Karya: Rusmin Toboali
Lelaki setengah baya itu menatap Matkawi dengan tatapan mata penuh selidik. Tatapan mata lelaki setengah baya itu menghantam mata lelaki muda itu. Lmuda itu tertunduk. Matanya hanya menatap lantai rumah lelaki setengah baya itu. Tak mampu menatap mata lelaki setengah baya itu dengan mata mudanya.
“Jadi kamu datang ke rumahku untuk melamar anakku,” tanyanya. Matkawi tergagap. Mulutnya ingin menyambar pertanyaan lelaki setengah baya itu. Dan secara tiba-tiba, perempuan cantik itu keluar membawa dua gelas kopi.
“Silahkan kopinya diminum. Nanti keburu dingin,” ajak lelaki setengah baya itu.
Sebagai lelaki sejati, Matkwai sudah ingin melamar perempuan cantik itu. Perempuan cantik di kampung Mereka, yang telah dipacarinya sejak setahun terakhir. Dan hanya Matkawi yang mampu menaklukkan hati perempuan cantik Kampung Mereka yang sudah setahun ditinggal suaminya.
“Abang sudah siap untuk melamarku?,” tanyanya.
“Sangat siap,” jawab Matkawi dengan suara mantap.
“Lalu kenapa belum mau bertemu Ayahku. Apakah karena statusku seorang janda,” tanyanya lagi. Matkawi terdiam. Hembusan angin tiba-tiba membelai rambut Matkawi yang mulai kusut. Sekusut jiwa Matkawi setiap ditanya perempuan cantik itu soal kapan bertemu ayahnya.
“Kamu tidak usah risau. Aku akan datang bertemu ayahmu bersama keluargaku. Status jandamu bukan halangan bagiku untuk hidup bahagia bersamamu menantang masa depan yang indah,” jawab Matkawi. Perempuan cantik itu terdiam. Dia memandang cahaya purnama yang malam itu sungguh sempurna.
Matkawi menatap wajah perempuan cantik itu. Terlihat oleh mata mudanya, ada airmata mengalir dari sepasang mata indahnya. Matkawi menghapus airmata perempuan cantik itu dengan sapu tangannya.
Siang itu cahaya matahari bersinar dengan sangat garangnya. Sementara debu-debu berterbangan ulah semilir angin yang sepoi. Matkawi menatap hamparan sawah yang luas dari pondok sawahnya. Sebatang rokok disulutnya. Mengeluarkan kepulan asap yang membentuk pulau-pulau kecil. Kepulan asap itu saling berkejaran. Sebagaimana Matkawi menyaksikan burung-burung di sawah yang saling berkejaran usai melahap padi yang mulai menguning.
“Jadi kamu sudah mantap untuk menikahi perempuan janda itu?,” tanya temannya. Matkawi terdiam. Membisu.
“Kalau kamu masih termakan dengan omongan orang-orang kampung, maka sampai mati kamu tidak akan menikah dengan janda itu. Dan kamu hanya menjadi bujangan tua sampai kamu diantar orang ke kuburan,” ujar temannya. Matkawi menatap wajah temannya.
“Kamu tahu kan apa yang terjadi?,” jawab Matkawi dengan nada suara setengah bertanya.
“Setiap orang punya masa lalu. Termasuk kamu dan aku. Punya cerita masa lalu tersendiri,” kata temannya.
Kecemburuan hati yang melanda sekujur tubuh suaminya, membuat suaminya pergi meninggalkan dirinya. Omongan para warga kampung yang sering menyaksikan istrinya diberi uang oleh seorang lelaki muda telah membuatnya kalap. Api cemburu membakar sekujur tubuhnya.
“Aku percaya, kamu jatuh hati kepada lelaki muda itu. Dan lelaki muda itu pasti menaruh hati kepadamu. Kalau tidak, buat apa dia memberi uang kepadamu yang berstatus sebagai istri orang,” ucap suaminya. Perempuan cantik menunduk. Tak mampu menatap sorot mata suaminya yang tajam dan dipenuhi kobaran api cemburu yang berkobar dalam sekujur tubuhnya.
“Demi Allah, aku siap dikutuk oleh Allah bila aku berbuat serong kepada lelaki muda itu,” jawab istrinya. Jawaban istrinya tak mampu melunakkan hati suaminya. Dan perempuan cantik itu hanya meneteskan airmatanya ketika suaminya meninggalkannya.
Perempuan cantik itu dikejutkan dengan kedatangan lelaki muda itu. Ya, kedatangan Matkawi telah membuat dadanya berdebar. Sudah setahun semenjak dirinya berpisah dengan suaminya, baru pagi ini ada seorang lelaki yang datang bertamu ke rumahnya. Perempuan cantik itu dan Matkawi duduk di teras rumahnya. Semilir angin pagi membawa kenangan bagi keduanya.
“Maafkan aku. Aku sama sekali tak menyangka kalau uang titipan itu telah membuatmu berpisah dengan suamimu,” ujar Matkawi membuka obrolan mereka. Perempuan cantik itu menatap wajah Matkawi. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
“Aku ingin melamarmu sebagai istriku. Semoga engku bersedia,” suara Matkawi terdengar gemetar di gendang telinga perempuan cantik itu.
“Benarkah itu?,” tanya perempuan cantik itu.
“Ya. Malam ini aku bersama keluarga besarku akan datang ke rumahmu untuk melamarmu. Aku ingin menghapus laramu. Aku ingin menghapus kesedihanmu,” lanjut Matkawi dengan nada suara pasti.
Matahari mulai menyemburkan cahaya terangnya. Matkawi meninggalkan rumah perempuan itu dengan hati yang berbalut kebahagian. Suara siulan terus disenandungkannya dari mulutnya. Kebahagian terpancar dari wajahnya. Sebagaimana cahaya matahari yang mulai terasa panas menyinari bumi. Dan menghantarkannya pulang ke rumah dengan hati yang terang benderang. (*)











