Buku Fiksi Lebih Jadi Primadona Ketimbang Buku Pelajaran

Senin, 31 Juli 2017
Siswa SDN 51 Palembang membaca buku di perpusatakaan sekolah.

Palembang, Sumselupdate.com – Pada dasarnya semua buku pasti akan memberi pengetahuan lebih, namun fenomena bahwa remaja lebih memilih membaca fiksi, seperti novel dan komik. Hal ini menjadikan orangtua takut akan dampak buruk bagi anak.

Anak-anak sekarang terkadang suka membandingkan buku fiksi dengan buku pelajaran. Sehingga mereka enggan menyentuh buku pelajaran. Hal ini membuat buku fiksi menjadi lebih laku di pasaran dari pada buku-buku pelajaran.

Read More

Bayangkan, buku-buku fiksi hampir setiap minggu laku terjual, sedangkan buku pelajaran mungkin akan terjual disetiap pergantian semester maupun tahun ajaran baru.

Itupun tidak semuanya terjual, karena kemungkinan memiliki isi yang sama dengan terbitan sebelumnya. Sehingga mereka lebih memilih pinjam buku tahun sebelumnya dari pada membelinya, atau bahkan mereka akan mencetak ulang (fotocopy).

Sebut saja di SD Negeri 51 Palembang yang kebanyakan para siswa lebih menyukai buku fiksi, dibandingkan buku pelajaran.

Seperti yang diceritakan Jasmine, jika ditanya memilih buku di perpustakaan sekolah, sudah jelas lebih memilih buku fiksi atau buku cerita. Pasalnya di samping banyak gambar, ceritanya lebih lucu dan menarik.

“Kayak cerita legenda Malin Kundang, Timun Emas dan Cinderlela. Kalau membaca itu perasaan seperti ikut terbawa ke cerita,” tutur Jasmine saat waktu istirahat sekolah, Senin (31/7/2017).

Namun biasanya yang Ia dapat dari akhir caritas fiksi tersebut, seperti Malin Kundang dimana dahulu Ia sangat menyayangi orangtua namun setelah kaya, si Malin pun lupa kepada ibu dan akhir cerita itu dirinya menjadi sombong dan tiba-tiba dikutuk ibu nya menjadi batu.

“Inti cerita jangan suka melawan orang tua dan jangan sombong, sebab berhasil nya kita itu berkat jasa orang tua,” jelasnya.

Sementara itu, guru perpustakaan Murhayati mengatakan dari beberapa buku yang ada, kebanyakan anak-anak ini lebih menyukai cerita fiksi kayak legenda khas Indonesia. Para guru pun tidak keberatan jika mereka membaca buku tersebut.

“Asalkan itu ceritanya positif tentu masih diperbolehkan, lain halnya jika ada buku yang bercerita konten negatif atau tidak mendidik, sudah pasti buku itu akan kita tarik dan dikembalikan kepada pihak penerbit buku,” pungkasnya. (sbw)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts