Cerpen : The World has Changed

Karya: Solehun

Baru kemarin Kardinal dinyatakan naik ke kelas XI. Tapi nilai rapornya tergolong pas-pasan. Ia pun kurang bersemangat menyambut hasil belajar itu. Bahkan hingga hari ini, ia terlihat murung. Hampir seharian ia lebih suka diam di kamar. Sampai-sampai niatnya untuk menonton film kesukaannya, “Star Wars”, di bioskop sore ini mendadak dibatalkan.

Bacaan Lainnya

Kakaknya, Reinaldi, tak menyangka Kardinal membatalkan agenda menonton film itu. Padahal dua hari lalu, saat film itu mulai tayang di bioskop, adiknya itu sudah minta ia mengosongkan agenda. Ia dipaksa harus menemaninya pergi nonton ke bioskop.

“Kenapa kok tiba-tiba mendadak batal rencana nonton filmnya di bioskop?”, tanya Reinaldi setelah menjumpai adiknya di kamar.

“Lesu, kak”, sahut Kardinal singkat.

“Lho, bukannya selama ini film itu sudah ditunggu-tunggu?”, tanya sang kakak mengingatkan.

“Ya. Tapi kini keinginan itu sirna, tiba-tiba mendadak hilang”, tutur sang adik sembari memandangi ulang buku rapornya.

“Lho, kan sudah naik kelas, mestinya justru semangat untuk pergi nonton film kesukaanmu”, timpal Reinaldi penasaran.

“Tapi bukan itu masalahnya, Kak”, jawab Kardinal yang membuat kakaknya semakin penasaran.

“Oh begitu. Boleh kakak tahu masalah sebenarnya?”, tanya Reinaldi menggiring adiknya untuk bercerita.

Kardinal terdiam sesaat. Ia masih mempertimbangkan perlu tidaknya menceritakan masalahnya kepada sang kakak. Tapi akhirnya ia segera putuskan mau menceritakan. Baginya, bercerita kepada kakak lebih kecil resikonya untuk dimarahi. Daripada langsung menceritakan masalahnya kepada orang tuanya. Selain itu, respon kakaknya nanti pun bisa dijadikan acuan. Perlu-tidaknya masalah itu diteruskan kepada ayah-ibunya.

Kepada sang kakak, Kardinal kemudian menceritakan masalah yang sedang menggelayuti pikirannya. Meski naik kelas, sebutnya, tapi ia masih belum puas dengan nilai rapornya yang pas-pasan. Ia merasa tidak mampu bersaing dengan teman-teman sekelasnya. Ia juga merasa tak mampu mengikuti sistem pembelajaran yang berlaku di sekolahnya. Untuk itu, ia terpikir untuk pindah sekolah saja. Pindah ke sekolah yang tingkat persaingan antar siswanya lebih kendor. Juga ke sekolah yang sistem pembelajarannya lebih santai dari pada sekolah sekarang.

Reinaldi terkejut begitu mendengar adiknya berniat pindah sekolah. Ia ingin segera merespon niat itu. Tapi ia kemudian menundanya sesaat. Ia ingin menggali akar permasalahannya lebih dalam dahulu. Ia ingin tahu apa yang menyebabkan adiknya berniat pindah sekolah.

“Memang sistem pembelajaran yang berlaku di sekolahmu seperti apa sih?”, tanya Reinaldi menyela.

“Seperti yang sering didengungkan oleh kepala sekolah selama ini, sistem pembelajaran yang selaras dengan abad 21 atau era 4.0”, ujar Kardinal sembari mengingat-ingat arahan kepala sekolah yang kerap disampaikan ketika memimpin upacara setiap Senin pagi.

“Bentuknya seperti apa?”, kejar kakaknya.

“Intinya pembelajaran dilakukan dengan serba digital. Katanya, pembelajaran juga diarahkan untuk learning skill, literacy skill, dan life skill. Entah apa maksud istilah-istilah asing itu. Sampai sekarang aku juga tidak tahu. Yang jelas, hampir enam bulan terakhir kegiatan belajar di sekolah semakin sibuk. Bagiku, semua itu membebani”, jelas sang adik.

“Kalau menurut kakak sih, kau sudah berada di sekolah yang tepat”, ujar Reinaldi mulai menanggapi permasalahan yang sedang menghinggapi adiknya.

“Tepat bagaimana kak?”, tanya Kardinal mengejar pendapat sang kakak.

“Ya, tepat karena sekolahmu sudah sesuai dengan perkembangan zaman. Sekarang ini sudah abad 21. Sekarang juga sudah memasuki era revolusi industri keempat atau sering disebut era 4.0. Sudah semestinya pula jika sistem pembelajaran di sekolahmu selaras dengan perkembangan zaman ini. Kakak justru miris jika ditemukan masih ada sekolah yang pembelajarannya belum mau mengikuti perkembangan zaman. Berarti sekolah yang demikian masih ketinggalan zaman,” jelas Reinaldi.

Reinaldi memang sedikit banyak mengetahui isu-isu aktual seputar abad 21 dan era 4.0. Sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Sistem Informasi di kampusnya dan mahasiswa semester VII, dia telah beberapa kali mengikuti seminar ataupun lokakarya dengan tema serupa. Hal tersebut membuat dirinya nampak fasih ketika menjawab pertanyaan yang diajukan oleh adiknya.

“Memangnya sistem pembelajaran yang selaras itu seperti apa?”, tanya Kardinal lagi yang terus berupaya mencerna pandangan kakaknya.

“Dikatakan selaras jika sistem pembelajarannya diarahkan untuk membekali siswanya memiliki keterampilan yang dibutuhkan oleh abad 21. Juga disampaikan sesuai dengan tren 4.0 yang serba digital”, ujar sang kakak.

“Apa ada hal baru terkait keterampilan yang dibutuhkan oleh abad 21? Kalau soal digital, sedikit banyak aku sudah tahu. Sebab, urusan internet atau dunia digital memang sudah akrab dan sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak seusia aku”, sahut sang adik.

“Istilah-istilah asing yang kau sebutkan tadi itu, semuanya keterampilan yang dibutuhkan oleh abad 21 sekarang ini,” timpal Reinaldi.

“Tapi ya tadi kak, aku belum memahaminya. Maukah kakak menerangkannya?”, ujar sang adik meminta penjelasan lebih lanjut.

Reinaldi tersenyum melihat sang adik telah larut dalam rasa ingin tahunya yang besar tentang bentuk-bentuk keterampilan yang dibutuhkan oleh abad 21. Ia pun dengan senang hati menjelaskannya.

Di hadapan sang adik yang menyimak dengan baik, Reinaldi mengawali penjelasannya tentang Learning Skill atau keterampilan belajar. Di abad sekarang, katanya, keterampilan belajar yang dibutuhkan adalah keterampilan berpikir kritis (critical thinking), kreativitas (creativity), kerja sama (collaboration), dan komunikasi (communication).

Keterampilan berikutnya yang dibutuhkan oleh abad 21, sambung Reinaldi, adalah Literacy Skill atau keterampilan literasi (melek huruf). Termasuk ke dalam keterampilan literasi ini yakni keterampilan menguasai informasi (information), media, dan teknologi (technology).

Terakhir, ujar Reinaldi, keterampilan yang dibutuhkan oleh abad 21 adalah Life Skill atau keterampilan hidup. Adapun keterampilan hidup yang dimaksud itu adalah keterampilan fleksibelitas (flexibility), kepemimpinan (leadership), inisiatif (initiative), produktivitas (productivity), dan sosial (social).

“The world has changed. And the world will continue to change… Be ware! Dunia telah berubah, dan akan terus berubah adikku. Siapa yang tidak mampu berubah, dia akan mati tergilas zaman,” ujar Reinaldi meyakinkan sang adik untuk mau berubah dan beradaptasi dengan kehendak zaman.

“Seekstrim itukah, kak?”, tanya Kardinal seolah-olah belum yakin dengan pernyataan kakaknya.

“Benar. Mari kita renungi. Betapa inovasi di era digital ini, generasi milenial telah membunuh banyak jenis pekerjaan. Bahkan kakak pernah membaca sebuah artikel berjudul ‘RIP: Here Are 70 Things Milennials Have Killed’. Banyak produk yang telah dan akan terbunuh oleh milenial. Diantaranya sabun batang, grup lawak, media cetak, travel, supermarket, dan kartu kredit. Juga transportasi, toko buku, restaurant, dan bimbingan belajar yang masih konvensional”, papar sang kakak.

“Kenapa generasi milenial bisa menjadi pembunuh berdarah dingin bagi begitu banyak produk, profesi, atau layanan?”, tanya Kardinal sambil mengernyitkan wajahnya.

“Sebab, mereka memiliki alasan memilih sesuatu yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka ingin hidup menjadi lebih mudah, dengan biaya dan waktu yang juga lebih murah. Karena itu, produk dan layanan yang tidak relevan lagi dengan tren generasi milenial dengan sendirinya akan punah ditelan zaman”, tegas Reinaldi.

“Siapa sih generasi milenial itu, kak?”, tanya Kardinal penasaran dengan generasi yang telah mengubah zaman itu.

Ditanya demikian, Reinaldi lantas menjelaskan Teori Graeme Codrington & Sue Grant-Marshall yang membagi generasi ke dalam enam kelompok. Berdasarkan teori itu, sebutnya, kita mengenal generasi Tradisionalis (lahir 1922 – 1945) Baby Boomers (1946 – 1964), Generasi X (1965 – 1980), Generasi Y/Milennial (1981 – 1994), Generasi Z (1995 – 2010), dan Generasi Alpha (2011 – sekarang).

“Wah kalau mengacu teori itu, berarti aku tergolong Generasi Z ya kak?”, ujar Kardinal memposisikan diri dalam pengelompokkan generasi itu.

“Benar. Anak yang lahir pada tahun 2004 sepertimu termasuk sebagai Generasi Z”, ujar Reinaldi diikuti tawa ringan adiknya yang telah berhasil menampilkan berpikir kritisnya.

“Satu lagi adikku. Kakak juga pernah membaca artikel ‘Cara Membangun Siswa untuk Abad 21’, Majalah TIME, edisi 18 Desember 2006. Ada pesan penting untuk kita perhatikan. Disebutkan di dalamnya, banyak generasi muda akan gagal dalam persaingan ekonomi global karena mereka tidak dapat memikirkan jalan mereka melalui masalah-masalah abstrak, bekerja dalam tim, membedakan informasi yang baik dari yang buruk, dan tidak menguasai bahasa global.

“Maksudnya?”, tanya Kardinal tertarik mengorek hasil bacaan kakaknya.

“Kita akan kalah dalam persaingan ekonomi global jika kita tidak mampu berpikir abstrak, tidak bisa bekerjasama dalam tim, tidak kritis terhadap serbuan informasi, dan tidak mampu menguasai bahasa internasional,” jelas Reinaldi lebih lanjut.

“Siap!”. Kardinal mengambil posisi siap sambil menghormat. Aksi itu membuat sang kakak tertawa ringan sembari menepuk-nepuk bahu adiknya.

“Jadi gimana, masih mau pindah sekolah?”, tiba-tiba sang kakak menanyakan keseriusan niat adiknya.

“Siap. Tidak Jadi! Adikmu juga berjanji akan lebih giat lagi belajar”. Kardinal terlihat memperagakan sikap yang sama. Kali ini sang kakak menimpalinya dengan ajakan tos-tosan. Sang adik pun menyambutnya. Keduanya kemudian berangkulan yang terbalut oleh senyuman.

*Dikutip dari buku Antologi Cerpen “Senyum 21”  karya Solehun (2020)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.