Cerpen : Matinya Sang Penggiat Demokrasi

Sabtu, 11 September 2021
Ilustrasi

Karya : Rusmin Toboali

“Saya minta kalian semua bertindak tegas kepada siapapun yang menghalangi usaha kita ini. Sikat!”, ujar seorang lelaki berperawakan gendut berkepala botak kepada beberapa orang yang hadir di belakang rumah Pak Kadus.

Read More

“Lantas siapa yang bertanggungjawab?,” celetuk seorang di antara yang hadir.

“Kamu. Kamu sebagai kadus yang harus bertanggungjawab,” jawab lelaki itu.

Dan belum sempat lelaki yang dikenal sebagai Pak Kadus itu menjawab, lelaki yang dikenal dengan panggilan Pak Bos kembali berujar.

“Kamu tahu kan berapa biaya yang sudah saya keluarkan. Kamu paham kan? Kalau seperti ini saya bisa lugi wo. Bisa bangklut. Bangklut,” lanjut lelaki itu dengan nada suara tinggi.

Semua terdiam. Termasuk Pak Kadus. Gugup juga Pak Kadus saat mendengar paparan Pak Bos soal biaya. Soalnya selama ini dia yang sering menerima aliran dana dari Pak Bos itu baik secara langsung maupun transfer. Dan Pak Kadus pula yang banyak menggunakan aliran dana dari pengusaha hitam itu untuk kepentingan dirinya.

Semenjak adanya demo dari masyarakat dusun yang dipelopori oleh Mat Pelanduk, usaha penambangan milik Pak Bos di tepi pantai mulai terusik. Masyarakat beberapa kali menghentikan kegiatan ilegal itu. Bahkan dalam seminggu ini usaha itu tidak berjalan.

Dan kehidupan para nelayan mulai kembali normal. Harga ikan mulai melonjak. Otomatis derajat kehidupan masyarakat nelayan di tepi pantai pun mulai terangkat.

Alhamdulillah, semenjak usaha penambangan itu berhenti, penghasilan kita naik,” ujar Pak Waswas saat mereka sedang ngobrol di pantai kepada beberapa para warga yang berprofesi sebagai nelayan.

“Iya. Makanya kita harus bersatu melawan kesewenang-wenangan ini,” ujar Mat Pelanduk.

“Tapi Pak Bos itu pasti tak akan tinggal diam,” lanjut warga nelayan yang lain.

“Selama kita bersatu, semua persoalan akan selesai,” papar Mat Pelanduk.

Di mata warga Dusun Liluk, Mat Pelanduk adalah warga yang paling getol melawan kegiatan penambangan ilegal di Dusun Mereka. Tanpa henti, lelaki setengah baya ini terus melawan dan tiada henti mengadvokasi masyarakat tentang bahaya penambangan ilegal di tepi pantai itu. Tanpa lelah, lelaki itu terus berjuang tanpa kenal lelah walaupun teror dan ancaman terus menderanya. Lelaki itu tanpa kenal rasa takut terus berjuang melawan kesewenang-wenangan.

“Kalau kita diam dan bungkam seribu bahasa maka kita akan diinjak oleh para penguasa dan pengusaha yang saling berkolaborasi untuk memiskinkan kita. Dan ingat ini tempat kita hidup dan berkehidupan. Kalau tempat kita hidup dan berkehidupan sudah dirusak para tangan-tangan jahil dan otak kotor maka jangan harap kita sejahtera. Kita akan tetap miskin dan melarat ditengah sumber daya alam yang melimpah. Apa kita masih saja berdiam diri,” papar Mat Pelanduk kepada para warga dusun yang memang sebagian besar hidup dari laut.

“Bagaimana dengan resiko yang bakal kita hadapi?,” tanya seorang warga.

“Hidup ini pasti ada resikonya. Kita ke sini saja ada resikonya. Apalagi melawan kesewenang-wewenangan. Tapi yakinlah, kesewenang-wenangan akan hancur,”ungkapnya dengan narasi penuh patriotik.

Warga dusun memang seringkali mendengar teror yang dialamatkan kepada Mat Pelanduk. Para sahabat dan warga seringkali mendengar soal ancaman yang dialamat kepada rekannya itu dari beberapa orang. Namun Mat Pelanduk seakan tak peduli. Kegarangan jiwanya melawan kesewenang-wenangan di Dusunnya terus dikibarkannya bak para pahlawan dulu saat melawan penjajah.

“Kita harus ingatkan Mat Pelanduk untuk hati-hati dan waspada,”k ata seorang warga saat mereka ngobrol di warkop Mang kalkulator rusak.

“Iya. Soalnya saya sering mendengar beberapa orang ingin mencelakai sahabat kita itu,” ujar warga lainnya.

“Kita harus membantu dia. Bukankah selama ini dia yang sering membantu kita menghadapi ancaman dari para penambang ilegal itu,”ungkap warga yang lain.

Dan mereka pun bersepakat untuk selalu mengontrol rumah Mat Pelanduk kalau kebagian jatah ronda. Suatu bentuk solidaritas terhadap sesama teman yang ingin memperjuangkan kebenaran dan melindungi hak hidup alam untuk kebaikan manusia.

Sudah tiga malam ini, rumah Mat Pelanduk didatangi beberapa orang asing. Mereka berbadan tegap. Dan mereka bukan warga dusun. Bahkan menurut beberapa warga, pada malam ketiga sempat terjadi adu mulut antara Mat Pelanduk dengan orang-orang berbadan tegap itu.

“Kalau kamu masih menghalangi kegiatan Pak Bos kami, maka tunggu saja akibatnya,” teriak salah seorang dari berbadan tegap sambil meninggalkan rumah Mat pelanduk.

Warga Dusun Liluk gempar. Pagi itu, para warga yang baru pulang melaut dengan hasil melimpah menemukan jasad Mat Pelanduk di tepi pantai dengan keadaan yang menggenaskan. Seluruh tubuhnya penuh luka-luka dan pendarahan. Seolah-olah sebelum wafat, lelaki mengalami penyiksaan yang luarbiasa.

Berita tentang kematian Mat Pelanduk menyebar bak virus Covid-19. Menghiasi jagad raya komunikasi negeri itu. Menjadi ornamen para elite untuk nimbrung sekaligus bisa mengalihkan perhatian masyarakat yang sedang dilanda kesusahan. Para petinggi negeri pun ikut sibuk. Mereka mengomentari peristiwa yang memilukan itu.

“Saya telah perintahkan aparat hukum untuk mengusut tuntas kematian warga,”ujar Pak Presiden.

Demikian pula dengan para pejabat hukum pun bernarasi untuk ditayangkan di media.

“Saya telah perintahkan aparat hukum di sana untuk mengusut siapa pelaku dan dalangnya. Tangkap mereka. Hukum harus ditegakkan di negeri ini tanpa pandang bulu,” ujarnya di media televisi.

“Saya telah diperintahkan Pak Presiden untuk menutup kegiatan pertambangan ilegal itu dan membawa perusahaan itu ke meja hijau,” seru seorang Menteri di layar kaca.

“Saya telah instruksikan Camat dan Kepala Desa untuk menutup kegiatan ilegal dan tidak berizin itu,” ungkap Pak Bupati di koran halaman satu.

Di pemakaman umum , para pelayat tampak terharu saat jasad jezanah sahabat mereka Mat Pelanduk dimasukkan ke dalam liang lahat. Isak tangis mewarnai pemakaman itu. Gema Allahu Akbar terus dikumandangkan. Bergema. Religiuskan cakrawala. Sakralkan jagad raya.

Alam raya berduka. Awan hitam warnai langit yang biru. Langkahnya terhenti. Seolah-seolah turut berduka atas kepergian seorang anak bangsa yang tanpa kenal lelah memperjuangkan kebenaran walaupun harus mengorban jiwa dan raganya.

Di media televisi, para petinggi negeri terus mengomentari dan bernarasi indah dan kesedihan tentang wafatnya Mat Pelanduk tanpa ujung penyelesaian. Narasi mereka seolah bisa mengobati luka lara yang dialami penduduk negeri ini di mana hidup dan berkehidupan dijamin konstitusi dan hak asasi manusia. Hanya Allah SWT yang berhak mencabut nyawa seseorang. Bukan para pem-backing kegiatan ilegal. Dan realitanya hari ini telah mati seorang penggiat demokrasi. [ ]

Karya : Rusmin Toboali

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts