Tipu-Tipu Proyek Sebesar Rp19 Miliar, Oknum ASN Kelurahan Divonis 3,3 Tahun Penjara

Proses persidangan.

Palembang, Sumselupdate.com – Majelis Hakim yang diketuai Hakim H Sahlan Effendi, SH, MH, menjatuhkan pidana penjara 3 tahun 3 bulan penjara terhadap terdakwa Nyimas Aziza oknum ASN kelurahan 2 ulu Palembang.

Majelis Hakim menyatakan terdakwa Nyimas Aziza terbukti melakukan perbuatan penipuan sebagai mana diatur dalam Pasal 372 dan 378 KUHP.

Bacaan Lainnya

“Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa Nyimas Aziza dengan pidana penjara selama 3 tahun 3 bulan penjara,” kata Majelis, di PN Palembang, Kamis (8/12/2022).

Sedangkan hal-hal yang meringankan terdakwa berterus terang dan belum pernah dihukum.

Usai mendengarkan putusan Majelis Hakim, terdakwa melalui kuasa hukumnya Agung Wijaya, SH, MH, mengatakan menerima vonis dari Majelis Hakim. “Menerima yang mulia,” kata kuasa hukum terdakwa.

Diberitakan sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Palembang, menuntut 3 tahun 6 bulan penjara terdakwa Nyimas Aziza oknum ASN di Palembang.

Terdakwa dituntut terkait kasus dugaan penipuan renovasi venue dayung, venue sepatu roda dan venue panjat tebing yang berada di komplek JSC dengan nilai proyek Rp19.500.000.000.

JPU menyatakan terdakwa Nyimas Aziza terbukti melakukan perbuatan penipuan sebagai mana diatur dalam Pasal 372 dan 378 KUHP

“Menuntut terdakwa Nyimas Aziza dengan pidana penjara selama 3 tahun 3 bulan penjara,” kata JPU Satrio Dwi Putra SH, secara virtual di PN Palembang, Kamis (24/11/2022).

Sedangkan hal-hal yang meringankan, terdakwa berterus terang dan belum pernah dihukum.

Sebelumnya dalam sidang JPU Kejari Palembang, menghadirkan langsung dua saksi Herianto (Korban) dan saksi Bujang Zainal, di hadapan Majelis Hakim yang diketuai Sahlan Efendi SH MH, di PN Palembang, Kamis (10/11/2022).

Dalam sidang saksi korban Herianto menjelaskan bahwa dirinya dijanjikan oleh terdakwa Nyimas Aziza proyek senilai Rp19 miliar dengan ketentuan harus menyetorkan uang muka terlebih dahulu sebesar Rp 750 juta.

“Terdakwa Nyimas Aziza mengaku punya proyek senilai Rp 19 miliar dan menawarkan ke saya. Karena saya tertarik dengan proyek itu kemudian terdakwa meminta untuk menyerahkan uang muka sebesar Rp 750 juta. Lalu saya memberikan sebagai tanda jadi sebesar Rp 75 juta terlebih dahulu meminta waktu kepada terdakwa untuk melengkapi uang tersebut, kemudian saya serahkan lagi uang sebesar Rp 175 juta, kemudian Rp 450 juta dan terakhir Rp 25 juta, sehingga total keseluruhan Rp 750 juta yang mulia,” ungkap Herianto di hadapan majelis hakim.

Mendengar keterangan saksi korban Herianto, lantas hakim ketua bertanya apakah setelah menyerahkan uang sebesar Rp 750 tersebut saksi mendapatkan proyek yang dijanjikan terdakwa.

“Tidak yang mulia, setelah saya tunggu-tunggu dan akhirnya saya cek ke Dinas PU Perkim ternyata proyek itu tidak ada dan merasa tertipu, akhirnya saya melaporkan terdakwa ke pihak kepolisian,” ujarnya.

Setelah mendengarkan keterangan dari saksi tersebut, hakim ketua lalu mengingatkan kepada Herianto tentang pasal 11 dan 12 tentang tindak pidana korupsi.

“Saudara Herianto tau tidak tentang Pasal 11 dan 12 bahwa pemberi dan penerima sama-sama bisa masuk penjara. Tahu tidak perbuatan saudara ingin mendapatkan proyek dengan cara yang salah,” tegas hakim ketua kepada saksi Herianto.

Kemudian hakim ketua kembali mengatakan kepada saksi Herianto bahwa jangan pernah main-main dengan proyek pemerintah

“Jangan ngucak-ngucak (main-main) proyek pemerintah, hati-hati Pak! Lah habis duit masuk penjara pula,” tutupnya. (ron)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.