Houthi dan Arab Saudi Saling Serang, 8 Orang Tewas dalam Gempuran Udara di Yaman

Writer: - Senin, 26 Oktober 2026
Foto yang disediakan oleh Houthi Media Center ini memperlihatkan peluncuran sebuah rudal yang diduga diarahkan ke Mocha di Yaman pada 9 Agustus 2026. (Houthi Media Center/Xinhua)

Riyadh, Sumselupdate.com – Kelompok Houthi di Yaman dan koalisi pimpinan Arab Saudi saling melancarkan serangan pada Sabtu (24/10/2026). Houthi mengklaim meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah wilayah Arab Saudi, sementara serangan udara koalisi menghantam wilayah Yaman yang dikuasai kelompok tersebut dan dilaporkan menewaskan delapan orang.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, mengatakan kelompoknya melancarkan tujuh serangan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan bandara, fasilitas minyak, serta pangkalan militer di sejumlah kota Arab Saudi.

Read More

Wilayah yang disebut menjadi sasaran meliputi Riyadh, Yanbu, Rabigh, Dammam, Najran, dan Khamis Mushait.

Sarea mengatakan Bandar Udara Internasional King Khalid di Riyadh menjadi sasaran serangan dalam dua tahap. Serangan lainnya disebut menyasar fasilitas Saudi Aramco di Yanbu dan Bandar Udara Internasional King Fahd di Dammam.

Namun, koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat dan menghancurkan sejumlah rudal yang diluncurkan Houthi ke arah Riyadh, Taif, dan Yanbu. Koalisi juga mengklaim berhasil menghancurkan sebuah drone di Provinsi Timur.

Puing Rudal Jatuh di Makkah dan Madinah

Direktorat Jenderal Pertahanan Sipil Arab Saudi melaporkan puing-puing dari dua rudal yang berhasil dicegat jatuh di wilayah Makkah dan Madinah.

Menanggapi laporan tersebut, kelompok Houthi membantah telah menargetkan kedua kota suci umat Islam itu. Mereka menyebut klaim tersebut sebagai informasi yang palsu dan tidak berdasar.

Houthi mengklaim serangan terhadap wilayah Arab Saudi dilakukan sebagai respons atas sekitar 100 serangan udara yang menurut mereka dilancarkan Saudi terhadap wilayah-wilayah yang dikuasai kelompok tersebut di Yaman dalam 24 jam sebelumnya.

Serangan udara itu dilaporkan menyasar sejumlah lokasi, termasuk Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai Houthi, serta Kota Mocha di pesisir Laut Merah, Provinsi Taiz, Yaman barat daya.

Stasiun televisi Al-Masirah yang dikelola Houthi melaporkan delapan orang tewas dan lebih dari 10 lainnya terluka ketika serangan udara menghantam tempat tinggal pekerja pabrik semen di Distrik Hamdan, Provinsi Sanaa.

Laporan korban tersebut berasal dari media yang dikelola Houthi dan belum disertai konfirmasi independen dalam informasi yang tersedia.

Rudal Houthi Juga Sasar Aden

Eskalasi serangan terjadi ketika pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, dengan dukungan koalisi pimpinan Arab Saudi, meningkatkan operasi militer bertajuk Dawn of Yemen atau Fajar Yaman terhadap Houthi.

Kelompok tersebut kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone.

Dalam pernyataan terpisah, Sarea mengklaim pasukan Houthi menargetkan pengerahan pasukan yang didukung Arab Saudi di Kamp Al-Nasr serta sebuah pangkalan militer angkatan laut di Aden, kota pelabuhan di Yaman selatan yang menjadi pusat pemerintahan Yaman.

Seorang pejabat keamanan setempat mengatakan kepada Xinhua bahwa Houthi menembakkan sekitar empat rudal balistik ke Aden.

Menurut pejabat tersebut, beberapa rudal menghantam kawasan dekat Bandar Udara Internasional Aden dan fasilitas militer penting di Distrik Khormaksar. Satu rudal lainnya dilaporkan menghantam markas Pasukan Penjaga Pantai Yaman di Distrik Al-Tawahi.

AS Perbarui Peringatan Perjalanan

Di tengah meningkatnya ketegangan, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Sabtu menyatakan telah memperbarui imbauan perjalanan bagi sejumlah negara di Timur Tengah.

Negara-negara yang disebut dalam pembaruan tersebut meliputi Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Irak, Lebanon, dan Israel. Peringatan itu menyoroti ancaman yang berkaitan dengan kelompok Houthi.

Konflik Yaman telah berlangsung sejak akhir 2014, ketika Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara negara tersebut.

Pada 2015, koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Konflik berkepanjangan itu kemudian melibatkan berbagai pihak dan memicu krisis kemanusiaan yang serius di negara tersebut.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts