Dari Antologi Puisi: ‘Aku, Bumi, Langit, dan Kau’

Selasa, 27 Juli 2021
Heddy Warmansyah Salam.

Bidar

(Didedikasikan untuk masyarakat Kota Palembang & Sumsel)

Read More

Meriah gemericik pesta

Kibar ramai bendera di tepian

Kali besar bak surga laga

Perahu berbaris saling bercanda

Suara tembak ke langit memecah tanda

Merobek adrenalin menembus dada

Genderang haluan memekikkan komando perang

Dayung tergenggam menepis arus gelombang

Beriringan

Perahu laju-melaju….

Membelah air….,……

Melesat secepat gundala

Menarikan irama kayuh makin menggila

Menjadi yang pertama

Mengusung kebanggaan

Raja di pacu jalur

 

Memoar Palembang 17 Agustusan.

 

Aku dan Hutan

Hutanku sedih

Limbung……

Terhantam derak tumbang pepohonan

Berdebum menghunjam patah

Luka di tanah

 

Hutanku menangis

Pilu………………

Mendengar desis bengis mata gergaji mengiris

Tercabik berdarah-darah

Mati di tanah

 

Kujenguk dia di pelukan bumi

Ibunda terpaku semakin tua

Kulantunkan lagu persahabatan alam

Mengikat janji harmoni keasrian

Menanam benih keabadian

 

Kutulis surat ke Penghulu langit:

Tentang tangis sesak nafas rimba

Cerita buruk balak liar dan dozer hitam

Tentang pesan tempat asa bergantung

Cerita manis perginya banjir longsor dan udara kotor

Memohon bahtera hidup

Berlayar dalam keseimbangan

 

Paru-Paru Bumi, Cimahi 16 April 2021.

 

Jembatan Ampera

 

Terbisik rindu menjengukmu

Cerita panjang jalan air menuju laut

Perahu berhias melarung gadis bersongket emas

Menebar senyum dari hilir ke hulu darat

Di atas jembatan

Melukis jiwa kesultanan

Melantunkan gending kedigjayaan Syailendra

……

Rindu semakin tajam

Tiang kembar bergandeng tangan

Terangkum kokoh melintas panjang

Menjulang ke langit

Membelah kota kejayaan

Menulis puisi aura kerajaan lama

 

Tak terlupakan,  Palembang – February 2021

 

Telok Abang

(Didedikasikan untuk masa kecil wong kito galo )

Di tepian musi

Di muka wajah benteng

Tempat sejarah tua bercerita

Pesona anak bermain ceria

Memegang sebatang lidi kokoh di tangan

Berujung telur merah rebusan rumah

Di punggung pesawat terbang dan kapal layar

Dari kayu gabus berkilap merah putih

Diputar-putar di atas kepala

Sesampai tiba senja bertegur sapa

 

Mainan telok abang dari kota tua

Bagi mereka tanpa beban di mata

Makna sebenar sebuah kata merdeka

Menyantap dan membawanya pulang ke rumah

Di jiwa kemerdekaan balita

 

Agustusan Kota – Cimahi 2021

(Dari Antologi Puisi Satire Wajah Angan-Angan)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts