Cerpen: #savepratama

Sabtu, 17 Juli 2021

Karya Solehun

SEJAK pagi hingga sore Sabtu, jagad medsos dipenuhi berita positif di dunia pendidikan. Ini berawal dari status pada akun facebook Mustofa yang berbunyi, ”Ternyata wong kito mampu berprestasi di tingkat internasional. Terbukti, Gilang, siswa sebuah SMA di Kota Palembang, berhasil meraih medali perak pada ajang Olympiade Sains Internasional. Medali perak dikalungkan langsung oleh Presiden Saint International Education Center (SIEC), Richard Frank, di Paris, 21 November 2019. #GilangYangGemilang. #WongKitoPacak”.

Read More

Hingga terakhir dilihat oleh Pratama pada pukul 16.00 WIB, status facebook yang dilengkapi foto Gilang yang sedang naik podium dan dikalungi medali perak itu ternyata benar-benar viral. Status yang dibuat oleh wakil kepala sekolah bidang kesiswaan SMA tempat Gilang belajar itu telah disukai oleh lebih dari 1 juta orang, dibagikan hingga 13.567 kali, dan mendapat 5.899 komentar. Semua komentarnya pun positif. Nama pelajar itu pun melambung, seiring dengan viralnya tagar #GilangYangGemilang #WongKitoPacak.

Pratama tahu persis, siapa Gilang. Anak itu adalah teman sebangkunya. Meski sebangku, ia sangat kontras dengan dirinya. Ia kalem, rapi, disiplin, rajin belajar, dan pintar. Hebatnya lagi meski sudah pintar dan selalu mendapat predikat juara umum di sekolahnya selama dua tahun berturut-turut, ia masih mau menyibukkan diri dengan mengikuti kegiatan belajar tambahan di bimbingan belajar konvensional ataupun online. Sedangkan dirinya suka berlagak jagoan, urakan, tidak disiplin, malas belajar, dan tidak pernah mau ikut bimbingan belajar.

Tidak seperti biasanya, setelah mengamati media sosial sore itu, tiba-tiba Pratama sangat iri dengan prestasi yang telah diraih oleh Gilang. Dia bahkan sempat berkhayal jikalau yang dikalungi medali di panggung internasional itu adalah dirinya. Keluarganya yang tinggal di kampung pasti menangis haru karena bahagia. Teman-teman di sekolahnya pasti mengelu-elukannya. Seluruh isi jagad maya pun pasti menyanjungnya.

Sayang, ternyata yang hebat itu bukan dia. Bukan sosok yang suka gagah-gagahan sepertinya. Bukan pula orang sepertinya, yang suka berlagak layaknya raja jalanan yang urak-urakan dan kerap menganiaya orang. Ternyata, yang hebat itu orang seperti Gilang. Teman sebangkunya. Teman satu sekolah dengannya.

Rasa iri sekaligus pengakuan terhadap kehebatan Gilang tersebut pada akhirnya membuat Pratama benci kepada segenap atribut semu yang menempel pada dirinya selama ini. Akibatnya, ia membanting bingkai dan mengoyak semua foto kehebatannya sebagai anggota geng motor yang menempel di kamar kostnya. Bahkan ia hampir membakar semua atribut geng motornya mulai dari stiker, kaos, jaket, hingga senjata sangkurnya. Tapi aksinya itu berhasil dihalangi oleh dua teman sesama anggota geng motor yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Gila kau, friend! Apa maksudmu dengan semua ini,” hardik Jaka alias Jack Bogem yang bertubuh besar dan tegap itu sambil menarik krah baju kaos Pratama.

“Kau ini gengster atau bukan, heh! Parah. Pecundang kau. Beraninya menghina atribut kita. Kau tahu kan akibatnya?!” Kini giliran Juneidi alias Jun Gilas yang membentak dengan gaya mabuknya.

Pratama baru sadar, seperti biasanya, menjelang malam Minggu sesama anggota geng motor itu memang selalu menghampirinya. Mereka selalu bersama berangkat dari kostan ini menuju lokasi tempat geng motornya berkumpul dan beraksi. Setelah aksi kebut-kebutan, kompoi, dan gagah-gagahan dengan cara menjarah atau menganiaya siapa pun yang ditemuinya, mereka pun pulang dalam keadaan mabuk. Baik mabuk karena minuman keras ataupun mengkonsumsi narkoba.

Bertepatan dengan waktu subuh tiba, mereka yang rata-rata masih usia muda itu biasanya baru bubar dan pulang. Ada yang langsung pulang ke rumahnya. Ada juga yang pulang ke rumah atau kost temannya dulu. Setelah itu, mereka tertidur dan paling cepat bangun pada pukul 10 pagi.

Pratama berhasil melepaskan cengkraman tangan Jack Bogem dari krah bajunya. Dengan penuh percaya diri, ia pun mengeluarkan kata-kata yang tak pernah diduga oleh teman geng motornya.

“Dengar baik-baik oleh kalian. Terhitung hari ini aku memutuskan berhenti dari anggota geng motor Kapak Milenial!” Terdengar suara Pratama mantap. Keputusan itu sepertinya telah dipertimbangkan secara matang.

“Apa, keluar dari geng motor? Gak salah dengar nih?” Jack Bogem seakan-akan tidak percaya mendengar keputusan dari anggota yang dia rekrut sejak satu tahun yang lalu itu.

“Ya, aku keluar. Aku sadar, bergabung di geng motor bukanlah pilihan yang tepat bagiku. Aku harus mengejar masa depan. Untuk itu, aku hanya ingin fokus sekolah dan belajar. Aku tidak ingin mensia-siakan harapan orang tuaku di desa. Mereka telah mensekolahkanku ke kota agar aku belajar dan mendapat pendidikan yang lebih baik,” jelas Pratama.

“Tidak bisa sesembrono ini, boy! Kau lupa ya kalau sudah masuk geng motor ini tak bisa keluar lagi kecuali yang bersangkutan mati. Perlu kau ingat juga, aku yang telah merekrutmu. Bos besar akan menghabisiku jika sampai kau keluar.” Jack Bogem sengaja mengingatkan ketentuan yang berlaku di geng motornya agar Pratama mempertimbangkan ulang keputusannya.

“Keputusanku sudah bulat. Aku siap menanggung apa pun resiko dari keputusan ini”. Pratama nampaknya tak gentar dengan ancaman yang menghadangnya.

“Sok jagoan lho! Kita lihat saja sejauhmana kau bisa bertahan dengan keputusanmu”. Kali ini Jun Gilas sudah mulai menampilkan karakter aslinya. Selama ini dia memang selalu menggilas siapa pun yang dianggap sebagai rintangan, tanpa banyak pertimbangan. Karakter seperti itu membuat ia cukup disegani oleh teman-temannya sesama anggota geng motor. Bos besar juga kerap mempercayainya untuk mengeksekusi target-target yang telah direncanakan oleh geng motor ini.

“Bagaimana, kau masih mau bertahan sebagai anggota geng motor ini kan?”, tanya Jack Bogem untuk melihat kemungkinan terjadi perubahan keputusan Pratama.

“Keputusanku masih tidak berubah,” jawab Pratama singkat.

“Bedebah. Jika begitu, kami yang akan memaksamu untuk berubah!” Jack Bogem langsung meninju ulu hati Pratama. Pukulan yang tak sempat diantisipasi Pratama itu membuat dirinya terhuyung-huyung menahan sakit. Dia tak mampu melakukan perlawanan.

Jun Gilas yang dari tadi sudah menahan emosi langsung tampil dengan membabi-buta. Pukulan bertubi-tubinya diarahkan ke muka Pratama. Dia baru berhenti melepaskan pukulan setelah Pratama jatuh tersungkur dan hidungnya mengeluarkan darah.

“Ini pelajaran untukmu yang sudah berani membangkang. Ingat, besok kami akan datang lagi ke sini hanya untuk mendengar bahwa kau masih bertahan sebagai anggota geng motor”. Terdengar oleh Pratama bagaimana Jack Bogem kembali menebarkan ancaman. Setelah itu, dia tidak sadarkan diri seiring dengan mendaratnya tendangan keras Jun Gilas yang mengenai dadanya.

Pratama baru mendapat pertolongan dari tetangga kostnya setelah Jack Bogem dan Jun Gilas meninggalkan tempat itu. Esok harinya, setelah matanya mampu mengamati media sosial kembali, ia dikejutkan dengan peristiwa viral.

Dalam akun facebook Hartas, tetangga kost yang menolongnya, ia melihat video penganiayaan dirinya oleh anggota geng motor. Video yang diberi tagar #savepratama #tangkapgengmotor itu viral. Publik pun ramai menanggapinya dengan kecaman atas kelakuan geng motor yang selama ini memang telah meresahkan itu. Mayoritas mendesak agar polisi bertindak cepat menangkapnya.

Pratama terus mengikuti scroll pada komentar itu. Hingga akhirnya, dia menemukan video yang berisi keberhasilan polisi menangkap pelaku penganiayaan dirinya. Dalam video yang diupload oleh akun Tim Sergap sejam yang lalu itu ternyata bukan saja Jack Bogem dan Jun Gilas yang ditangkap, tetapi juga bos besar geng motor, Gunadi alias Guntur Jagal, yang terlihat lesu dengan posisi tangan diborgol. *

*) Cerpen ini dinukil dari buku antologi cerpen bertema pendidikan karakter dengan judul “Senyum 21” karya Solehun (2020).

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts