Muaraenim, Sumselupdate.com — Ancaman hukuman 20 tahun penjara kini membayangi F, mantan Kepala Desa (Kades) Darmo Kasih, Kecamatan Belimbing, Kabupaten Muaraenim.
Ia resmi ditahan oleh Sat Reskrim Polres Muaraenim setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi pengelolaan keuangan desa periode 2017-2021.
Kapolres Muaraenim AKBP Jhoni Eka Putra mellaui Kasat Reskrim Polres Muaraenim AKP Yogie Sugama Hasyim didampingi Kasi Humas Polres Muaraenim AKP RTM. Situmorang, serta turut hadir Kapolsek Rambang Dangku Iptu Edward Habibi dan para Kanit Satreskrim Polres Muaraenim menjelaskan bahwa tersangka berinisial F, yang merupakan mantan Kepala Desa Darmo Kasih periode 2015–2021.
“Kita berhasil mengamankan seorang tersangka berinisial F mantan Kades Darmo Kasih Kecamatan Belimbing periode 2015-2021. Dimana, tersangka F diduga telah menyalahgunakan kewenangan dalam pengelolaan keuangan desa selama beberapa tahun anggaran,” ungkap Kasat, Kamis (09/10/2025) dalam siaran persnya.
Ditambahkan, Kasat berdasarkan hasil penyelidikan dan audit dari Inspektorat Kabupaten Muaraenim, ditemukan adanya kerugian keuangan negara sebesar Rp342.131.120,08.
“Tersangka F ditangkap di rumahnya di Desa Darmo Kasih, Kecamatan Belimbing, setelah dua kali tidak memenuhi panggilan penyidik tanpa alasan yang jelas. Penangkapan dilakukan berdasarkan Surat Perintah Penangkapan Nomor: SP.Kap/76/VII/2025/Satreskrim tanggal 31 Juli 2025, dan yang bersangkutan telah menjalani masa penahanan selama 70 hari sejak 1 Agustus 2025. Hingga kini, penyidik masih melengkapi berkas perkara untuk segera dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Muaraenim,” terangnya.
Dalam penyidikan, Kasat mengatakan polisi telah memeriksa 25 orang saksi, terdiri dari mantan perangkat desa, perangkat aktif, anggota BPD, camat, hingga pejabat Dinas PMD Muaraenim. Selain itu, ada 4 orang ahli yang turut dimintai keterangan, yakni ahli pidana, ahli dari Kementerian Dalam Negeri, ahli Inspektorat Muaraenim dan ahli konstruksi.
“Dari hasil penyidikan, diketahui modus yang dilakukan tersangka yaitu mengelola keuangan desa secara sepihak tanpa melibatkan perangkat pengelola keuangan desa seperti kaur keuangan, sekretaris desa, dan pelaksana teknis lainnya. Akibatnya, sejumlah kegiatan pembangunan dan pengadaan barang/jasa yang tercantum dalam APBDes tidak dilaksanakan seluruhnya, sebagian fiktif, dan sebagian lagi tidak sesuai spesifikasi. Bahkan, dana pajak yang sudah dipungut tidak disetorkan ke kas negara dan digunakan untuk kepentingan pribadi, termasuk pembelian 1 unit sepeda motor Honda Beat BG 2994 DAF warna merah tahun 2017 yang kini telah disita sebagai barang bukti,” bebernya.
Selain itu, dikatakan Kasat penyidik juga telah menyita sejumlah dokumen penting dan laporan pertanggungjawaban (SPJ) dari tahun 2017 hingga 2021, termasuk peraturan desa, laporan realisasi Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD), rekening koran kas desa, bukti setor pajak, serta bukti pengembalian dana ke rekening kas desa. Barang bukti tersebut diperoleh berdasarkan tiga surat perintah penyitaan yang diterbitkan Satreskrim Polres Muaraenim pada Desember 2024 hingga Juli 2025.
“Atas perbuatannya, tersangka F dijerat Pasal 2 ayat (1) Jo Pasal 18 ayat (1) huruf b UU RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Jo Pasal 64 KUHP (primer), dan Pasal 3 Jo Pasal 18 ayat (1) huruf b UU yang sama (subsider), dengan ancaman pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 tahun serta denda maksimal Rp1 miliar,”tegasnya.
Lebih lanjut, Kasat Reskrim AKP Yogie Sugama Hasyim menegaskan bahwa Polres Muaraenim berkomitmen menindak tegas setiap bentuk penyalahgunaan keuangan desa yang merugikan masyarakat.
“Pengelolaan dana desa harus transparan dan akuntabel. Kami mengimbau seluruh kepala desa agar berhati-hati dan menjunjung tinggi amanah masyarakat dalam mengelola anggaran desa,”tuturnya.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Muaraenim AKP RTM. Situmorang menambahkan, pengungkapan kasus ini merupakan bukti keseriusan Polres Muaraenim dalam mendukung program pemerintah memberantas korupsi di tingkat desa.
“Kami berharap kasus ini menjadi pembelajaran bagi seluruh perangkat desa agar lebih tertib dalam pengelolaan keuangan, karena setiap rupiah dana desa adalah uang rakyat yang harus dipertanggungjawabkan,” pungkasnya.(**)











