Houthi Serang Israel dengan Rudal Balistik, Konflik AS-Israel-Iran Kian Meluas

Writer: - Minggu, 29 Maret 2026
Para pengikut Houthi ikut serta dalam pawai untuk memperingati 10 tahun direbutnya ibu kota Sanaa oleh kelompok tersebut di Lapangan Al Sabeen di Sanaa, Yaman, pada 21 September 2024. (Xinhua/Mohammed Mohammed)

Kairo, Sumselupdate.com – Kelompok Houthi di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan rudal balistik yang menargetkan sejumlah situs militer sensitif di Israel selatan pada Sabtu (28/3/2026).

Serangan tersebut menjadi yang pertama sejak eskalasi konflik antara Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Read More

Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, menyatakan bahwa operasi itu merupakan bentuk intervensi militer langsung untuk mendukung Iran serta kelompok perlawanan di Lebanon, Irak, dan Palestina.

Dengan konflik yang kini memasuki bulan kedua, keterlibatan Houthi dinilai dapat memperkuat kemampuan serangan balasan Iran dan berpotensi memengaruhi arah konflik di kawasan.

Serangan Langsung ke Israel

Houthi diketahui menjadikan serangan langsung terhadap Israel sebagai strategi utama. Dalam konflik Israel-Hamas sejak 2023, kelompok tersebut menggunakan berbagai persenjataan seperti rudal balistik, rudal jelajah, hingga drone untuk menyerang target di wilayah Israel, termasuk kota Eilat.

Meski sebagian besar serangan diklaim berhasil dicegat, beberapa laporan menyebutkan adanya korban serta kerusakan infrastruktur.

Blokade Jalur Strategis

Selain serangan langsung, Houthi juga berpotensi memperluas aksinya dengan mengganggu jalur pelayaran internasional, khususnya di Selat Bab el-Mandeb.

Dalam konflik sebelumnya, kelompok ini telah menyerang kapal-kapal yang diklaim terkait dengan Israel dan AS di kawasan Laut Merah. Jika konflik terus meningkat, tidak menutup kemungkinan Houthi akan memperketat blokade di jalur strategis tersebut.

Langkah ekstrem berupa penutupan Selat Bab el-Mandeb dinilai dapat berdampak besar terhadap pasar energi global, terutama setelah Selat Hormuz menjadi jalur krusial distribusi minyak dunia.

Ancaman ke Pangkalan AS

Secara geografis, posisi Houthi di Yaman juga dinilai lebih dekat dengan sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah. Hal ini membuka kemungkinan bagi kelompok tersebut untuk melancarkan serangan langsung terhadap aset militer AS.

Namun hingga saat ini, langkah tersebut belum dilakukan dan dinilai memiliki risiko besar karena berpotensi memicu reaksi keras dari negara-negara di kawasan.

Analis politik Yaman, Salah Ali Salah, menyebut keterlibatan Houthi sebagai “pertaruhan berisiko tinggi” yang dapat memperluas konflik menjadi perang regional.

“Risiko yang dihadapi bisa jauh lebih besar dibandingkan keuntungan yang diharapkan,” ujarnya.

Situasi ini menunjukkan eskalasi konflik di Timur Tengah yang semakin kompleks dan berpotensi berdampak luas, tidak hanya pada stabilitas kawasan tetapi juga terhadap ekonomi global, khususnya sektor energi.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts