Cerpen : Pak Kedindil dan Ambisinya

Ilustrasi

Karya: Rusmin Toboali

Isu resufle kabinet di Negeri Lilot dalam sepekan terakhir makin menggema. Berhembus dibawa angin selatan yang tak menentu datangnya. Pergantian para pejabat ini, menurut sumber yang terpercaya, terkait upaya Kepala Negeri Lilot untuk mengaplikasikan visi dan misinya saat kampanye pada kontestasi demokrasi beberapa waktu lalu. Intinya untuk perubahan pembangunan dan kesejahteraan warga.

Read More

Salah seorang yang paling merasakan phobia resufle ini adalah Pak Kedindil, pejabat di salah satu instansi. Terlebih tatkala Kepala Negeri dalam seminggu terakhir ini, tak pernah lagi meminta dirinya datang ke ruangan Sang Kepala Negeri sekadar menanyakan tugas-tugas yang sudah dikerjakan. Kondisi ini membuat Kedindil makin percaya dengan isu bahwa dirinya termasuk salah satu pegawai yang akan dilengser.

Siang itu, saat sinar matahari berada di atas kepala dengan garangnya, di warung Mang Keliru, sejumlah pejabat Negeri Lilot sedang berkumpul. Fokus pembicaraan tentang isu rencana resufle kabinet. Hanya tentang isu resufle. Tak ada yang lainnya.

“Pak Kedindil. Apa benar Kepala Negeri akan me-resufle kabinet dalam minggu-minggu ini,” tanya Mang Useng.

“Saya belum tahu sampai detik ini. Isu itu pun saya baru dengar dari kawan-kawan. Kepala Negeri belum pernah cerita tentang soal mutasi,” jawab Pak Kedindil sambil menyeruput kopi yang terhidang di hadapannya.

“Saya nggak percaya kalau Pak Kedindil ndak tahu isu itu. Bapak kan tim sukses Kepala Negeri terpilih waktu pemilihan dulu. Pak Kedindil kan orang kepercayaan beliau. Masa‘ tangan kanan pemimpin ndak tahu berita itu?,” ujar Mang Useng seraya menyantap pisang goreng.

“Jujur, saya belum dengar rencana resufle itu,” jawab Pak Kedindil malas.

“Wah kalau begitu ceritanya, Pak Kedindil udah nggak dipake sama Kepala Negeri lagi. Pak Carmuk saja udah tahu kalo mau ditempatkan sebagai Kepala salah satu instansi. Masa Pak Kedindil belum tahu posisi sendiri?,” sela yang lain.

“Mestinya para pegawai nabat. Kalau usia sudah masuk masa pensiun, tak harus ngotot minta jabatan. Janganlah dengan jabatan justeru merugikan orang banyak. Buat apa bangga dengan jabatan kalo hanya untuk petantang-petenteng dan tidak mampu memberikan kontribusi buat warga?,” ujar Arok, Ketua Organisasi Pemuda.

“Serahkan kepada yang muda-muda dan yang ahlinya. Sehingga ada regenerasi. Saya setuju dengan langkah Kepala Negeri untuk melakukan perubahan dengan menempatkan orang yang sesuai bidangnya dan yang energik. Jangan yang diajak yang sudah tua-tua dan uzur. Kasian warga. Kasian Kepala Negeri,” sambung Arok, Ketua Organisasi Pemuda.

Pengunjung yang berada di warung Mang Keliru seketika terdiam mendengar celetukan Arok. Dalam hati mareka berkeyakinan, apa yang diucapkan Arok ada benarnya juga dan sungguh masuk akal.

Setiba di rumah, Pak Kedindil diam seribu bahasa. Panggilan dari sang isteri tidak digubrisnya sama sekali. Entah sudah berapa kali, tawaran minum yang telah dihidangkan sang isteri di teras depan rumah mereka tidak dihiraukan. Sang isteri pun bingung. Apa gerangan yang terjadi pada suaminya.

“Pak. Diminum kopinya. Entar kopinya keburu dingin. Ndak enak lho minum kopi dingin,” ujar isteri Kedindil.

Pak Kedindil tidak menyahut. Diam seribu bahasa. Wajahnya terkesan gusar. Ada sesuatu yang terpendam. Sekan-akan hendak memecahkan kepalanya yang sudah ditumbuhi warna putih.

Melihat sang suami tidak menanggapi percakapannya, sang isteri langsung pergi meninggalkan Pak Kedindil seorang diri.

Usai Maghrib, ketukan pintu depan rumahnya membuat kaget Kedindil yang sedang asyik nonton TV sendirian. Bergegas dia menuju pintu depan. Saat dibukanya, terlihat wajah Pak Carmuk yang menebar senyum bahagia.

“Oh, Pak Carmuk. Apa kabar? Mari Masuk,” sapa Pak Kedindil sambil mempersilahkan Pak Carmuk duduk di ruang depan rumahnya.

“Kok sepi. Kemana isteri dan anak-anaknya Pak?,” tanya Pak Carmuk seraya menyandarkan badan pada daun kursi.

“Anak-anak bersama ibunya ke rumah mertua. Ada keperluan,” jawab Pak Kedindil.

“Oh, ya. Pak Kedindil sudah denger belum rencana Kepala Negeri mau merombak susunan personalia pemerintahan kita,” tanya Pak Carmuk.

“Belum Pak. Emangnya Pak Carmuk udah dihubungi Kepala Negeri?” tanya Pak Kedindil..

“Belum sih. Cuma info yang saya denger dari Pak Sekretaris, kalau Kepala Negeri mau melakukan perombakan besar-besaran. Beliau mau menempatkan orang-orang terbaik yang akan melaksanakan visi dan misi beliau waktu kampanye dulu,” jawab Pak Carmuk.

“Oh…. Kalau begitu, kita-kita ini akan terpental dari posisi kita Pak.” tanya pak Kedindil lagi.

“Saya belum tahu pasti. Ya, kita pasrah saja. Jabatan kan amanah dan kepercayaan. Kalo kita tidak dipercaya lagi, ya, kita harus bersikap bijaksana. Jabatan jangan dikejar-kejar lah. Ntar kita sendiri yang repot. Apalagi usia kita kan udah tergolong telmi,” ujar Pak Carmuk

“Telmi…?,” Kedindil heran.

“Iya. Telat mikir. Maklum kan usia kita udah layak pensiun. Kalah bersaing dengan pegawai-pegawai muda itu. Kita ini kan cuma menang di golongan saja. Kalau soal ilmu, jujur saja, kita ini ketinggalan. Makanya, saya pasrah saja, kalau nggak di pake lagi. Biar pegawai yang muda-muda itu membantu Kepala Negeri mewujudkan visi dan misi beliau agar rakyat lebih sejahtera. Mareka kan masih fresh,” Pak Carmuk berseloroh.

Sepulangnya Pak Carmuk dari rumahnya, Pak Kedindil langsung tancap gas dengan motor dinasnya. Pria setengah baya ini menuju rumah Mbah Pahing yang terletak di desa seberang. Sudah bukan rahasia umum lagi, Mbah Pahing dikenal sebagai orang pintar. Banyak orang terkenal yang berkunjung ke rumahnya.

“Anu, Mbah. Saya minta pendapat. Bagaimana dengan karier saya? Soalnya ada isu, Kepala Negeri akan merombak kabinetnya,” tanya Pak Kedindil hati-hati.

“Saya sudah tahu itu. Posisimu akan digantikan orang yang lebih muda dan cerdas serta penuh vitalitas. Orang-orang ini yang akan dipakai Bos mu,” jelas Mbah Pahing.

“Apa yang harus saya lakukan Mbah?,” tanya Kedindil.

“Kamu titip barang ini di pintu masuk ruangan kerja Bos mu,” jawab Mbah Pahing sambil menyodorkan sesuatu bungkusan kepada Pak Kedindil.

Usai subuh, Pak Kedindil melangkah kakinya menuju rumah Kepala Negeri. Di tangan kanannya menenteng bungkusan kecil pemberian Mbah Pahing. Usai bersapa ria dengan para hansip yang bertugas di halaman rumah Kepala Negeri, Kedindil langsung menuju ruang belakang rumah Kepala Negeri.

Tampak isteri Kepala Negeri sedang mendengarkan ceramah subuh seorang ustadz terkenal di televisi. Melihat kehadiran Kedindil, isteri Kepala Negeri langsung menyapa.

Tumben, Pak Kedindil. Pagi-pagi datang ke rumah. Ada keperluan penting ya?,” tanya isteri Kepala Negeri kepada Pak Kedindil.

“Iya, Bu. Saya ingin mencari informasi yang akurat dan terpercaya soal mutasi pegawai. Soalnya banyak yang bertanya kepada saya,” jawab Kedindil.

“Maaf, ya Pak Kedindil. Kalau masalah itu, saya ndak paham. Itu wewenang Bapak. Saya nggak ngerti sama sekali. Saya mohon maaf Pak. Saya ndak tau soal-soal itu,” jawab isteri Kepala Negeri.

“Baiklah Bu. Saya mohon maaf telah menggangu. Ini ada titipan hasil kebun untuk Pak pemimpin Desa,” ujar Pak Kedindil.

“Terima kasih ya Pak Kedindil. Buat merepotin saja bawa hasil kebun ini,” ujar isteri Kepala Negeri.

Pak Kedindil pun pamit dan meninggalkan rumah Kepala Negeri dengan seribu pertanyaan dalam hati.

Pagi harinya, suasana di Kantor Negeri Lilot, suasana tidak seperti biasanya. Para pegawai Kenegerian sibuk membicarakan tentang isu perombakan personalia pemerintahan dari pada melayani para warga yang datang berurusan. Bagi mereka membicarakan isu resufle lebih penting ketimbang melayani urusan warga.

“Kabarnya, yang akan diangkat sebagai Sekretaris adalah pegawai muda dari salah satu Instansi. Orangnya masih muda dan bertitel. Lulusan Universitas jurusan administrasi,” ujar Pak Gamang, Kepala Keamanan Kantor Kepala Negeri.

“Iya. Kabarnya yang akan menempati posisi bendaharawan adalah seorang lulusan akuntansi masih muda juga. Lulusan terbaik di universitasnya,” sela Mina yang bekerja di bagian pelayanan umum.

“Hebat dong gebrakan Kepala Negeri kita. Menempatkan orang-orang terbaik pada posisinya,” tukas Iyan, sang hansip.

“Memangnya kamu mau diganti posisimu sebagai tukang jaga malam sama Kepala Negeri?,” tanya Mina kepada Iyan dengan penuh emosi.

Iyan tak menjawab. Wajahnya merah membara menahan emosi.

Tak lama setelah gonjang-ganjing pagi itu, Kepala Negeri mengumpul semua staf di ruang rapat. Wajah beberapa pegawai berusia lanjut terlihat tegang. Termasuk Pak Kedindil. Kepala Negeri merasakan adanya sesuatu yang terjadi pada beberapa pegawai ini.

“Bapak dan Ibu sekalian. Saya mengumpulkan kalian semua di ruang ini untuk menjelaskan tentang rencana mutasi di pemerintahan kita. Tujuannya jelas, untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Pergantian ini adalah sesuatu yang harus dilakukan. Saya ingin yang membantu saya adalah pegawai-pegawai yang penuh semangat dan penuh vitalitas. Kita semua kan tahu. Saat ini pelayanan kita terhadap masyarakat belum prima. Banyak keluhan dari warga,” jelas Kepala Negeri.

Semua yang hadir langsung terdiam. Suasana ruang rapat mendadak hening.

Usai rapat, Pak Kedindil menemui Kepala Negeri. Dengan langkah tegap dan senyum yang mempesona, Pak Kedindil masuk ke ruangan Kepala Negeri.

“Pak. Saya mohon agar surat pensiun saya segera ditandatangani. Sudah waktunya saya mengabdi untuk keluarga. Saya rasa sudah cukup sampai usia setua ini saya mengabdi untuk masyarakat. Saya ingin pensiun, Pak. Saya akan pulang kampung saja. Biar bisa dekat dengan keluarga,” jelas Pak Kedindil.

Kepala Negeri tersenyum mendengar keinginan Pak Kedindil.

“Saya bangga dengan Pak Kedindil. Berjiwa besar dan patriotisme. Siap memberikan tempat kepada yang muda-muda untuk terciptanya regenerasi. Saya bangga dengan Pak Kedindil. Saya bangga sekali,” ujar Kepala Negeri sembari menepuk-nepuk pundak Pak Kendindil.

Pak Kedindil pun meninggalkan kantor Kepala Negeri wajah penuh kegembiraan. Ingin rasanya ia mengabarkan kepada semua orang bahwa dia bukan pengambisi jabatan. Dirinya adalah abdi masyarakat. Bukan abdi jabatan. (*)

Toboali, September 2021

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.