Yerusalem, Sumselupdate.com – Dua warga Palestina tewas dalam bentrok dengan pasukan bersenjata Israel. Bentrokan tersebut terjadi seiring dengan penutupan kawasan warga Palestina oleh tentara Israel.
Dilansir detikcom dari AFP, Minggu (23/7/2017), bentrokan teranyar itu terjadi pada Sabtu (22/7) waktu setempat di kawasan suci yang sangat sensitif itu.
Dewan Keamanan PBB akan mengadakan pertemuan tertutup pada Senin (24/7) nanti, usai muncul desakan dari Mesir, Prancis, dan Swedia yang menyatakan, “perlu diskusi untuk meredakan ketegangan di Yerusalem.”
Pada Sabtu itu, pemuda Palestina melemparkan batu dan molotov. Adapun tentara Israel menggunakan buldoser untuk menutup desa dari anak 19 tahun itu, di Tepi Barat. Buldoser itu kemungkinan akan menghancurkan rumahnya.
Israel sering menghukum keluarga-keluarga penyerang dari Palestina dengan cara meruntuhkan atau menyegel rumah-rumah mereka. Ini dilakukan untuk menimbulkan efek jera.
Bentrokan juga terjadi di Yerusalem timur dan desa-desa lain di Tepi Barat dekat Yerusalem. Polisi mengatakan pendekatan anti-huru-hara digunakan.
Di Qalandiya yang merupakan persimpangan Tepi Barat dengan Yerusalem, bentrokan pecah dan melukai delapan orang Palestina. Demikian dilaporkan kementerian kesehatan Palestina.
Seorang warga Palestina tewas karena luka-luka yang dideritanya dalam bentrokan itu, kata kementerian kesehatan. Remaja 17 tahun Oday Nawajaa diterjang tembakan Israel di Al Azariya.
Warga Palestina lain berumur 18 tahun tewas saat bom bensin meledak sebelum waktunya.
Aksi kekerasan ini dipicu oleh langkah pengamanan yang menggunakan pendeteksi logam di jalan masuk Haram Al Sharif. Tempat itu dikenal oleh masyarakat Yahudi sebagai Temple Mount.
Israel mengatakan langkah pengamanan diambil karena terjadi penembakan dan penikaman yang menewaskan polisi Israel pada 14 Juli.
Warga Palestina melihat pengamanan itu sebagai kontrol berlebihan terhadap kawasan suci. Kawasan Kota Tua Yerusalem meliputi Masjid Al Aqsa dan Kubah Batu (Dome of the Rock).
Sebelumnya, Presiden Palestina Mahmud Abbas membekukan komunikasi dengan Israel terkait ketegangan di kompleks Masjid Al-Aqsa.
Pembekuan ini dilakukan setelah Israel bersikeras memasang detektor logam di pintu masuk kompleks suci itu.
Dalam pidatonya, seperti dilansir AFP, Sabtu (22/7/2017), Abbas mengecam langkah keamanan baru yang diterapkan Israel, yakni memasang detektor logam, di pintu gerbang kompleks Haram al-Sharif, atau yang oleh penganut Yahudi disebut sebagai Temple Mount.
Kompleks Haram al-Sharif atau Temple Mount menjadi lokasi Masjid Al-Aqsa dan Dome of Rock atau Bait Suci yang suci bagi umat Islam, Yahudi dan Kristen.
“Saya, atas nama kepemimpinan Palestina, mengumumkan… pembekuan seluruh komunikasi dengan otoritas pendudukan di semua level hingga Israel berkomitmen membatalkan seluruh langkah-langkah melawan rakyat Palestina kami secara umum dan Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa secara khusus,” ucap Abbas yang disambut tepuk tangan jajaran pejabat Otoritas Palestina.
Lebih lanjut, Abbas menyebut langkah keamanan Israel itu terkesan seperti ‘langkah keamanan untuk mengambil alih seluruh kompleks Masjid Al-Aqsa’.
Tidak diketahui pasti apakah langkah pembekuan itu juga berlaku untuk koordinasi keamanan diam-diam yang selama ini dilakukan antara Otoritas Palestina dengan Israel.
Koordinasi itu dipandang banyak membantu mencegah konflik meluas dalam beberapa tahun terakhir.
Baik Palestina maupun Israel memiliki serangkaian komunikasi untuk berbagai isu. Kesepakatan terbaru antara kedua pihak adalah terkait air dan listrik. Sedangkan perundingan damai antara Palestina dan Israel menghadapi jalan buntu sejak tahun 2014, meskipun Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tengah berupaya memulai kembali perundingan itu.
Pernyataan Presiden Abbas ini disampaikan setelah tiga warga Palestina tewas dan ratusan orang lainnya luka-luka dalam bentrokan dengan pasukan keamanan Israel di Yerusalem dan Tepi Barat, pada Jumat (21/7) waktu setempat.
Bentrokan semakin panas setelah otoritas Israel menolak seruan untuk mencabut pemasangan detektor logam di pintu masuk kompleks masjid tersebut.
Otoritas Israel memasang detektor logam di pintu masuk kompleks masjid tersebut sejak 14 Juli, setelah tiga pria Palestina menembak mati dua tentara Israel.
Ketiga warga Palestina tersebut kemudian tewas dalam baku tembak dengan pasukan keamanan Israel. Pemasangan detektor logam tersebut telah memicu kemarahan warga Palestina. (hyd)











