Cerpen: Dendam di Malam Pertama

Minggu, 18 Juli 2021
Ilustrasi dendam (Shutterstock)

SINAR rembulan semakin membangkrut. Lelaki setengah baya itu tampak diliputi sebuah perasaan yang menandakan bahwa malam ini adalah gilirannya yang akan mati.

Burung liar sudah seminggu ini hinggap di pohon besar yang tak jauh dari rumahnya. Aroma kematian semerbak.

Read More

Dia tampaknya sadar bahwa kematian amat akrab dengan manusia. Dia lalu membuka pintu.

Beberapa orang berbadan tegap menyeretnya ke dalam sebuah mobil. Tak ada perlawanan sama sekali. Tak ada suara sama sekali. Hening.

Matahari berdiri pagi ini terasa rikuh sekali. Tak ada tanda-tanda kesedihan dalam keluarga itu.

Tampaknya mereka, keluarga Bapak setengah baya itu memagari kesedihannya dengan melakukan kesibukan seperti hari-hari biasanya.

Istri lelaki setengah baya itu memulai kesibukannya dengan menjemur pakaian yang baru selesai dicucinya.

Sementara anak semata wayangnya yang sudah menginjak usia remaja dan dikaruniai paras rupawan, bergegas ke sekolah dengan menggunakan seragam sekolah menengah atas.

Tak terlihat tanda-tanda kesedihan di raut wajah rupawannya yang membuat semua warga, terutama kaum muda Kampung Kami tergila-gila kepadanya.

Adalah hal yang biasa bila sesama pemuda kampung kami harus bertengkar dengan sesama mereka karena cemburu.

Padahal tak semua pemuda bisa bertamu ke rumah sang gadis. Hanya mereka dari kalangan kaya dan berduit yang bisa bertamu ke rumah wanita berparas rupawan itu.

Beberapa perempuan kampung yang baru pulang dari mencuci pakaian di sungai di ujung kampung, tampak berlari dengan rasa ketakutan yang mendera sekujur tubuhnya.

Mereka dalam keadaan ketakutan yang teramat sangat, sembari  tak henti-hentinya menyebut kebesaran nama Allah SWT.

“Ada apa?,” tanya seorang warga dengan penuh selidik.

“Ada mayat di sungai,” jawab seorang perempuan Kampung dengan langkah kaki tergopoh-gopoh.

“Mayat siapa?,” selidiknya lagi.

Tak ada sahutan.

Dan dalam waktu hitungan menit, Pak Lurah beserta warga kampung sudah meramaikan kawasan sungai. Bak pasar malam.

Keriuhan terdengar. Air sungai berubah warna. Aroma amis tercium dari air sungai. Sementara seonggok kepala manusia yang mirip seonggok batok kelapa terus mengambang mengikuti arus sungai.

Beberapa kali kepala itu berbenturan dengan batu-batuan yang mengornamen sungai. Kesedihan berangsur hilang, seiring mulai menipisnya para warga yang berkerumun di sana.

Para pencerita di kampung kami menarasikan penemuan kepala manusia di sungai dengan cara mereka.

Mereka para warga kampung yang suka bercerita sesama mereka di warung kopi, tampaknya kali ini menaruh perhatian atas kematian itu.

Bukan karena tingkah laku semasa hidupnya, melainkan soal cara kematian yang menimpa mayat itu.

“Sungguh tega  sekali,” ucap seorang pencerita kampung kami.

“Itu perbuatan yang sangat tidak berperikemanusian,” sambung pencerita yang lain.

“Pelakunya harus dihukum berat, bahkan hukuman mati layak untuknya,” urai pencerita yang lain.

Kini, malam di kampung kami berubah menjadi mencekam. Matahari selalu pamit dengan rasa waspada yang tak tertahankan.

Para pemuda kampung tak ada lagi yang memetik gitar dan melewati malam dengan botol minuman klas murahan itu.

Saat gelap tiba, pintu-pintu rumah warga dikunci dengan rapat. begitu juga dengan jendela rumah warga. Dikunci dengan sangat rapat sekali.

Jumlah para peronda kampung diperbanyak sesuai arahan Pak Lurah. Para warga diminta untuk meningkatkan kewaspadaannya.

Maklum hingga kini, belum ada titik terang soal kematian lelaki setengah baya itu.

“Saya meminta para hansip dan dibantu para peronda Kampung untuk senantiasa waspada. Demikian juga dengan para warga kampung. Saya minta untuk terus waspada dan waspada. Jangan lengah. Ancaman masih didepan mata kita. Jaga kondusifitas di kampung kita  ini yang dikenal publik sebagai kampung yang aman dan ramah serta mengaggungkan nilai-nilai budaya,” perintah Pak Lurah.

Warga Kampung kami kembali digegerkan dengan berita kematian. Seorang warga kampung yang terkenal kaya raya dan akrab dipanggil Pakbos oleh seluruh warga kampung itu yang meninggal pada malam pertamanya di ranjang pengantinnya dengan pakaian pengantin yang masih lengkap.

“Biarkan suamimu tenang. Kamu tak perlu menangisi kepergiannya,” hibur beberapa warga kepada pengantin wanita itu.

Pengantin wanita itu tetap diam dan tak menjawab suara yang dilontar para warga kampung yang menebar simpati kepadanya lewat kata-kata.

Pengantin wanita itu tampak puas dengan kematian suaminya yang belum sempat mencicipi tubuhnya pada malam pertama ini.

Pikiran pengantin wanita kembali menguak dalam otak kepalanya, peristiwa pada malam jahanam yang pernah dilihatnya lewat celah bilik rumahnya, bagaimana anak buah suaminya menyeret bapaknya dan membuang mayatnya ke sungai.

Hanya dia dan ibunya yang tahu bahwa mayat itu adalah Bapaknya. Ciri khas Bapaknya adalah selalu memakai gelang tasbih saat malam hari tiba hingga matahari hadir menerangi bumi.

“Jadi itu yang membuatmu ikhlas menerima pinangan Pakbos sebagai istri keduanya?,” tanya sang Ibu.

Pengantin wanita itu mengangguk.

Sejurus kemudian hadir senyuman bahagia dari wajah rupawannya.

Seolah menyiratkan sebuah kemenangan. Setidaknya dendamnya kepada sang pembunuh Bapaknya sudah terbalaskan.

Walaupun untuk itu dia harus menelan pil pahit dengan menyandang predikat sebagai janda. Ya, janda muda. (**)

Rusmin Toboali

Pengirim: Rusmin Toboali

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts