Cerpen : Perindu Suara merdu

Karya:  Rusmin Toboali

Marianem adalah penyanyi dangdut dari Kampung Kami. Suaranya amat merdu dan mendayu. Semua orang yang mendengarkan suara perempuan itu menyanyi, pasti akan tergila-gila. Selain memiliki suara yang indah, Marianem dikaruniai Sang Maha Pencipta wajah yang cantik.

Read More

Semua lelaki yang melihatnya pasti akan tergoda. Dan para lelaki normal pasti ingin meminangnya menjadi istri. Apalagi Marianem berstatus jomblo. Tepatnya seorang janda yang sudah lama ditinggal pergi suaminya tanpa kabar berita.

Tak heran, bila banyak lelaki yang mengejar. Ingin menyuntingnya sebagai istri. Anehnya hingga detik ini, tak seorang pun lelaki yang nyangkut di hati penyanyi dangdut itu.

” Allah belum memberi jodoh,” jawab Marianem saat ditanya kapan menikah. Dan frasa Allah belum memberi jodoh, menjadi jawaban pamungkasnya dalam memenggal pertanyaan orang-orang.

Permasalahan muncul dan menjadi bahan perbincangan warga kampung, ketika pada suatu senja yang indah di mana gerombolan burung-burung camar sedang menari-nari di langit yang biru, Marianem kedatangan seorang tamu dari Kota. Lelaki dari Kota itu sungguh sangat rindu dengan suara Marianem yang sudah lama tak terdengar.

Maklum, semenjak era Corona datang, Marianem tak manggung. Ada surat larangan dari instansi terkait yang melarang adanya keramaian. tepatnya kegiatan yang mengundang keramaian. Salah satunya pentas musik.

Lelaki dari kota itu hidup menduda. Istrinya wafat saat dia melahirkan anak pertamanya yang kini menimba ilmu di sebuah pesantren. Sehari-hari lelaki itu bekerja sebagai birokrat pada salah satu dinas di Kota.

Lelaki itu datang ke rumah Marianem dengan diantar oleh perangkat desa. Dan Marianem menerimanya dengan senang hati. Keramahan Marianem dalam menyambut tamunya dari kota membuat obrolan mereka sore itu menukik hingga matahari sudah lelap dalam peraduannya. Seiring hadirnya cahaya rembulan yang mulai datang menghampiri bumi.

Lelaki Kota itu dengan sikap yang hormat dan dengan tutur kata yang sopan, meminta izin kepada Marianem untuk bermalam di rumah penyanyi dangdut itu. Marianem kini dalam posisi dilema. Apakah mengizinkan lelaki yang jauh-jauh datang dari Kota menginap di rumahnya atau menyuruhnya pergi dan menginap di tempat lain. Persoalannya di kampung mereka tak ada penginapan. Dan kalau menyuruh Lelaki Kota itu pulang, kendaraan umum tak ada lagi.

“Mohon izinkan saya menginap di sini. Saya bisa tidur di teras rumah Adek,” pinta Lelaki Kota itu dengan nada sopan bercampur rengekan ala anak-anak kepada Marianem. Penyanyi dangdut itu terdiam. Mulutnya terkunci dengan sangat rapat. Belum terdengar jawaban dari mulutnya.

“Saya masih setia menunggu jawaban Adek,” sambung lelaki Kota itu saat melihat Marianem belum memberi jawaban.

Dan seandainya, Marianem mengizinkan lelaki Kota yang bukan muhrimnya menginap di rumahnya, apa kata dunia. Para warga pasti membicarakannya. Walaupun dalam hati kecilnya jujur, penyanyi dangdut itu sangat kesepian. Dan untuk mengusir kesepiannya, Marianem akhirnya menyalurkan bakatnya sebagai penyanyi. dan mendapat respon luarbiasa dari para penggemar musik.

Kepala Marianem tiba-tiba mendadak pusing. Tablet pil anti pusing yang telah diminumnya, belum mampu menghilangkan kepalanya yang mendadak pusing. Akhirnya solusi pun didapat. Lelaki Kota itu menginap di Pos Ronda. Dan Marianem akan menyenandungkan suaranya untuk menghibur Lelaki Kota itu lewat seperangkat alat karaoke yang ada di rumahnya.

” Maafkan saya Pak. Saya sangat keberatan kalau Bapak menginap di rumah ini. Maklumlah saya seorang janda. Mohon bapak mengerti dengan perasaan saya dan etika kehidupan di kampung ini. Tapi saya akan menyanyikan beberapa lagu untuk Bapak lewat alat karaoke,” jawab marianem dengan nada suara santun.

Dan malam itu lelaki Kota itu menginap di Pos Ronda bersama dengan para peronda. Lelaki itu kembali ke Pos Ronda Kampung usai mendengarkan suara marianem bersenandung menyanyikan lagu. Dan seperti biasanya, sebuah tips pun dititipkan lelaki Kota itu ke tangan Marianem. Dan saat lelaki itu sudah meninggalkan rumahnya, Marianem sungguh kaget. Disalah satu lembaran uang merah bergambar Tokoh Proklamtor, ada sebuah tulisan yang berbunyi, “Aku ingin meminangmu, Dek Marianem”.

Berita kedatangan seorang lelaki Kota ke rumah Marianem, ditanggapi warga kampung dengan nada komentar yang berbeda-beda.

“Luarbiasa Marianem. Penggemarnya datang jauh-jauh dari kota hanya untuk mendengarkan suaranya,” kata seorang warga.

“Saya meragukan maksud baik lelaki Kota itu datang ke rumah Marianem hanya untuk mendengarkan suaranya. Pasti ada agenda tersembunyi,” sambung seorang warga lainnya.

” jangan-jangan mereka memang ada hubungan spesial. Mana mungkin, seorang yang mengaku penggemar datang jauh-jauh dari Kota hanya untuk mendengarkan suara penyanyi dangdut kampung. Di Kota juga banyak penyanyi yang suaranya lebih merdu dan bagus dari Marianem,” celetuk warga yang lain.

“Untung suaminya tak ada kabar beritanya. Kalau nggak, pasti sudah terjadi perang dunia ketiga di rumah itu. Suaminya dulu kan seorang pencemburu. Makanya ketika suaminya masih ada, Marianem tak bisa menyanyi di panggung.Tak diizinkan suaminya. Paling karaokean di rumah bersama suaminya,” sebut seorang warga lainnya.

“Kalau seandainya, Marianem memang punya hubungan khusus dengan lelaki kota itu, apa salah? Apa berdosa?,” tanya seorang warga kampung. Semua warga terdiam. Dada mereka tiba-tiba merasa nyeri. Nyeri sekali.

Di rumah Marianem, penyanyi dangdut itu bersenandung. Suaranya sungguh merdu. Lagunya pun sebuah lagu berlirik indah yang bernada jawaban pasti. Sebuah lagu yang Marianem dan Lelaki Kota senandungkan secara bersama-sama saat lelaki Kota itu datang ke rumahnya beberapa waktu lalu.

Kau masih gadis atau sudah janda

Baik katakan saja jangan malu

Memangnya mengapa aku harus malu?

Abang tentu dapat ‘tuk membedakannya

Kau katakan saja yang sesungguhnya

Sesungguhnya diriku

Oh, memang sudah janda

Walaupun kau janda tetap kucinta.

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.