New York, Sumselupdate.com – Tingkat utang Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan terus meningkat seiring perpecahan politik dan melonjaknya biaya jaminan sosial yang menyulitkan upaya pengendalian defisit anggaran. Peringatan tersebut disampaikan sejumlah pakar dalam diskusi ekonomi global yang digelar Rabu (7/1/2026).
Dalam panel yang diselenggarakan lembaga pemikir Council on Foreign Relations, para panelis menilai AS tengah menghadapi tekanan fiskal jangka panjang, meskipun kinerja ekonomi jangka pendek masih tergolong solid.
Chief Investment Officer Bridgewater Associates, Karen Karniol-Tambour, mengatakan tidak ada batas utang tertentu yang secara otomatis memicu gejolak pasar. Namun, ia mengingatkan bahwa pengelolaan utang akan semakin sulit ketika pertumbuhan ekonomi dan produktivitas melemah.
“Tidak ada angka ajaib di mana investor tiba-tiba berhenti membeli,” ujarnya. Menurut dia, perlambatan pertumbuhan dapat meningkatkan beban utang meski tanpa tambahan belanja baru. Selain itu, kebutuhan pendanaan di sektor pertahanan, infrastruktur, serta pengembangan kecerdasan buatan turut menambah tekanan terhadap keuangan negara.
Sementara itu, Profesor Hukum Universitas Yale, Natasha Sarin, memperkirakan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) AS berpotensi mendekati 140 persen dengan asumsi yang lebih realistis. Kenaikan belanja program jaminan sosial serta ketidakpastian proyeksi pendapatan menjadi faktor utama.
“Kita sedang menuju krisis jaminan sosial,” kata Sarin. Ia menyebut dana perwalian yang menopang program-program sosial utama diperkirakan akan habis pada awal dekade 2030-an. Menurutnya, dukungan politik untuk pengurangan defisit saat ini relatif terbatas, berbeda dengan era 1990-an ketika AS sempat mencatat surplus anggaran.
Di sisi lain, Kepala Ekonom Goldman Sachs, Jan Hatzius, menilai AS masih memiliki kapasitas fiskal yang lebih besar dibandingkan banyak negara maju lainnya. Namun, ia mengingatkan bahwa tren demografis dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan akan menyulitkan penyesuaian fiskal dalam jangka panjang.
(**)











