Peduli Nasib Tenaga Pendidik, ACT Sumsel Hadirkan Program Sahabat Guru Indonesia, Ini Realisasinya

Minggu, 1 Desember 2019
Komariah, guru SD Muhammadiyah 4 di Desa Saluran, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin menerima bantuan biaya hidup dari ACT Sumsel.

Banyuasin, Sumselupdate.com – Mengabdi menjadi guru terkadang bukanlah sebuah jalan mudah, terutama untuk para guru yang kondisi ekonominya terbatas.

Misalnya saja guru honorer dan guru tahfiz yang penghasilannya masih di bawah Upah Minimum Regional (UMR).

Read More

Berdasarkan Data Pokok Pendidikan Nasional (Dapodik) Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, ada 1.070.662 guru yang masih berstatus honorer dengan pendapatan di bawah UMR (rata-rata Rp300 ribu sampai dengan Rp500 ribu per bulan).

Fakta tersebut mendorong Lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT) Cabang Sumatera Selatan (Sumsel) menghadirkan program Sahabat Guru Indonesia (SGI).

Kondisi bangunan SD Muhammadiyah 4 di Desa Saluran, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Sumsel yang memprihatinkan.

 

Melalui program ini ACT ingin berkontribusi untuk memberikan kesejahteraan bagi para guru yang tingkat ekonominya menengah ke bawah.

Komariah (29) misalnya, seorang guru yang telah mengabdikan dirinya selama sembilan tahun di SD Muhammadiyah 4 di Desa Saluran, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Sumsel.

SD Muhammadiyah 4 merupakan satu-satunya sekolah yang ada di desa ini dengan jumlah murid sebanyak 25 orang, terdiri dari kelas 1 sampai dengan kelas 6, berkumpul dalam satu unit bangunan kelas.

Kondisi bangunannya pun terlihat lusuh, atap bangunan terbuat dari seng, sisi bangunan dinding pun terlihat hanya diplester semen ala kadarnya.

ACT Sumsel berkesempatan bertemu dan berbincang langsung dengan Komariah, sekaligus menyampaikan amanah bantuan dari para dermawan untuk diberikan kepadanya.

Kondisi ruang kelas SD Muhammadiyah 4 di Desa Saluran, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Sumsel yang memprihatinkan.

 

“Alhamdulillah, terima kasih untuk teman-teman dari ACT yang sudah jauh datang kemari, terima kasih untuk bantuan yang sudah diberikan untuk sekolah kami semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua,” ujar Komariah saat tim ACT mewawancarainya.

Kondisi Desa Saluran sendiri belum tersentuh aliran listrik. Sebagian masyarakat di desa tersebut menggunakan mesin genset dan sebagian lainnya memilih menggunakan lentera saat malam hari. Tak terkecuali dengan Komariah dan keluarganya.

Penghasilan dari mengajar di SD pun tak banyak, Komariah hanya mendapatkan gaji Rp500 ribu/bulan.

Namun ia tak pernah mengeluhkan hal itu, ia hanya berharap semoga seluruh anak-anak di desa Saluran mendapatkan pendidikan yang lebih baik. (rel)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts