Gula Aren PALI Dilirik, Minim Peralatan, Petani Pasrah

Minggu, 30 Oktober 2016
Kades Hermawan (baju merah) meninjau pembuatan gula aren dari pohon enau.

PALI, Sumselupdate.com – Tumbuh suburnya ribuan pohon enau di Desa Modong, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten PALI yang dimanfaatkan warga untuk diambil air nira dan dijadikan gula aren telah mengangkat keterpurukan perekonomian masyarakat sekitar yang tadinya hanya tergantung dari getah karet.

Secara perlahan, warga desa yang letaknya di ujung Kabupaten PALI ini mulai mengoptimalkan pemanfaatan pohon enau yang ada di desanya dan dijadikan mata pencaharian pokok sebagai penunjang kelangsungan hidup mereka, karena prospek nya cukup menjanjikan.

Read More

Selain pangsa pasar yang membutuhkan gula aren masih terbuka lebar, bukan hanya di pasar-pasar tradisional di provinsi Sumsel saja, melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) setempat yang menampung gula aren dari petani juga membidik pasar di luar pulau Sumatera dan juga mengincar minimarket.

Bahkan, baru-baru ini, sebuah perusahaan kecap ternama yang ada di Kota Palembang tertarik menggunakan gula aren asal desa ini. Hal itu dikatakan Hermawan, Kepala Desa sekaligus Pembina Bumdes Desa Modong.

Hanya saja, menurutnya, produksi gula aren di desanya belum maksimal, untuk memenuhi kebutuhan pasar tradisional saja masih kurang, karena peralatan untuk menggenjot produksi masih sangat minim.

“Produksi air nira saat ini cukup melimpah, karena dari satu pohon dalam satu hari bisa menghasilkan sekitar 30-40 liter. Di desa ini, ada 3.000 lebih batang pohon enau, tapi yang disadap paling hanya 300 batang, karena untuk memproduksi, petani masih menggunakan peralatan tradisional. Serta untuk mengolah 40 liter air nira menjadi gula aren membutuhkan waktu sekitar 5 jam,” beber Hermawan, Sabtu (29/10/2016).

Apabila pemerintah daerah maupun pusat mendukung untuk membantu peralatan modern demi menggenjot produksi gula aren, maka menurut Hermawan tawaran pabrik kecap tersebut pasti disanggupinya.

“Coba saja dikalikan, bila 3.000 batang kali 30 liter dan per 30 liter bisa menghasilkan 3 kilogram gula aren, harga nya ditingkat petani Rp12.000/kg. Maka kebutuhan pasar pasti terpenuhi dan otomatis perekonomian warga meningkat, apalagi nantinya ada pabrik kecap yang memakai gula aren kita setiap hari. Untuk menggenjot produksi, butuh campur tangan pemerintah,” ungkapnya.

Diakuinya, Bumdes hanya menampung untuk membantu pemasaran gula aren petani, serta hanya bisa memberikan bantuan peralatan tradisional saja. Untuk pemberian peralatan modern, saat ini Bumdes yang berasal dari Dana Desa Program Kementrian Desa tersebut masih belum sanggup.

“Perlu dana lebih besar untuk mengadakan peralatan modern, sementara Bumdes hanya 10% dari dana desa yang diterima. Maka kami berharap dukungan pemerintah agar usaha pemanfaatan pohon enau bisa optimal demi mendongkrak ekonomi masyarakat,” pintanya.

Masih kurangnya produksi gula aren asal desa itu juga diakui Rusli (55), salah satu petani gula aren, bahwa kendala yang dihadapinya sekarang ini adalah peralatan.

“Kalau dulu kami susah menjual, tapi dengan Bumdes, malah kami yang keteteran memenuhi kebutuhan pasar. Karena saat ini, kami hanya mampu menyadap 3 batang pohon enau, sebab proses pembuatan gula cukup lama, kalau hanya menggunakan kayu bakar dengan kwali yang hanya bisa menampung 40 liter air nira,” akunya.

Harapan sama dengan Kades juga terucap dari petani yang mengaku sudah menggeluti pembuatan gula aren sejak 20 tahun tersebut. Ia meminta pemerintah mau membantu kendala petani untuk mendongkrak produksi gula aren.

“Bila ada alat yang bisa memproduksi banyak, kami sanggup menyadap lebih banyak lagi, sebab di sini masih ada ribuan pohon enau yang belum dimanfaatkan. Apalagi sekarang tugas kami hanya membuat gula aren, sementara pemasarannya Bumdes yang membantu,” harapnya. (adj)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts