Terungkap Sebelum Dibunuh Presiden Haiti Disiksa Pelaku, Tangan dan Kaki Patah

Minggu, 18 Juli 2021
Presiden Haiti Jovenel Moise. (CHANDAN KHANNA/AFP)

Jakarta, Sumselupdate.com – Fakta memilukan terungkap dari hasil penyelidikan sementara pihak berwenang di Haiti.

Terungkap bahwa Presiden Haiti Jovenel Moise terlebih dahulu disiksa oleh para pelaku sebelum akhirnya dibunuh.

Read More

Melansir Suara.com (jaringan Sumselupdate.com) dari laman Kantor Berita Anadolu, Presiden Moise sempat disiksa di kamar tidurnya.

Sementara putrinya melarikan diri, lalu sang putra dan stafnya dibungkam secara paksa.

Pernyataan itu disampaikan Carl Henry Destin, salah satu hakim yang melakukan penyelidikan, kepada surat kabar Haiti, Le Nouveliste.

Berdasarkan hasil autopsi, Destin mengatakan Moise mengalami patah tulang di lengan dan kaki kanannya.

Kelompok yang membunuh Moise termasuk dua orang warga Amerika Serikat dan 26 orang Kolombia.

Menurut kepala Kepolisian Nasional Haitain, Leon Charles dalam konferensi pers pada Kamis.

Para pejabat mengatakan sebelumnya bahwa empat tersangka telah tewas.

Warga Amerika telah diidentifikasi sebagai Joseph Vincent dan James Solages-keduanya keturunan Haiti.

Duta Besar Haiti untuk AS Bocchit Edmond menggambarkan orang-orang itu sebagai “profesional terlatih, pembunuh, terkomando.”

Menteri Pertahanan Kolombia Diego Molano mengatakan pada hari bahwa para tersangka adalah mantan anggota tentara.

Peristiwa baru-baru ini telah menjerumuskan Haiti ke dalam krisis kepemimpinan.

Moise, 53, menjabat pada 2017 setelah memenangkan pemilu.

Setelah gagal menyelenggarakan pemilu, pihak oposisi menuntut dia mundur.

Sehari sebelum kematiannya, Moise menunjuk perdana menteri baru yang akan menjabat minggu ini.

Haiti dijadwalkan mengadakan pemilihan presiden dan legislatif pada 26 September.

Sementara itu, istri mendiang Presiden Haiti, Martina Moise akhirnya memberikan keterangan kepada media untuk pertama kalinya usai insiden pembunuhan.

Menyadur laman VOA Indonesia, menurut Martina, para pelaku menembak mati suaminya karena bertujuan “untuk membunuh mimpi, visi, ideologinya,”.

Keterangan itu merupakan pernyataan publik pertama Martina Moise sejak penembakan hari Rabu (7/7/2021) waktu setempat di pinggiran Port-au-Prince yang menyebabkan negara miskin di Karibia itu bergejolak.

Berbicara dari rumah sakit di Miami dimana dia dirawat karena luka-lukanya dalam serangan itu, Martine menceritakan rincian baru mengenai peristiwa itu.

“Dalam sekejap mata, tentara bayaran memasuki rumah saya dan menembaki suami saya dengan peluru … bahkan tanpa memberinya kesempatan untuk mengucapkan sepatah kata pun,” kata Martine dalam pernyataan audio berbahasa Kreol yang diposting ke Twitter pada hari Sabtu (10/7).

“Saya masih hidup, terima kasih kepada Tuhan,” katanya, “tapi saya mencintai suami saya Jovenel. Kami berjuang bersama selama lebih dari 25 tahun. Selama waktu itu, cinta bersinar di dalam rumah. Tapi tiba-tiba, tentara bayaran datang dan menghujani suami saya dengan peluru.

“Kamu pasti kriminal terkenal tak bernyali karena membunuh seorang presiden seperti Jovenel Moïse dengan impunitas tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara,” katanya, merujuk pada belasan orang yang ditangkap sejak serangan itu terjadi.

Separuh pelakunya adalah mantan tentara Kolombia. Polisi Haiti, yang masih memburu para tersangka lain dari kawanan beranggotakan 28 orang, mengatakan masih belum jelas siapa yang menyuruh mereka dan apa motifnya. (srs)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts