Demi Bertahan Hidup, Ikut Bapak Mulung Dua Bocah Ini Tidur di Gerobak Hingga Larut Malam

Minggu, 12 Maret 2017
Linda paling bungsu tertidur lelap di gerobak saat bapaknya mencari rongsokan, Sabtu (11/3/2017) malam.

Baturaja, Sumselupdate.com – Edi (6) dan Linda (2) dua bocah ini harus merasakan kerasnya perjuangan hidup di dunia.

Bagaimana tidak dua beradik anak dari Edo (30) harus rela tidur di gerobak kayu berkukuran kurang lebih satu meter.

Read More

Setiap malam kakak beradik ini mengikuti bapaknya mencari rongsokan di beberapa tong sampah di wilayah Kota Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU).

Dengan menaiki gerobak adiknya yang bungsu tidur beralaskan kardus, berdinding alam ber-ac angin malam.

Sementara sang kakak duduk paling depan seakan mengkomandoi arah gerobak yang dikemudikan ayahnya.

Muka comel pakaian kotor  sudah jadi ciri khas kedua bocah ini.

Ini tentu bukan keinginan mereka melainkan sudah jadi resiko mereka bersentuhan bahkan tidur dengan sampah sekalipun.

Menjelang sekitar pukul 22.00, saat itu gerobak sudah mulai terisi namun belum sesuai yang diharapkan, sang bocah khususnya Linda mulai terlihat lelah.

Embusan angin malam menusuk tulang kecilnya menambah rasa kantuknya. Sang kakak masih setia menemani sang ayah bergliria mencari beberapa rongsokan.

Langkah kecil sang kakak bersama ayahnya diiringi suara gerobak menyusuri jalan di setiap sudut kota berjuluk Sebimbing Sekundang itu.

Tiga beranak yang sering menghabiskan waktu di Air Karang, Kecamatan Baturaja Timur, Kabupaten OKU, tepatnya di belakang SPBU Air Karang telah lama melakoni ini.

Diakui sang ayah bernama Edo jika tempat tinggalnya bukanlah berbentuk rumah apalagi gedung melainkan berada di samping rumah warga alias berada di lorong

“Di sana saya ngemper di dekat rumah warga tidurnya pun pakai kardus,” ucap Edo tertunduk lesu saat diwawancarai portal ini, Sabtu (11/3/2017) malam.

Aktivitas bersama anaknya sering dilakoni mulai selepas waktu magrib. Hasilnya pun diakuinya tak menentu, untuk makan saja dirinya harus berjibaku mencarinya.

“Saya mau saja menyekolahkan anak saya, tapi tidak ada uangnya mas,” tutur Edo.

Dirinya sedikit bercerita ketika portal ini mencoba menanyakan lebih jauh tentang kehidupan pribadinya hingga harus mengorbankan dua anaknya yang masih bocah itu.

Pada tahun 2000-an dirinya masih bersama istrinya menjalani hidup seperti pada umunya suami istri.

Anaknya saat itu sudah lahir, namun belum sebesar saat ini.

Hingga akhirnya  tahun 2002 dirinya ditinggalkan istrinya tanpa sebab termasuk dua anaknya harus jadi korban keegoisan sang istri.

Setelah itu dia tak pernah mendengar kabar sang istri. Tak ada sanak saudara yang ia rasakan. Asal dirinya sendiri kata dia berasal dari Kota Muara Dua, kabupaten tetangga di sana disamain tak ada saudara.

“Saya tidak ada saudara hanya sebatang kara,” urainya.

Harapan dia sendiri, terhadap  sang anak bisa menjalani hidup seperti anak pada umumnya.

Jika tengah malam ada di rumah bukan berada di jalanan, sekolah dan bisa merasakan selimut lembut tak digigit nyamuk dan suara bising kendaraan.

“Semoga saja anak saya bisa merasakan hal itu,” tutupnya dan mencoba meminta ijin untuk melanjutkan aktivitasnya seperti Baisa. (widori)

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts