan OKU Selatan 0,25 ha.

“Wilayah Ogan Ilir sulit dipadamkan jika terjadi kebakaran lahan karena wilayahnya sangat luas. Semua lahan tidak semuanya bisa terjangkau oleh darat, karena kemampuan kita terbatas hingga radius beberapa ratus meter. Kebakaran sampai ke lahan bagian dalam,” kata Kepala Bidang Kedaruratan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Ansori, Rabu (4/8/2021).

Kebakaran lahan sudah berhasil dipadamkan oleh tim gabungan lintas instansi kemarin petang. Namun dari laporan tim yang memadamkan di lapangan, api kembali muncul tidak jauh dari lokasi yang sebelumnya terbakar di Desa Arisan Jaya.

Beberapa faktor kebakaran lahan di Ogan Ilir diduga terjadi karena ulah manusia. Namun itu semua masih didalami oleh tim Satgas Karhutla OI. Meski bukan gambut, lahan yang terbakar adalah rawa atau lebak yang tidak produktif dan tak dijaga pemiliknya.

“Banyak lahan tidak dipakai. Memang ada unsur manusia akibat kelalaian. Bisa saja karena puntung rokok atau bakar sampah, sehingga api tertiup angin dan melompat ke lahan tidak produktif,” ujarnya

Potensi kebakaran hutan dan lahan tidak hanya terjadi di Ogan Ilir. Beberapa daerah lain seperti Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, dan Muba yang memiliki lahan gambut luas juga berpotensi terbakar.

Pada Agustus dan September 2021 diprediksi Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi puncak kemarau. Akibatnya, potensi hujan akan mengecil sehingga lahan-lahan seperti gambut akan mudah terbakar jika mengalami kerusakan ataupun kekeringan.

“Potensi karhutla di kemarau meningkat karena lahan kita kering. Air di beberapa wilayah gambut pun mulai berkurang sekitar 50 sentimeter hingga empat meter,” ungkapnya

Untuk mewaspadai karhutla, Pemprov Sumsel meminta tambahan helikopter waterbombing(WB) ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebanyak empat unit. Sumsel baru mengoperasikan tujuh helikopter, dua helikopter patroli dan lima WB dengan kapasitas angkut air mencapai 4.000-5.000 liter air dalam satu kali penerbangan.

“Kalau potensi karhutla semakin meningkat, peminjaman helikopter akan semakin cepat,” tutupnya. (Ron)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.