KUYAKINKAN, kutetapkan pilihan hati dari penghujung selatan Pulau Sumatera, kulangkahkan kaki menuju kawah Candra dimuka.
Banyak Remaja dan pemuda sepertiku dari belahan Sumatera Bagian Selatan ini dengan niat dan tujuan yang sama serta memendam dalam suatu cita-cita yang luhur yaitu membebaskan belenggu penjajahan dari tanah air tempat kami lahir dan berpijak.
Beberapa di antara kami yang usianya belumlah genap tujuh belas tahun, tidaklah mau menunggu dua-tiga tahun lagi, Dai Nippon atau Jepang yang kabarnya mulai lemah dan terdesak oleh Amerika dan sekutunya bersiasat merekrut pemuda-pemuda dari tanah jajahannya untuk dilatih perang kelak kan dikirim ke medan laga entah asia raya atau pacifik dan lainnya.
Kabar tersiar sekolah pendidikan militer Dai Nippon akan dibuka di bumi para puyang persisnya Pagaralam, yang ku tau di sana sebuah gunung anggun berdiri tegak kokoh yang bernama Dempo yang sedikit kelak kupahami, katanya bermakna Nempoh atau menempah ( tempat penempaan, mengasah dan belajar) bisa juga menempuh suatu jalan dan perjuangan.
Aku dan beberapa sahabatku dari bumi Ruwa Jurai, terkhusus yang bernama salim yang umurnya barulah lima belas tahun sedikit di bawahku, ia pergi dari rumah hanya meninggalkan goresan pesan tanpa bertatap dan berpamit pada kedua orang tua, katanya kalau aku pamit dan melapor Lam, sapanya padaku!! kutakut bapak dan ibu tidak memberi izin bahkan melarang, jadi kuputuskan…
Aku mengerti dan tersenyum, tapi kuyakin Lam mereka pasti memberi restu dan doa karena tujuan kita ini sangatlah mulia, sambil mengangguk benar Lam kalaulah kelak kita sudah punya ilmu perang dan senjata, kita kan usir penjajah, kafir, dan kolonial dari bumi pertiwi ini, dengan keyakinan kuanggukkan kepala setuju Lam jawabku.
Di perjalanan kami bertemu dengan beberapa calon taruna lainnya Atmo, Fa’i dan lainnya kami pun bersama menetapkan langkah menuju bumi para Puyang Sesampai di Kota Pagaralam kulihat cukuplah ramai pemuda seperti kami.
Maklum kami hadir dari berbagai belahan bagian selatan Pulau Sumatera yang luasnya hampir sama dengan Inggris Raya mendekati luas Perancis kalau Belanda ah.. paling seluas Ruwa jurai jugalah tidak kan tetapi dalam gumamku mengikis kesombonganku.
Kenapa Nusantara yang luas ini sangatlah panjang dan lama dalam cengkeram dan genggamnya, oh untuk itulah kami hadir di sini menempa ilmu, jiwa dan keyakinan. Kami mulai mengenal satu sama lain begitu mudah kami mengakrabkan diri, tentu niat dan cita-cita menjadikan kami saudara, Tuhan yang kuasa mempertemukanku dengan Bani, Ruslan, Munaf yang terakhir sangatlah dekat dan kuanggap seperti saudara bahkan menjadi kakak.
Mereka semua adalah pribumi dari tanah besemah ini, aku dan beberapa temanku seringlah bermalam dan bermukim di rumah Munaf sembari menunggu ketetapan waktu Pendidikkan Kakakku Munaf ini adalah seorang pemuda yang berprofesi sebagai pendidik atau guru, umur kami hanya berbeda satu tahun, sesungguhnya aku juga belumlah genap tujuh belas.
Di belakang markas pendidikan militer kami ada sebuah sungai kecil yang jernih kami menyebutnya ayek Betung, ada pula beberapa aliran sungai kecil yang melintasi kota ini, semuanya jernih bebatuan.
Ikan jenis seluang yang di sini disebut pirek berbaris rapat bahkan ikan cengkak atau bila besar disebut semah sangatlah sering menampakkan keanggunannya meramaikan aliaran sungai atau siring yang melintasi pojok sudut kota ini.
Sedikit jauh dari markas pendidikkan Gyugun di sebuah aliran siring kecil tepatnya di ayek kundur, Munaf berkisah padaku, Lam sesungguhnya siapapun, bangsa manapun yang mengambil dan menduduki jengkal tanah milik orang lain itu hukumya haram, aku mengangguk dan memotong jelas Naf mereka sama dengan penjajah, kolonial apapun sebutannya yang jelas mereka bajingan bangsat.
Sambil tersenyum Manaf meneruskan kisahnya, dahulu tanah Besemah yang luas nan lebar serta tanah Semendo yang memanjang ini sangatlah makmur kami hidup penuh rukun dan damai menjunjung adat leluhur dengan mengedepankan musyawarah dan mufakat yang terangkum dan terwakilkan dalam satu lembaga yaitu Lampik empat merdike due, kesetaraan dalam hak dan kewajiban.
Keputusan adat diambil berdasarkan mufakat sedikitnya enam orang yang mewakili sumbay atau daerah, aku mengangguk wah sangat demokratis sekali berbeda dengan daerah lain yang dipimpin raja atau sultan yang mutlak dengan sabda titahnya, jadi tiadalah raja atau sultan disini naf tanyaku?
Benar Lam budaya dengan pengaruh Hindu ataupun Budha juga tidaklah pernah singgah di sini walaupun banyak peninggalan purba dengan megalitikum yang bertabur di sini.
Kehidupan kami bertambah sempurna, indah, dan bersahaja dengan hadirnya syiar aqidah yang membawa Risalah ilahiyah yang diajarkan kakek moyang kami dari perbukitan panjang tanah semendo kabarnya mereka dahulu sampai belajar di Mekah.
Jelas kerajaan Protestan belanda tidaklah senang melihat semua ini, terlebih keindahan, kesuburan, kekayaan alam tanah puyang ini menjadi alasan utama hawa nafsu iblis ingin menguasai, dari tengah hingga barat Sumatera pun ingin dirampas.
Kapan para bajingan tersebut menindas dan mencengkeramkan kakinya di sini potongku, munaf meneruskan ya se era dengan perang yang dikobarkan Tuanku Imam bonjol, oh sekitar1821-1837 desisku.
Tuanku Tambusay di timur bagian Sumatera, mereka semua ulama Naf potongku, benar Lam di sini pun juga demikian, siapa sang ulama tersebut Naf? Namanya Lebi penghulu, aku mengangguk mendengar namanya pastilah seorang ulama, oh begitu banyak darah para syuhada, kyai, dan muridnya tertumpah di pertiwi ini.
Hari, minggu, bulan rutinitas pendidikan Gyugun kami lalui, propaganda Jepang menyuarakan janji kebaikan sudahlah muak kudengar, di luar sana kekejaman terhadap rakyat khususnya di Tanah Besemah ini sudahlah sangat keterlaluan bahkan jauh lebih buruk, brutal, dan sadis dibanding Belanda.
Di antara kami para siswa Gyugun seringlah berbisik kapan waktu yang tepat, ingin sekali senjata latihan ini diarahkan dan menghabisi Nipon-nipon ini, di beberapa tempat sepeti Supriyadi dan teman-temannya di Blitar sudah menunaikan niatnya kata si Nipon mereka pemberontak, kataku mereka Pahlawan.
Hari berganti hari pada suatu malam terjadi penyerbuan dan perlawanan dari rakyat mereka menamakan dirinya Barisan Rakyat dan berhasil membakar markas dan membunuh salah seorang pemimpin Nipon.
Tentu ini semua membukakan mata kami para militer Gyugun, pihak jepang marah besar dengan ultimatum-kan memberangus Bumi Besemah.
Kami semua yang baru berhasil lulus akademi Gyugun tidaklah menggubris malah kami bersama Barisan Rakyat sudah menyiapkan perlawanan, kami tahu strategi berperang, senjata curian, dan rampasan perang Belanda kemarin cukuplah menjadi modal perlawanan.
Allahhuakbar 3x dari hari kehari dengan cara gerilya seperti yang diajarkan Panglima Sudirman kami selalu membuat kerugian-kerugian bagi Jepang.
Rakyat pun menjadi sasaran pembalasan, sehingga banyak yang mengungsi kehutan dan perbukitan, sekonyong-konyong rakyat bisa berubah jadi tentara begitu pun kami menjadi rakyat tuk mengintai dan mencari kesampatan.
Alhamdulillah pada waktunya dengan hancurnya Hiroshima dan Nagasaki beriring Jepangpun meletakkan senjata dan menyerahkan kedaulatan pada Republik Indonesia berikut di Tanah Puyang pula.
Kenyamanan ini tiadalah berlangsung lama satu dua bulan selepas Proklamasi, Sekutu yang membonceng Belanda mencengkramkan kembali kukunya di Nusantara, kami pun sebagai pengawal bumi pertiwi kami tidaklah tinggal diam, kami sebagai Perwira disebar di setiap belahan kota di Sumatera Bagian Selatan, api mulai berkobar di mana-mana puncaknya kami bersatu ramai perang habis-habisan menyambut kolonial Belanda di pusat Kota Palembang.
Lima hari lima malam tak berjedah kami jihad Fisabillillah, senjata yang tiadalah seimbang membuat kami harus bergerilya kembali, jengkal-demi jengkal tanah bagian Sumsel ini kami pertahankan, aku ditugaskan menjaga pesisir timur Palembang hingga bumi Ruwa Jurai yang kebetulan komandannya adalah kakak angkatku Kapten Munaf, aku sangat kagum dan terkesan dengan kepintaran dan keberanian dari para alumni Gyugun Dempo terlebih pada putra-putra yang terlahir dari tanah Besemah ini.
Terdengar hasil KMB konferensi Meja Bundar yang dipimpin Bung Hatta, Belanda menyerahkan dan mengakui kedaulatan RI aku sangatlah bahagia, sudah bertahun berabad berhias peperangan dan pertumpahan darah, terbayang wajah Ruslan, Fai, dan sahabatku Salim dan lainnya sedang tersenyum di surganya Allah SWT mereka berbahagia dengan beragam kenikmatan.
Lam kulihat Munaf merangkul pundakku seraya berkata ini hari terakhir kugunakan seragam militerku, Nipon, kolonial Belanda sudahlah hengkang dari bumi pertiwi khususnya dari bumi Besemah, dahulu kita berperang dengan musuh nyata dan jelas tapi saat ini dan kedepan aku malu dan takut berperang dengan sesama kita.
Berjuang bukanlah tuk mendapat pangkat seraya memegang kepangkatan di pundaknya bukan pula mencari jabatan dan harta, berjuang adalah kewajiban hubbul waton minal iman, tapi kamu teruslah hingga mendarat bintang-bintang di pundakmu.
Perhatikan, sayangi teman-teman kita khususnya rakyat yang sudah sangat lama menderita, kutatap wajah sang kakak air mataku mengalir, aku bergumam kan kupegang erat amanahmu, wajah Kak Munaf menatap kearah Dempo kuperhatikan sang Garuda ini ingin terbang ke puncak Dempo hingga ke Arsy Allah menyusul Garuda-garuda Dempo yang tengah berkumpul mereguk beragam nikmat dan kebahagian di sisi sang Khaliq.
Lambat dek urong pagi luse aku ‘kan bergabung dengan saudara-saudara Gyugun Dempoku menyusul terbang ke puncak, hatiku sesak melihat perebutan jabatan dan kekuasaan, kaki tangan penjilat Belanda banyak yang ongkang-ongkang kaki, duduk dengan berbagai jabatan dan sudah pasti akanlah menyengsarakan Rakyat, ah tiadalah kuat, hati, dan mata ini menyaksikan semua ini, yang tulus dan baik di pinggirkan bahkan dipenjarakan.
Khayalku mengantarku melihat kisah lama di ayek Betung dan ayek Kundur yang segar nan dingin sembari menatap Dempo yang anggun, dari akademi Gyugun inilah yang mengantarkan bintang ke pundakku hingga beberapa kali duduk menjadi menteri negara dan aku tidaklah bisa berbuat banyak pada tanah puyang yang penuh kenangan ini.
Kota yang sudah mengecil dan tertinggal ini hanya kumekarkan sedikit menjadi wilayah kota Administratif belumlah utuh sebagai Besemah libargh dan Semendo panjangnya.
Semoga kelak ‘kan meningkat menjadi kota otonomi. Goresan perjalanan dan perjuangan kami semoga diingat dan dikenang anak cucu tanah puyang, dan ruh-ruh kami kan mengutuk siapun mencemar dan berbuat keburukkan di tanah Dempo ini.
Kutatap puncaknya Dempo aku siap terbang tinggi menjumpai sahabat-sahabatku, sayap kukepakkan kencang menemui yang kurindukan Allah SWT, kulihat Salim, Ruslan, dan yang lain sudahlah menunggu.
Alhamdulillah Lam kita jumpa kembali, seraya mengangguk aku berdesis oh.. sungguh nikmat dan bahagianya Lam kalian semua di surganya ini.
Kuterus melangkah kutatap sesosok wajah yang sangat kurindukan, dia adalah Kak Munaf aku bergegas menghampir dan memeluknya, Kak Munaf berkata sesungguhnya kami tiadalah pernah mati kami hidup disisi-Nya dengan berbagai kenikmatan.
Kami selalu melihat kamu semua, aku mengangguk benar Naf seraya ingatanku mendawam Firman Allah SWT QS Albaqarah 154… (**)
Karya: H Iril Yuni











