Jakarta, Sumselupdate.com – Beragam ‘challenge’ atau tantangan unik banyak tersebar di dunia maya. Sekalipun aksi tersebut tergolong berbahaya, tetapi tidak sedikit remaja yang mengaku kekinian yang menirunya,.
Remaja memang mempunyai adrenalin tinggi dan semangat menggebu. Kebanyakan mereka memang menilai ‘skip challenge’ adalah tantangan bagi mereka. Menurut dr. Nastiti Kaswandani dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI, sikap merasa tertantang untuk melakukan sesuatu di usia remaja merupakan sebuah hal wajar.
“Dalam psikologi remaja, mereka ingin dianggap memiliki keberanian dan hebat,” kata Nastiti, seperti dilansir CNNIndonesia.com.
Dengan mengutip No Bullying, menurutnya, ada alasan lain mengapa anak-anak dan remaja suka bermain tantangan berbahaya.
Tantangan untuk bisa viral di dunia maya, menyebabkan remaja ingin dianggap keren dan populer ketika terlibat melakukannya. Tantangan tersebut dianggap bisa memberikan popularitas tersendiri untuk mereka.
Selain itu, skip challenge yang dilakukan dengan menekan dada dan menghambat laju pernapasan ini, bisa jadi dianggap sebagai tindakan berani atau sebagai sebuah cara konyol untuk melepaskan rasa ‘penasaran,’ bahkan stres. Cara ini pun dianggap sebagai upaya legal untuk bisa mendapat kepuasan dan kesenangan. Efek yang dihasilkan, dianggap sama dengan efek dari mengonsumsi obat-obatan terlarang ilegal.
Anak-anak dan remaja percaya bahwa tantangan ini digunakan untuk menekan emosi, sekaligus percaya bahwa hal itu dapat menjadi bentuk pelarian dari realitas yang mereka hadapi sehari-hari.
Peserta melakukan berbagai tantangan berbahaya ini ketagihan efek ‘high’ yang mereka dapatkan sebagai hasil dari uji adrenalin yang mereka dapatkan.
Permainan Berbahaya
Meskipun demikian, tindakan ini sangatlah berbahaya. Efek ‘high’ dan pembakaran adrenalin yang terasa ini justru berbahaya. Saat oksigen terhambat, sel-sel otak dan bagian tubuh lainnya akan mulai rusak. Hal ini dapat menyebabkan kejang dan bahkan kematian.
Sementara itu, maraknya aneka ‘permainan’ penantang kematian seperti skip challenge ini telah mengundang keprihatinan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes RI, dr Eni Gustina menegaskan, tantangan ini adalah aksi yang berbahaya.
Menurutnya, aksi yang marak di kalangan remaja sekolah ini harus mendapat banyak perhatian dari pihak sekolah, khususnya Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
“Kami baru tahu soal ini, dan akan kami sosialisasikan untuk UKS. Kebetulan kami mau ada pelatihan petugas UKS di Jakarta dan perlu dijelaskan ke anak bahwa otak itu sangat penting,” ujarnya. (shn)











