Cerpen: Sapatha dari Negeri Seberang

Ilustrasi.

PENGORBANAN seperti apa yang telah kau lakukan selama hidupmu? Pengorbanan dalam bentuk apa yang telah kau temui?

Adakah pada pengorbanan seorang ibu yang berjuang melahirkan anaknya.

Read More

Adakah pada seorang ayah yang mengkulikan dirinya demi makan istri dan setiap anak-anaknya.

Adakah pada seorang kekasih yang merelakan mahkotanya demi cinta sesaat prianya.

Adakah pada seekor burung yang sepagi tadi berpeluh diri demi mencari remah-remah binatang kecil untuk mengisi perut bayi-bayinya.

Adakah pada seekor belalang jantan yang menyerahkan kepalanya pada betinanya demi umur panjang keturunannya.

Adakah pada seorang Biksuni yang menyerahkan masa mudanya demi mengabdi pada sang Buddha

Adakah?

***

Sebermula kisah, seorang anak kecil sedang giat-giatnya mencari ranting kering di tepi hutan dekat rumahnya.

Tak dihiraukannya gigitan nyamuk yang mengamuk lapar. Matanya fokus tertuju pada setiap ranting, sedang tangannya terlatih untuk mengikat tumpukan ranting kering.

Matahari semakin menanjak. Sudah waktunya anak kecil itu pulang. Perutnya pun sudah minta diisi. Cepat-cepat ia melangkahkan kakinya ke luar hutan sembari memanggul hasil pungutannya tadi.

Anak kecil itu baru berumur delapan setengah tahun. Namun, ia sudah terampil bukan main. Ia juga pandai mencari uang untuk sekadar makan ia dan ibunya. Ayahnya telah lama meninggal karena melanggar kutukan yang tertoreh dalam prasasti kuno.

Kini bagaimanapun juga ia harus tetap melanjutkan hidupnya bersama ibunya di sebuah dusun kecil yang gaib.

Anak kecil itu bernama Limpu. Biar kecil begitu, ia sudah memiliki perencanaan yang matang. Rencananya ia akan pergi ke kota yang lebih layak huni setelah terkumpul semua uang yang ia butuhkan. Mungkin sekitar sepuluh keping koin emas.

Tidak ada yang salah dengan dusun kecil yang Limpu huni. Hanya saja letaknya yang gaib di tengah hutan, membuat dusun kecil itu jarang dilirik oleh pihak kerajaan.

Terlebih pada masa lampau dusun kecil itu sering menjadi markas para lanun dan juga pemberontak kerajaan.

Hingga sang raja pun murka dan menancapkan prasasti batu berisi kutukan bagi hambanya yang khianat. Tak terkecuali pada ayah Limpu.

***

Cukup sulit bagi Limpu untuk mengumpulkan sepuluh koin emas. Apalagi ia harus membaginya dengan kebutuhan makan ibunya yang mulai sakit-sakitan.

Sehari-hari sebagai seorang janda, ibunya bekerja menjahit daun atep untuk kemudian bersama-sama dengan kayu kering perolehan Limpu dijual ke pasar.

Sepulang dari pasar ia akan memasak, sedang Limpu biasanya akan menangkap ikan di sungai dengan peralatan seadanya. Kemudian ikan hasil tangkapannya itu sebagian besar ia jual kepada para tetangganya.

Melihat ibunya yang mulai sakit-sakitan hati Limpu pun iba. Ia mulai membatasi gerakan ibunya.

Tak diperbolehkan lagi ibunya menjahit daun atep. Ibunya hanya memasak dan berdiam diri di gubuk saja. Tak lebih. Limpu ingin ibunya segera kembali sehat dan segar. Agar ia bisa mengajak ibunya ke kota bila sudah tiba waktunya.

Selang beberapa hari kemudian ibunya sudah kembali bugar. Limpu tentu saja senang bukan main. Meski koin emas yang diharapkannya masih belum bertambah. Masih berjumlah satu koin emas saja.

Limpu memutar otak. Kini ia yang telah berumur hampir sepuluh tahun itu mulai mengandalkan akalnya dari pada otot kecilnya itu.

Ia pun meminta diajarkan berburu. Oleh ibunya ia diperintahkan untuk belajar berburu kepada Pak Wo, mantan seorang lanun. Maka tanpa pikir panjang berangkatlah Limpu menuju rumah panggung tempat Pak Wo berada.

***

Pak Wo di masa mudanya adalah salah satu anggota lanun yang cukup meresahkan. Para lanun berjumlah cukup banyak dan terbagi ke dalam beberapa kelompok dan memiliki markas atau daerah rampasan masing-masing.

Kelompok Lanun Pak Wo berada di sekitar laut Pulau Bangka. Tepatnya di Selat Bangka.

Suatu ketika sang raja yang bergelar datuk merasa resah dengan kehadiran kelompok lanun Pak Wo hingga ia mengirim seorang bhagawan suci untuk mengutuk Pak Wo dan kawan-kawan lanunnya.

Sehingga mereka tak lagi dapat menempuh laut. Maka sejak saat itu kehidupan Pak Wo dan kawan-kawannya di mulai, di sebuah daratan yang gaib.

***

Menjelang tengah hari Limpu tiba di rumah panggung Pak Wo. Kedatangannya disambut oleh seorang pria paruh baya berbadan kekar.

Setelah memberi salam dan memperkenalkan diri serta menyampaikan maksud dan tujuannya, Limpu disuguhkan setangkup besar daging pelanduk bakar. Limpu makan dengan lahap.

“Menjadi seorang pemburu itu harus memiliki kesabaran yang mumpuni.” Pria paruh baya itu mulai membuat percakapan dengan suara berat dan tegas khas bajak laut.

“Tak bisa kau tergesa-gesa macam kau makan daging pelanduk ini.” timpalnya yang membuat Limpu sejenak menghentikan gigitannya pada sepotong daging.

“Baiklah, kau istirahat lah dulu di sini. Berangin-angin. Malam nanti kita akan siap berburu. Ingat kau harus sabar dan jangan banyak cakap!” perintahnya. Limpu mengangguk dan membaringkan diri di atas sebuah bale-bale. Angin sepoi-sepoi yang bersumber dari kebun belakang menerpa wajah Limpu. Membuat Limpu mabuk dan lelap dalam mimpinya.

***

Malamnya, Limpu dan pria paruh baya yang ternyata adalah Pak Wo berjalan perlahan menuju hutan. Setelah sebelumnya melewati kebun.

Mereka masuk semakin dalam ke dalam hutan yang gelap dan dingin. Suara-suara binatang malam mulai terdengar bersahut-sahutan. Limpu dan Pak Wo tak sedikit pun gentar.

Singkat cerita, setelah memperhatikan cara kerja Pak Wo dalam berburu dengan menggunakan sumpit, semacam alat berburu dengan teknik tiup, maka dapatlah kiranya tiga ekor pelanduk berhasil terkena sumpitan Lumpi.

Dalam hati Lumpi sudah membayangkan akan menjual ketiga pelanduk tadi lalu mendapatkan satu keping uang emas. Begitu pikirnya. Maka cepat-cepat ia melangkah pulang sambil menarik gerobak berisi tiga ekor pelanduk.

***

Sesampainya di gubuknya. Lumpi merasa heran melihat keadaan tempat tinggalnya yang kosong, tak ada ibunya. Seorang tetangga menghampirj Lumpi dan berkata bahwa ibunya sedang sakit keras.

“Tadi malam ibumu sakit keras. Mungkin terkena sawan akibat kutukan yang menimpa ayahmu dahulu.”

“Sekarang ibumu berada di rumah Nek Jum untuk diobati. Semoga saja keadaannya sudah membaik!” terang tetangganya menghapus tanda tanya di hati Limpu, berganti kekhawatiran yang mendalam.

Lekas ia berjalan menuju pondok Nek Jum. Sesampainya, ia dapati ibunya terbaring lemah tak berdaya. Tubuhnya dipenuhi bercak kemerahan.

Seorang nenek tua berpenampilan sedikit lusuh dan kotor mendekati Lumpi. Nenek itu berkata, “Ibumu harus segera di ruwat. Aku akan mencoba untuk membantunya dengan sedikit ilmu yang aku punya.” jelas nek Jum mencoba memberikan solusi terbaiknya. Lumpi hanya mengangguk penuh rasa iba.

Nek Jum melanjutkan titahnya, “Kau perlu menyiapkan tiga ekor pelanduk, nasi yang baru ditanak, kembang sepatu, dan buah pinang. Malam ini di saat bulan setengah terang kita akan memulai ritualnya!”

Mendengar hal tersebut, mau tak mau, suka tidak suka, toh, harus diserahkannya juga ketiga pelanduk hasil buruannya itu. Tidaklah mengapa pikirnya, “Asal ibu sembuh.”

Ritual penyembuhan dan penolak kutukan itu pun dimulai. Beberapa warga datang untuk membantu. Diantaranya terlihat sudah tua dan sepuh. Nampaknya mereka telah berpengalaman dalam hal ini.

Nek Jum nampak menari-nari bagai kesetanan yang diikuti oleh para warga. Limpu duduk bersila di samping tubuh ibunya yang dibaringkan di atas tanah beralaskan daun pisang. Tarian Nek Jum semakin menjadi-jadi. Mulutnya komat-kamit memanggil dewi junjungannya, Dewi Durgga.

Secara ajaib, sesosok makhluk tinggi besar berkelamin perempuan dengan pakaian berupa kemben dan kain sebagai bawahannya, muncul dihadapan Nek Jum.

Sosok perempuan itu tak hanya datang sendirian, setelahnya juga bermunculan bermacam-macam makhluk halus penghuni swargaloka dan kuburan. Seakan-akan para makhluk halus itu menjadi pengawal sang Dewi Durgga.

Limpu bergidik ngeri. Namun, iya harus kuat sebab beginilah ritual yang berlaku dalam ajaran yang dianut oleh Nek Jum. Seorang penganut Tantra Kiri, begitulah sebutannya bagi penganut ekstrem Dewi Durgga pada masa itu.

Nek Jum bercakap-cakap dengan Dewi Durgga seraya merendahkan diri dengan cara bersimpuh dan menyatukan kedua telapak tangannya.

Hingga Sang Dewi paham dan memenuhi keinginannya. Lalu raib dalam pandangan mata setelah sebelumnya melahap semua sesajen yang disajikan.

***

Keesokan harinya, benar saja si ibu telah benar-benar sembuh. Sehingga Limpu pun dapat berlega hati. Selain itu ia juga dapat melanjutkan pekerjaannya, yakni mencari kayu bakar di pagi hari, menjaring ikan tatkala hampir sore hari, lalu malamnya ia bersiap melakukan perburuan hewan. Begitu berulang. Ia hanya tidur sebentar. Mungkin sekejap mata.

Semua berjalan dengan semestinya. Sang ibu juga sudah dapat menjahit daun atep kembali. Begitu mungkin pikir orang-orang. Namun, tak ada yang dapat menerka bagaimana takdir akan berlaku kejam. Sangat kejam.

***

Nek Jum sakit. Tulah Datuk Seberang tampaknya mulai mengikutinya. Rupa-rupanya tak hanya Nek Jum saja yang terkena tulah, ternyata hampir seisi dusun mengalami hal yang sama.

Tulah Datuk Seberang, karena kutukannya yang tertuju kepada keluarga lanun berhasil dilepaskan oleh Nek Jum, tempo hari.

Limpu merasa bersalah. Dia baru saja diceritakan ibunya mengenai kebenaran tentang ayahnya yang bekas lanun itu. Ia begitu terpukul sekaligus malu kepada setiap penghuni dusun.

Nek Jum berkata dalam kepayahannya, “Aku harus menyeberang ke negeri seberang. Tolong berikan aku sedikit bekalmu!” pinta Nek Jum. Namun, lebih terdengar sebagai ungkapan balas budi atas keberhasilannya dalam menyembuhkan ibunya, tempo hari.

Maka mau tak mau Limpu menyerahkan sekeping koin emas untuk bekal berlayar Nek Jum. Sehingga sekarang Limpu tak memiliki kepingan koin emas lagi.

Lebih dari itu, Limpu mengalami kebingungan yang teramat sangat. Ia tak tahu harus berbuat apa untuk menyembuhkan para penghuni dusun dan sekaligus menghentikan kutukan dan tulah Sang Datuk Seberang.

Malam itu Limpu memutari dusun dengan maksud mencari kejernihan pikir. Ia terus berjalan menuju ke luar dusun.

Hingga didapatinya suatu kompleks pemujaan yang asing baginya. Di bawah cahaya rembulan secara jelas dapat dilihatnya reruntuhan sebuah bangunan.

Tampaknya reruntuhan itu berasal dari bangunan suci yang telah terlantar. Buktinya ia menemukan beberapa patung dengan berbagai ukuran. Ia meyakini itu adalah patung dewa.

Limpu mengalihkan pandangannya menuju sekelilingnya. Matanya tertaut pada sepasang mata yang serupa dengannya.

Jelas saja pemilik sepasang mata itu ialah manusia sama seperti dirinya. Tiba-tiba terdengar suara sepuh dari sepasang mata itu.

“Akhirnya, kau datang juga anakku. Putra Sang Hyang Bhatara Semesta!”

Limpu menautkan kedua alisnya. Bingung.

“ Semua pertanyaan yang ada dibenakmu itu akan terjawab tak lama lagi.”

“Kau hanya perlu menyiapkan dirimu untuk menyelamatkan dusunmu yang gaib itu!”

Limpu semakin tak mengerti. Ia menatap lekat-lekat sepasang mata bertubuh renta itu. Tak ditemukan jejak kebohongan maupun sekadar lelucon.

Sepasang mata itu adalah seorang pria ringkih dengan pakaian layaknya seorang Brahmana. Brahmana tua itu menyarankan Limpu untuk menuntaskan seluruh kutukan dan tulah Sang Datuk Seberang.

Limpu tampak berpikir keras. Apakah ini jalan yang harus ia tempuh sebagai keturunan langsung dari si terkutuk itu? Sang Brahmana tua menyerahkan semua keputusan kepada Limpu. Ia tak ingin memaksa. Karena itu bukan sifatnya.

***

Setelah berunding dengan ibunya dan beberapa tetua dusun, pada akhirnya Limpu memilih mengorbankan dirinya. Tengah malam kelak tatkala sinar bulan jatuh tepat di patung dewa, ia akan menaiki perahu untuk kemudian berlayar ke negeri seberang.

Sudah tentu ia tak akan selamat. Sebab, kutukan itu masih terus berlangsung terhadap keturunan para lanun. Namun, siapa yang akan tahu bagaimana takdir sesesorang. Bagaimana semesta akan mengambil alih kisah Limpu di masa-masa selanjutnya.

Bertahun-tahun kemudian masih tak ada kabar bagaimana nasib Limpu. Namun, terjadi sesuatu yang gaib paska kepergian Limpu. Dusun kecil yang gaib itu menjadi tersohor dan dapat dipandang oleh mata.

Dusun itu seakan muncul begitu saja. Begitu pikir orang-orang yang awam tentang keberadaan dusun itu.

Maka mungkin dapat dikatakan bahwa pengorbanan Limpu yang berjumlah tiga kali itu tidaklah sia-sia. Malah membawa peruntungan besar bagi para warga dusun hingga di masa-masa selanjutnya.

Akhirnya, sebermula kisah Limpu dapat ditutup dengan akhir yang haru. Lalu adakah pengorbanan yang dapat kau kisahkan? Mari, aku siap mendengarkan sembari menghisap aroma malam. (**)

Pengirim: Dian Chandra (Hardianti)

Bionarasi:
Dian Chandra adalah nama pena dari Hardianti. Selain berstatus sebagai seorang istri dan ibu dari 2 anak plus 1, ia juga seorang arkeolog yang bermukim di Toboali, Bangka Selatan. Beberapa karya tulisnya berupa cerpen pernah dimuat di beberapa media cetak dan online, seperti di Bangka Pos, Rakyat Pos, Babel Pos, dan Sumselupdate.com. Saat ini ia sedang merampungkan novel perdananya yang bertajuk “kehidupan perempuan” yang terinspirasi dari beberapa naskah sastra kuno, prasasti, dan relief yang dipelajarinya selama di bangku kuliah. Ia dapat dihubungi di hardianti6715@gmail.com

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.