Palembang, Sumselupdate.com – Pani Saputra, seorang mahasiswa di Kota Palembang tak akan lupa dengan peristiwa yang membuatnya trauma pada malam kekalahan timnas Indonesia yang dihajar Jepang dengan skor 6-0.
Pada Selasa malam (10/6/2025) saat Indonesia kalah melawan Jepang, Pani Saputra mendapatkan pengalaman kelam, dia dihajar habis habisan bahkan ponselnya dirampas oleh sekelompok orang yang dia tak kenal.
Kepalanya robek, dia membuat laporan ke Polsek Sukarami dengan pelipisnya mendapat beberapa jahitan yang diduga hantaman benda tumpul.
Berawal dari peristiwa itu, Tim Opsnal Unit 3 Jatanras Polda Sumsel melakukan penyelidikan dan mengumpulkan barang bukti di TKP yang berada di Jalan Perjuangan, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami Palembang.
Dari situ petugas mengamankan rekaman CCTV dari ruko yang ada di TKP, kemudian mengarahkan petugas menangkap 6 pemuda yang diduga terlibat pada penganiayaan itu, Senin (4/8/2025).
Ke-6 pemuda yang diamankan itu, dipaksa berjalan jongkok dengan tangan terborgol saat keluar dari mobil Tim Opsnal Unit 3 Subdit Jatanras Polda Sumsel.
Para pelaku dugaan penganiayaan itu erjalan jongkok menuju ruang pemeriksaan Penyidik yang menangani perkara penganiayaan dan perampasan ponsel yang dialami Pani Saputra.
Sebetulnya, terdapat 4 orang lagi yang belum tertangkap meski polisi juga telah menyantroni beberapa titik yang diduga menjadi tempat persembunyian.
Sementara dari 6 pelaku yang ditangkap, 3 di antaranya merupakan kurir paket. Mereka ditangkap saat hendak menyetorkan uang COD di kantornya yang berada di Jalan Irigasi, Kelurahan Siring Agung, Ilir Barat 1, pada Senin (4/8/2025).
Ke-3 kurir ekspedisi yang dibekuk itu adalah Candra (20), Aldi (20), dan Dandi (26). Dari ketiga pelaku ini polisi menjadi mereka kompas untuk mengejar pelaku lainnya.
Alhasil petugas menangkap Aldino (19) Rahmat (21) dan Irwani (27) ketiganya ditangkap pada lokasi yang berbeda-beda oleh tim opsnal sunyi senyap julukan Opsnal Unit 3 Jatanras Polda Sumsel pada hari yang sama.
Setelah ke-6-nya diamankan, barulah terungkap kronologis peristiwa penganiayaan yang dialami oleh korban.
Salah satu pelaku Candra bercerita penganiayaan itu berawal dari kekalahan Timnas Sepak bola Indonesia pada babak kualifikasi Piala dunia menghadapi Timnas Jepang.
Candra mengaku dia bersama ke-9 rekannya itu merupakan satu perkumpulan penggemar sepakbola di Kota Palembang.
Di mana saat pertandingan babak kualifikasi terakhir, Timnas Indonesia itu, kelompok mereka mengadakan nonton bareng di salah satu kafe di Kota Palembang.
”Kami habis nobar Indonesia kalah malam itu, jadi setelah nonton kami konvoi dan sempat beli Atlas (merek salah satu minuman beralkohol) kami minum di taman Polda,” ucap Candra dengan tangan terborgol saat diintrogasi langsung oleh AKP Irwan Sidik Kanit 3 Jatanras Polda Sumsel, Senin (4/8).
Candra mengungkapkan saat konvoi kelompoknya berpapasan dengan kelompok lain yang semula saling sorak berakhir kejar kejaran hingga ke TKP Pani Saputra dikroyok habis-habisan.
Alasan semula kelompok Candra menganiaya Pani Saputra, lantaran mengira korban merupakan bagian dari kelompok yang dikejar mereka.
Padahal saat itu, Pani Saputra melintas di TKP sesuai pulang nge-gym dan hendak mencari makanan sebelum pulang ke rumahnya.
Namun bukannya pecel lele atau nasi goreng yang disantap Pani Saputra di malam itu, meski lengan berotot, dia justru mendapat santapan bogem mentah dan tendangan keras dari 10 orang terduga pelaku yang tak dikenalnya.
Meski tak ingat persis peran dari rekannya, Candra membenarkan salah satu rekannya mengayunkan botol alkohol ke arah kepala Pani yang seketika membuatnya tersungkur jatuh dari sepeda motornya.
Hantaman botol Atlas yang dibelinya di Jalan Sudirman tak jauh dari Taman Makam Pahalawan itulah yang membuat Pani Saputra terpaksa mendapatkan jaitan di pelipisnya.
”Kami kira dia itu kelompok yang kami kejar, kalau saya cuman ngerampas hape-nya. tapi saya lihat semuanya mukul dan juga nendang,” ucap Candra berulang kali menunduk saat penyidik memelototi.
Usai menganiaya Pani Saputra, kelompok pelaku itu kabur meninggalkan TKP tanpa rasa sesal dan justru bangga.
Mereka juga diduga sempat berupaya merampas motor korban meski tak berhasil, sebab Pani juga berupaya sekuat tenaga mempertahankan motornya.
Candra mengakui perannya yang merampas ponsel korban, namun yang menjual adalah Aldino kepada sepupunya seharga Rp600 ribu.
”Saya jual ke sepupu Pak Rp600 ribu kebetulan dia memang lagi cari HP. Uuangnya kami pakai juga buat beli minuman lagi,” ucap Dino menyambar pertanyaan penyidik.
Sementara saat dicecar di mana keberadaan 4 rekannya yang buronan, ke-6 tersangka itu mengaku tak tahu kabar keberadaannya.
“Pelaku lainnya masih kami buru. Tidak ada ruang bagi pelaku kejahatan jalanan di Sumatera Selatan!” tegas Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya, SIK, MH, Kabid Humas Polda Sumsel saat dikonfirmasi Selasa (5/8/2025).
(**)











