Menjual Mobil Demi Berhaji: 13 Tahun Penantian Harmawan dan Istri Menuju Baitullah

Writer: - Jumat, 8 Mei 2026
Harmawan dan istri, Setia Heni Lianti saat manasik haji. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Perjalanan panjang penuh pengorbanan dilalui Harmawan dan Setia Heni Lianti untuk menunaikan ibadah haji. Sejak 2013, pasangan ini memulai langkah dengan menjual mobil dan menabung secara konsisten, hingga akhirnya setelah 13 tahun penantian, mereka dipastikan berangkat ke Tanah Suci pada 2026.

DI SEBUAH sudut rumah yang terletak di Jalan Tanjung Barangan, Lorong Temiyang VIII. RT 004 Rw 003, No 47B, Bukit Baru, Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, keputusan besar itu pernah diambil. Bukan soal bisnis, bukan pula kebutuhan mendesak.

Read More

Harmawan (51) dan sang istri, Setia Heni Lianti (48), memilih menjual mobil kesayangan mereka demi satu tujuan: berhaji.

Tahun itu 2013. Keinginan menunaikan rukun Islam kelima sudah lama tumbuh, namun langkah nyata baru benar-benar dimulai saat mereka rela melepas sesuatu yang cukup berarti dalam hidup mereka.

“Untuk daftar haji, kami jual mobil,” kenang ayah tiga anak ini yang karib disapa Iwan.

Bagi sebagian orang, kendaraan mungkin sekadar alat transportasi. Namun bagi mereka, itu adalah simbol kenyamanan yang harus dilepaskan demi sebuah panggilan yang lebih tinggi.

Harmawan dan istri, Setia Heni Lianti saat manasik haji. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Perjalanan mereka pun dimulai—bukan dengan kemudahan, melainkan dengan kesabaran.

Setelah mendaftar, perjuangan belum usai. Setiap bulan, Harmawan menyisihkan sebagian dari gajinya sebagai supervisor marketing PT Efata Baja Makmur Palembang.

Sedikit demi sedikit. Tidak besar, tetapi konsisten. Hingga tanpa terasa, 13 tahun berlalu.

“Untuk pelunasan kami cicil sedikit demi sedikit dari gaji. Alhamdulillah, tahun 2026 akhirnya lunas,” ujarnya.

Selama masa penantian itu, mereka tidak memiliki kepastian selain doa. Tidak ada jaminan kapan akan berangkat, tidak ada kepastian kapan nama mereka dipanggil. Yang ada hanya keyakinan.

“Kalau mau menabung, selalu ada saja rezeki yang datang, yang tidak disangka-sangka,” katanya.

Keyakinan itu pula yang membuat langkah mereka tak pernah goyah. Terlebih, dukungan datang dari orang terdekat—istri yang menjadi penguat sekaligus pengingat.

“Istri saya yang paling mendukung. Dia termotivasi dari orang tuanya yang sudah duluan berhaji,” ungkap Harmawan.

Kini, setelah lebih dari satu dekade menunggu, kabar itu akhirnya datang. Nama mereka tercantum dalam daftar keberangkatan Gelombang 2 kloter 11 yang akan terbang ke Mekkah dengan maskapai Saudi Arabian Airlines pada 9 Mei 2026.

Harmawan dan istri, Setia Heni Lianti saat menyampaikan sambutan dalam acara walimatus safar pada Sabtu malam, 2 Mei 2026. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Sebuah kabar yang bukan hanya membahagiakan, tetapi juga menggetarkan hati. “Rasanya sangat bahagia… terharu bisa menjadi tamu Allah,” ucapnya lirih.

Kebahagiaan itu juga dirasakan keluarga besar. Dukungan mengalir, doa dipanjatkan, dan harapan dititipkan.

“Agar di Tanah Suci banyak bersabar, bersyukur, dan menjalani semuanya dengan ikhlas,” begitu pesan keluarga yang paling membekas di hati mereka.

Di tengah persiapan keberangkatan, Harmawan juga merasakan momen-momen kecil yang penuh makna. Salah satunya saat mengikuti manasik haji.

“Bersyukur bisa bertemu orang-orang muslim yang baik dan seiman,” kata anak bungsu dari 6 saudara buah hati almarhum H Turimin dan almarhumah Hj Bawon dengan mata berkaca-kaca.

Bagi Harmawan, haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Mekkah. Ini adalah perjalanan batin, penyempurnaan sebagai seorang muslim.

Ia tak meminta banyak. Hanya satu harapan yang terus ia jaga dalam doa. “Ingin menjadi haji yang mabrur,” ujarnya.

Setelah 13 tahun perjalanan panjang, satu pelajaran hidup ia pegang erat: tidak ada yang mustahil jika Allah menghendaki.

“Kalau ada niat baik di jalan Allah, insya Allah akan terkabul,” katanya.

Sepulang dari Tanah Suci nanti, Harmawan berharap dirinya bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Lebih sabar, lebih ikhlas, dan tidak lupa untuk terus berbagi.

Untuk mereka yang masih menunggu panggilan haji, ia berpesan dengan sederhana. “Bersabar dan berdoa. Insya Allah akan terkabul.”

Lalu, saat ditanya apa yang ia bayangkan ketika pertama kali melihat Ka’bah, Harmawan terdiam sejenak. Suaranya pelan, namun penuh getaran.

“Terharu… tidak bisa berkata-kata. Hanya bisa mengucap Alhamdulillah.”

Dari sebuah mobil yang dilepas dengan ikhlas, perjalanan panjang itu kini bermuara pada satu tujuan: memenuhi panggilan suci.

Sebuah bukti bahwa pengorbanan, sekecil apa pun, tak pernah sia-sia ketika diniatkan untuk-Nya.

(**)

 

 

 

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts