Riyadh, Sumselupdate.com – Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah melancarkan enam serangan terhadap sejumlah target militer, fasilitas minyak, dan bandara di Arab Saudi dalam kurun waktu 48 jam hingga Senin (19/10/2026).
Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Arab Saudi menunda konferensi investasi internasional Future Investment Initiative (FII) ke-10 yang semula dijadwalkan berlangsung pada 26-29 Oktober 2026 di Riyadh hingga 2027.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, mengatakan serangan pertama menyasar fasilitas perusahaan minyak Arab Saudi, Saudi Aramco, di Kota Yanbu, pesisir Laut Merah. Menurut klaimnya, serangan itu mengenai sasaran dan memicu kebakaran.
Sarea juga mengklaim serangan kedua menyasar ladang minyak Shaybah di wilayah timur Arab Saudi dan menyebabkan kebakaran.
Sejumlah target lain yang disebut dalam pernyataannya meliputi Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Bandara Internasional Abha di barat daya Arab Saudi, serta beberapa instalasi radar dan pangkalan militer.
Target yang disebut lainnya adalah instalasi radar di Jabal al-Hisn, Jabal al-Rahmah dan wilayah Najran, Pangkalan Udara King Khalid dekat Khamis Mushait, serta kamp satuan tugas Angkatan Laut Arab Saudi.
Sarea menyebut operasi tersebut sebagai balasan atas lebih dari 200 serangan udara dan rudal Arab Saudi yang diklaim menghantam Sanaa dan wilayah lain di Yaman yang dikuasai Houthi selama periode yang sama.
Hingga laporan ini disusun, belum ada komentar langsung dari pemerintah Arab Saudi maupun koalisi pimpinan negara tersebut mengenai klaim serangan Houthi.
Serangan di Yaman Tewaskan 53 Orang
Ketegangan lintas perbatasan itu berlangsung bersamaan dengan pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
Pada Senin, serangan rudal Houthi terhadap sebuah pangkalan militer pemerintah di Provinsi Shabwa, wilayah kaya minyak di Yaman bagian tenggara, dilaporkan menewaskan 53 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya, menurut pemerintah setempat.
Sarea mengatakan kelompoknya menargetkan apa yang disebutnya sebagai mobilisasi militer Arab Saudi di pangkalan tersebut. Dia juga mengklaim sejumlah perwira Arab Saudi termasuk di antara korban tewas dan terluka.
Namun, klaim mengenai sasaran serangan dan keterlibatan personel militer Arab Saudi tersebut belum dapat dipastikan secara independen.
Arab Saudi Tunda Konferensi Investasi
Dampak ketegangan turut dirasakan pada agenda ekonomi dan diplomatik kawasan. Pemerintah Arab Saudi pada Senin mengumumkan penundaan konferensi Future Investment Initiative ke-10, yang semula dijadwalkan berlangsung pada 26-29 Oktober di Riyadh, hingga 2027.
Sementara itu, parlemen Mesir menunda pemungutan suara terkait pemberian wewenang untuk mendukung pertahanan militer Arab Saudi hingga 26 Oktober. Penundaan dilakukan setelah sejumlah anggota parlemen dilaporkan meminta kesempatan untuk menyampaikan pendapat.
Sebelumnya, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi pada Sabtu (17/10) meminta parlemen memberikan wewenang kepada pemerintah Mesir untuk membantu membela Arab Saudi apabila diminta.
Al-Sisi menegaskan bahwa langkah yang dimaksud merupakan upaya pertahanan, bukan untuk memulai perang.
Konflik Yaman Berlangsung Sejak 2014
Yaman dilanda konflik sejak akhir 2014, ketika kelompok Houthi mengambil alih ibu kota Sanaa dan menguasai sebagian besar wilayah utara negara tersebut.
Pada 2015, koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Konflik berkepanjangan itu memicu ketidakstabilan keamanan di kawasan dan berulang kali meningkatkan ketegangan antara kelompok Houthi, pemerintah Yaman, serta negara-negara yang terlibat dalam konflik tersebut.
(**)







