80 Tempat ‘Ilegal Driling’ Ditutup

Kamis, 28 April 2016
Wakil Bupati Muratara H Devi Suhartoni

Muratara, Sumselupdate.com – Sedikitnya 80 titik tempat ileggal drilling yang dikelola secara manual ditutup. Penutupan ilegal driling di Desa Belani, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara dilakukan oleh tim terpadu yang dipimpin langsung Wakil Bupati Muratara, H Devi Suhartoni.

Pantauan di lapangan, saat tim terpadu tiba di lokasi tambang, tampak tak ada lagi aktivitas llegal driling. Walaupun tidak ada aktifitas semua sumur aktif masih dijaga oleh masyarakat. Karena diadakan mediasi dan koordinasi sehingga bisa langsung ditutup serta tanpa ada permasalahan. Tetapi sebelumnya tim terpadu sudah mengelar sosialisasi dan pendekatan persuasif terhadap sejumlah pemilik tambang ilegal itu.

Read More

“Kita sudah melakukan sosialisasi sebelum penertiban ini. Mulai hari ini (kemarin) hingga kedepan kita akan lakukan penertiban,” tegas Wakil Bupati Muratara H Devi Suhartoni, Kamis (28/4).

Dia menjelaskan penambangan ilegal ini melanggar hukum dan merusak lingkungan. Untungnya masyarakat bisa mengerti dan meninggalkan aktivitasnya itu.

“Penertiban alat ini tinggal koordinasi dengan tim teknis lapangan dan mulai hari ini (kemarin-red) hingga tiga hari kedepan kita tertibkan dengan pengawalan, sampai tidak ada lagi Ilegal driling di area ini,” katanya.

Ia mengaku ada 80 sumur tambang ditutup dan ditertibkan. Sedikitnya 250 orang yang mencari nafkah di areal tersebut untuk pengeluaran perharinya 100-150 barel minyak mentah yang dihasilkan penambangan Ilegal ini.

“Ya sekitar 250 orang yang beraktivitas melakukan tambang Ilegal tersebut, “bebernya.

Ditempat yang sama, Kadistamben H Al Firmansyah Karim, menegaskan secara teknis harus melakukan beberapa hal yaitu penertiban secara bersih, seluruh alat tambang. Dalam artian tidak boleh ada lagi yang tersisa dan seluruh kegiatan pertambangan.

“Sumur yang ada harus ditutup secara permanen. Supaya kegiatan itu tidak terulang lagi karena merusak lingkungan hidup,” jelasnya.

Menurutnya, pihaknya akan berkerja sama dengan PT Seleraya Merangin Dua dan dibantu aparat kepolisian, Satpol-PP dan TNI untuk melakukan pembersihan secara menyeluruh. “Kita tutup total, supaya tidak ada lagi llegal driling,”tegasnya

Sementara itu, seorang penjaga tambang, Arul, menjelaskan tambang yang ada kurang efektif dan itu hanya pelarian pencarian perekonomian masyarakat. Buktinya baru 5 bulan beraktivitas belum menuai hasil yang maksimal.

“Jika harga karet dan sawit stabil maka tidak mungkin masyarakat akan melakukannya. Karena hasil bekerja ditambang itu,perhari hanya Rp70 ribu hanya untuk mencari nafkah,” akunya. (ain)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts