Bidar
(Didedikasikan untuk masyarakat Kota Palembang & Sumsel)
Meriah gemericik pesta
Kibar ramai bendera di tepian
Kali besar bak surga laga
Perahu berbaris saling bercanda
Suara tembak ke langit memecah tanda
Merobek adrenalin menembus dada
Genderang haluan memekikkan komando perang
Dayung tergenggam menepis arus gelombang
Beriringan
Perahu laju-melaju….
Membelah air….,……
Melesat secepat gundala
Menarikan irama kayuh makin menggila
Menjadi yang pertama
Mengusung kebanggaan
Raja di pacu jalur
Memoar Palembang 17 Agustusan.
Aku dan Hutan
Hutanku sedih
Limbung……
Terhantam derak tumbang pepohonan
Berdebum menghunjam patah
Luka di tanah
Hutanku menangis
Pilu………………
Mendengar desis bengis mata gergaji mengiris
Tercabik berdarah-darah
Mati di tanah
Kujenguk dia di pelukan bumi
Ibunda terpaku semakin tua
Kulantunkan lagu persahabatan alam
Mengikat janji harmoni keasrian
Menanam benih keabadian
Kutulis surat ke Penghulu langit:
Tentang tangis sesak nafas rimba
Cerita buruk balak liar dan dozer hitam
Tentang pesan tempat asa bergantung
Cerita manis perginya banjir longsor dan udara kotor
Memohon bahtera hidup
Berlayar dalam keseimbangan
Paru-Paru Bumi, Cimahi 16 April 2021.
Jembatan Ampera
Terbisik rindu menjengukmu
Cerita panjang jalan air menuju laut
Perahu berhias melarung gadis bersongket emas
Menebar senyum dari hilir ke hulu darat
Di atas jembatan
Melukis jiwa kesultanan
Melantunkan gending kedigjayaan Syailendra
……
Rindu semakin tajam
Tiang kembar bergandeng tangan
Terangkum kokoh melintas panjang
Menjulang ke langit
Membelah kota kejayaan
Menulis puisi aura kerajaan lama
Tak terlupakan, Palembang – February 2021
Telok Abang
(Didedikasikan untuk masa kecil wong kito galo )
Di tepian musi
Di muka wajah benteng
Tempat sejarah tua bercerita
Pesona anak bermain ceria
Memegang sebatang lidi kokoh di tangan
Berujung telur merah rebusan rumah
Di punggung pesawat terbang dan kapal layar
Dari kayu gabus berkilap merah putih
Diputar-putar di atas kepala
Sesampai tiba senja bertegur sapa
Mainan telok abang dari kota tua
Bagi mereka tanpa beban di mata
Makna sebenar sebuah kata merdeka
Menyantap dan membawanya pulang ke rumah
Di jiwa kemerdekaan balita
Agustusan Kota – Cimahi 2021
(Dari Antologi Puisi Satire Wajah Angan-Angan)











