Baturaja,Sumselupdate.com – Harga getah karet di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) yang semakin hari kian anjlok, membuat buruh dan petani semakin menjerit.
Terpuruknya ekonomi buruh dan petani karet semakin terasa setelah harga pangan dan sandang, merangkak naik.
“Bagaimana kami mau makan, harga beras lebih mahal dibanding karet. Kami (buruh sadap karet –red) tak mampu membeli beras untuk kebutuhan tiga kali makan sehari,” ungkap Em, buruh sadap karet, warga unit XVI, Kecamatan Sinar Peninjauan, OKU kepada Sumselupdate.com, Sabtu (6/5/2017).
Em mengaku, para buruh sadap karet hanya dapat makan nasi sekali sehari. Nasi tersebut sekadar pengganjal perut dan hanya dinikmati di malam hari.
Tak pelak, tiwul saat ini menjadi alternatif makanan pokok pengganti nasi yang dibuat dari ketela pohon atau singkong.
“Pagi dan siang kami makan tiwul, malam hari baru nasi,” imbuhnya.
Dikatakan dia, turunnya harga karet juga berdampak pada pendapatan. Pasalnya, pendapatan buruh sadap karet tergantung dari banyaknya karet yang disadap serta harga karet.
“Sekarang harga karet Rp6.500 kilogram. Keadaan ini semakin parah sebab intensitas hujan tinggi akibatnya kami ndak bisa nyadap,” ucapnya dengan nada getir.
Terkait semakin terpuruknya ekonomi buruh dan petani karet, alumni GMNI Sumsel, Supono, SE mengharapkan adanya regulasi dari Pemerintah Provinsi Sumsel terkait operasional di pabrik-pabrik di Palembang, yang saat ini masih dikuasai mafia penjualan.
“Pemerintah melakukan test tera di pabrik–pabrik. Karena, cara timbang pabrik terindikasi penuh dengan ketidaknormalan alat timbang,” ucap Supono.
Supono juga meminta pihak perbankan di OKU memberikan kebijakan kredit ringan terkait tanggungan masyarakat petani karet dengan pihak bank.
“Jangan dipaksakan kalau harga karet turun sehingga masyarakat tidak harus mengorbankan kebutuhan makannya,” ucap dia. (wid)











